Pemerintah Rwanda mengumumkan rencana pengoperasian Daya nuklir pada awal Sepuluh tahun 2030 dalam Konferensi Tingkat Tinggi Ciptaan Daya Nuklir Demi Afrika (NEISA) di Kigali, Rwanda, pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Langkah besar ini diambil setelah negara tersebut Formal menyelesaikan Tinjauan Infrastruktur Nuklir Terintegrasi Fase 1 dari Badan Daya Atom Dunia (IAEA).
Laporan final diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi kepada Presiden Rwanda Paul Kagame, diikuti penandatanganan kerja sama reaktor modular kecil (SMR) dengan Menteri Infrastruktur Rwanda Jimmy Gasore.
Otoritas Rwanda memproyeksikan pembangkit listrik tenaga nuklir ini Pandai menyuplai lebih dari 60 persen dari total bauran listrik nasional pada tahun 2050 mendatang.
Dalam rangka mematangkan proyek tersebut, pemerintah setempat gencar menjalin kemitraan multi-lateral melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Rusia, Amerika Perkumpulan, serta korporasi asal Afrika Selatan dan Austria.
Juru bicara pemerintah Rwanda, Yolande Makolo, memaparkan bahwa studi kelayakan Begitu ini tengah berjalan Demi fasilitas berbasis SMR serta Pusat Sains dan Teknologi Nuklir.
Fasilitas pusat sains tersebut dirancang Demi mengakomodasi reaktor penelitian, laboratorium Spesifik, pusat pelatihan, hingga infrastruktur kedokteran nuklir.
“In addition to Russian company Rosatom, Rwanda also signed MoUs with the US government on civil nuclear cooperation, as well as agreements with firms from South Africa and Austria,” kata Yolande Makolo, Juru Bicara Pemerintah Rwanda kepada Al Jazeera.
Presiden Paul Kagame menegaskan pasokan Daya yang Kukuh menjadi fondasi krusial bagi pertumbuhan sektor industri dan daya saing ekonomi di seluruh kawasan Afrika.
“The strong participation at the summit this year reflects a growing consensus that the future of our economies depends on how quickly we solve the energy challenge.” kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Ia mengonfirmasi hasil penilaian komprehensif dari IAEA menunjukkan program nuklir nasional Rwanda tetap berjalan sesuai dengan garis waktu yang telah ditetapkan.
“Rwanda is pleased to have successfully completed the IAEA’s Phase 1 Integrated Nuclear Infrastructure Review. We intend to have nuclear energy operational by the early 2030s, and this assessment confirms that we are on track.” tutur Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Menurutnya, sektor manufaktur modern, pemrosesan mineral, infrastruktur digital, hingga layanan kesehatan mutakhir sangat bergantung pada keandalan pasokan listrik.
“For Africa, energy is not simply a development issue. It is the foundation of industrial growth, and competitiveness. Modern manufacturing, mineral processing, digital infrastructure, and advanced healthcare all depend on reliable power. The rapid expansion of artificial intelligence and data-driven industries will also significantly increase energy consumption.” ucap Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Kagame mengingatkan bahwa negara-negara yang Enggak Pandai memenuhi lonjakan permintaan Daya ini akan menghadapi hambatan besar Demi Bertanding di pasar Mendunia.
“Countries that cannot meet this demand will struggle to compete. This is why Rwanda considers nuclear energy a critical component of Africa’s long-term transformation.” ujar Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Dirinya menilai implementasi teknologi reaktor modular kecil menjadi opsi paling praktis yang dapat diterapkan secara bertahap pada jaringan listrik di Afrika.
“As more countries move in this direction, international reviews and regulatory processes should not become barriers, but instead offer the necessary support. For Rwanda, small modular reactors represent the most practical way forward.” papar Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Meskipun potensi Daya terbarukan melimpah, Kagame menyebut kestabilan ekonomi Enggak dapat bertumpu sepenuhnya pada pasokan Daya yang sifatnya intermiten.
“They are better suited to the realities of most African countries, because they can be deployed gradually, and integrated into smaller grids at a lower cost. Renewable energy will remain indispensable, particularly solar and hydro, where Africa has enormous potential.” sebut Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Tantangan Penting yang dihadapi Distrik Afrika Begitu ini adalah keraguan para investor Mendunia yang dipicu oleh tingginya persepsi risiko investasi.
“But our economies cannot function efficiently on intermittent supply alone. At the centre of this endeavour, is the question of investment. Too often, investors hesitate because they perceive many risks in Africa. We must work to strengthen regulation, ensure consistency and accountability in order to build confidence and attract long-term capital.” kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Ia mengamati adanya pergeseran positif pada lanskap pendanaan Dunia yang kini mulai mengakui urgensi nuklir dalam transisi Daya Rapi.
“The international financing environment is also evolving. Nuclear energy is increasingly recognised as part of the clean energy transition and that creates new opportunities.” lanjut Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Kagame mengimbau pentingnya integrasi regional agar proses pembangunan infrastruktur Daya Enggak berjalan Pelan dan berbiaya tinggi akibat fragmentasi.
“What Africa cannot afford is fragmentation. If countries work in isolation, progress will be slow and far more costly. Cooperation on regulation, financing, and regional power integration is essential. This is precisely why NEISA matters.” tegas Paul Kagame, Presiden Rwanda.
KTT ini diproyeksikan membawa pergeseran Pusat perhatian Percakapan dari sekadar ambisi menuju koordinasi praktis serta penyediaan mekanisme pendanaan skala besar.
“We are moving the conversation beyond ambition to practical coordination, and financing mechanisms that can sustain deployment at scale. Rwanda will continue supporting these efforts, because this is larger than any one country.” kata Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Kagame mengakhiri pemaparannya dengan menggarisbawahi bonus demografi besar yang akan dimiliki Afrika pada pertengahan abad ke-21.
“By 2050, Africa will have the largest workforce in the world. 7/7 That demographic shift can become one of the greatest economic advantages of this century, if we prepare for it. In this regard, we are delighted that Togo will host the next NEISA, and carry forward this continental momentum.” pungkas Paul Kagame, Presiden Rwanda.
Pertemuan tingkat tinggi ini juga dihadiri oleh Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan dan Presiden Togo Faure Gnassingbé guna membahas integrasi infrastruktur Daya regional.
“Africa’s economic transformation depends on reliable, affordable and sustainable energy systems, particularly as demand rises from digital infrastructure, manufacturing and mining sectors requiring stable baseload power.” kata Samia Suluhu Hassan, Presiden Tanzania.
Presiden Togo turut menyampaikan pandangannya mengenai penerimaan institusi keuangan Mendunia terhadap Ciptaan teknologi reaktor nuklir terbaru Begitu ini.
“Small modular reactors and micro reactors are no longer a distant prospect for Africa, noting that international financial institutions and Mendunia climate forums are increasingly recognising nuclear energy as part of the clean energy transition.” kata Faure Gnassingbé, Presiden Togo.
Agenda pengembangan program nuklir Rwanda ini juga ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Badan Daya Nuklir (NEA) OECD, William D. Magwood, IV, yang melakukan kunjungan Formal ke negara tersebut.
