Xi Jinping Peringatkan Akibat Jelek Operasi Militer di Timur Tengah

Presiden China Xi Jinping memberikan peringatan keras terhadap potensi dimulainya kembali operasi militer di Timur Tengah Ketika memulai pembicaraan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada Rabu (20/5), seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Pertemuan tingkat tinggi di Great Hall of the People ini dilakukan di tengah meluasnya konflik kawasan akibat pengeboman Amerika Perkumpulan dan Israel ke Iran, serta ancaman serangan baru dari Presiden AS Donald Trump.

Kedua pemimpin negara penyokong Penting Iran ini membahas urgensi penghentian kekerasan, di mana Xi Jinping menegaskan sikap menolak eskalasi bersenjata lebih lanjut demi menjaga stabilitas keamanan Dunia.

“Gencatan senjata yang komprehensif adalah hal yang mutlak, memulai kembali perang jauh lebih Tak dapat diterima, dan mematuhi jalur negosiasi adalah hal yang sangat Krusial,” tegas Xi Jinping, Presiden China.

Rekanan bilateral China dan Rusia Ketika ini berada dalam fase penguatan koordinasi strategis jangka panjang, terutama Buat membangun sistem tata kelola Dunia yang dinilai lebih adil di tengah Dominasi sepihak.

“China dan Rusia harus Pusat perhatian pada strategi jangka panjang dan mendorong pembangunan serta kebangkitan negara masing-masing,” kata Xi Jinping, Presiden China.

Sebelum melangsungkan Percakapan, Xi Jinping menyambut kedatangan Putin dengan upacara kenegaraan penuh di Lapangan Tiananmen yang diiringi oleh dentuman meriam penghormatan sebanyak 21 kali.

Presiden Rusia menyampaikan bahwa kemitraan strategis dengan China sangat dibutuhkan dalam situasi Dunia yang penuh ketegangan, selain menegaskan peran negaranya sebagai pemasok Kekuatan yang andal.

“Dalam situasi Dunia yang penuh ketegangan Ketika ini, kerja sama erat kita sangat dibutuhkan,” ujar Vladimir Putin, Presiden Rusia.

Kunjungan Formal ke-25 Putin ke China ini bertepatan dengan peringatan 25 tahun perjanjian persahabatan kedua negara, sekaligus menjadi momentum negosiasi proyek pipa gas Power of Siberia 2.

Delegasi Rusia yang terdiri dari pejabat tinggi serta pimpinan perusahaan besar berharap gejolak Kekuatan akibat penutupan Selat Hormuz dapat melunakkan posisi China dalam kesepakatan harga gas.

Rusia kini sangat bergantung pada jalur perdagangan dengan China Buat menopang ekonominya dari Hukuman Barat terkait invasi ke Ukraina yang telah memasuki tahun kelima.

Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyatakan bahwa agenda informal seperti minum teh Berbarengan menjadi salah satu bagian krusial bagi interaksi kedua pemimpin di Beijing.

“Kami, seperti rekan-rekan China kami, berharap pertemuan minum teh ini berlangsung selama mungkin,” ujar Yuri Ushakov, Ajudan Kebijakan Luar Negeri Kremlin.

Meskipun mendukung Rusia secara ekonomi, China tetap berhati-hati agar Tak terikat langsung dengan risiko perang di Ukraina demi menjaga citranya sebagai kekuatan penstabil Dunia.

Pihak Amerika Perkumpulan sendiri Maju berupaya memisahkan kemitraan strategis Moskow dan Beijing, Tetapi Rusia dinilai Tak Mempunyai Dalih kuat Buat menjauh dari sekutu utamanya tersebut.

“Putin Tak akan Bisa melanjutkan perang di Ukraina tanpa dukungan sistematis yang diberikan China kepada mesin perang Rusia,” kata Henrietta Levin, Analis Geopolitik.

“Di Beijing, kita Bisa memperkirakan Putin akan mencari dukungan material yang lebih besar Buat militer Rusia dan Sokongan lebih lanjut dari lembaga keuangan China guna menghindari Hukuman AS dan Eropa,” tambah Henrietta Levin, Analis Geopolitik.

Di sisi lain, kedatangan Putin pasca-pertemuan Xi Jinping dengan Donald Trump pekan Lewat memperlihatkan dinamika segitiga strategis yang ketat antara poros Washington, Beijing, dan Moskow.

“Putin akan datang ke pertemuan dengan Xi dengan perasaan cukup nyaman terkait kunjungan Trump ke Beijing,” kata Dennis Wilder, Pengamat Politik Dunia.

“Tetapi demikian, Putin tentu Mau memastikan bahwa setiap perbaikan Rekanan China dengan Washington Tak akan mengubah segitiga strategis yang Membikin China dan Rusia lebih dekat dibanding Rekanan AS dengan salah satu dari keduanya,” ujar Dennis Wilder, Pengamat Politik Dunia.

Selain menggelar pertemuan puncak dengan Xi Jinping, Presiden Vladimir Putin juga dijadwalkan Buat melakukan pembicaraan terpisah dengan Perdana Menteri China Li Qiang.