Meskipun Indonesia Formal diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas (Upper-Middle Income Country/UMIC) oleh Bank Dunia, gegap gempita perayaan ini terasa hambar di akar rumput.
Berbagai indikator sosial dan ekonomi Bahkan menunjukkan realitas yang bertolak belakang. Ironisnya, status mentereng tersebut Kagak mencerminkan lompatan kesejahteraan, melainkan mempertegas betapa Indonesia Bahkan menjadi “murid paling tertinggal” di kelasnya sendiri.
Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia memang masuk dalam jajaran negara berpendapatan menengah atas dengan GNI per kapita Sekeliling US$ 4.910. Tetapi, mari kita buka topeng statistik ini.
Di kelas yang sama, posisi Indonesia sangat mengenaskan Apabila dibandingkan dengan tetangga dekat. Pendapatan per kapita kita jauh di Rendah Thailand (US$ 7.120), dan Nyaris Kagak Eksis apa-apanya Apabila disandingkan dengan Malaysia (US$ 11.670) yang menikmati pendapatan Nyaris dua Separuh kali lipat lebih tinggi. Kita bangga naik kelas, padahal kita hanyalah murid dengan nilai pas-pasan yang duduk di bangku paling belakang.
Ilusi kemakmuran ini langsung hancur berantakan Begitu kita menggunakan kacamata Dunia. Standar Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan Buat negara kelas UMIC adalah US$ 8,30 PPP per kapita per hari.
Apabila indikator jujur ini digunakan, tingkat kemiskinan Indonesia melonjak drastis hingga 68,3% pada tahun 2025—setara dengan Nyaris 195 juta jiwa. Nomor ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk miskin tertinggi kedua di dunia dalam kategorinya. Bandingkan dengan Malaysia yang hanya 1,3% atau Thailand yang berada di Nomor 7,1%. Status kita boleh saja elit, tetapi isi dompet mayoritas warganya Lagi menjerit.
Alih-alih memperkuat fondasi ekonomi, Indonesia Bahkan menghadapi fenomena mengkhawatirkan: penyusutan kelas menengah. Data menunjukkan Golongan penyangga ekonomi ini Maju terkikis, dari 52,3 juta jiwa pada 2016 menjadi hanya 46,7 juta jiwa pada 2025. Ke mana mereka pergi? Mereka turun kasta menjadi Golongan “aspiring middle class” (menuju kelas rentan miskin) yang jumlahnya membengkak hingga 142 juta orang—separuh dari total populasi kita.
Golongan ini adalah Golongan Renyah; mereka punya pekerjaan, tetapi tabungan mereka tipis. Mereka hanya berjarak satu kali PHK, satu kali tagihan rumah sakit, atau satu kali kenaikan UKT dari kemiskinan ekstrem.
Ketertinggalan ini diperparah oleh dua indikator krusial yang jarang disorot dalam pidato keberhasilan pemerintah:
– Rapor Merah Pendidikan (PISA): Sebuah negara berpendapatan menengah atas idealnya Mempunyai kualitas SDM yang siap Bertanding secara Dunia. Sayangnya, skor PISA (Program for International Student Assessment) Indonesia secara konsisten berada di papan Rendah Dunia, kalah telak dari Malaysia dan Thailand. Bagaimana kita mau menggerakkan industri teknologi tinggi Apabila kemampuan literasi dan matematika anak-anak kita Lagi setara dengan negara-negara berpendapatan rendah?
– Krisis Kemampuan Pajak (Tax Ratio): Sebagai negara UMIC, rasio penerimaan pajak terhadap PDB Indonesia sangat memprihatinkan, terjebak di kisaran 10%. Nomor ini jauh di Rendah rata-rata negara berpendapatan menengah atas yang biasanya mencapai 15%–20%. Akibatnya, pemerintah Kagak Mempunyai modal yang cukup Buat membangun jaring pengaman sosial yang kuat atau mendanai riset. Kita bertingkah seperti orang kaya, tetapi kemampuan mengumpulkan modal domestik kita menyerupai negara miskin.
Kesenjangan antara status formal di atas kertas dengan realitas di lapangan adalah bukti Konkret dari “middle-income trap” yang akut. Indonesia telah “dipaksa” naik kelas secara statistik, Tetapi kaki dan badannya Lagi tertinggal jauh di lumpur kemiskinan dan rendahnya produktivitas.
Tetapi tentu saja, kita Kagak perlu terlalu ambil pusing dengan data-data di atas. Mari kita tetap menepuk dada dengan bangga atas status kita sebagai “Negara Berpendapatan Menengah Atas” ini. Bukankah sangat prestisius ketika kita Pandai kelaparan dan cemas memikirkan harga beras besok pagi, Tetapi diperlakukan dengan status keren sebagai Anggota negara kelas menengah atas dunia?
Setidaknya, Begitu kelas menengah kita berbondong-bondong turun kelas menjadi kaum rentan, mereka Pandai menghibur diri dengan sertifikat Dunia dari Bank Dunia yang menyatakan bahwa mereka “secara administratif” sudah makmur. Siapa Paham, Arsip status UMIC itu Pandai digadaikan ke warung kelontong Buat menukar segelas kopi dan mie instan Begitu Rontok Uzur tiba. Sungguh sebuah ilusi kolektif yang mewah dan mengagumkan. []
* Penulis adalah pengamat sosial politikj
