Lia Istifhama Dorong Bank Berdikari Perkuat UMKM Jatim Lewat Pembiayaan Humanis

Foto BeritaJatim.com

Ringkasan Informasi:

  • Personil DPD RI Lia Istifhama mengapresiasi peran Bank Berdikari dalam penguatan UMKM melalui Rumah BUMN.
  • Lia menyoroti pentingnya pembinaan UMKM berbasis ekosistem, bukan sekadar pembiayaan.
  • Bank Berdikari menawarkan KUR Super Mikro hingga Rp10 juta tanpa Jaminan tambahan.
  • Lia juga menyoroti tantangan akses kredit akibat sistem SLIK OJK yang dinilai Tetap menjadi hambatan.

Surabaya (Liputanindo.id) – Personil Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, mendorong penguatan kemandirian UMKM melalui peran aktif sektor perbankan Begitu melakukan kunjungan kerja ke Bank Berdikari
Surabaya, Selasa (6/5/2026).

Dalam kunjungan tersebut, senator yang akrab disapa Ning Lia itu disambut langsung oleh Regional Chief Executive Officer Bank Berdikari Region VIII/Jawa 3, Muhammad Ashidiq Iswara, Berbarengan jajaran manajemen.

Dalam Percakapan tersebut, Lia mengapresiasi Penemuan Bank Berdikari melalui pengembangan program Rumah BUMN yang dinilai Pandai memperkuat ekosistem pembinaan UMKM secara berkelanjutan.

“Semoga Rumah BUMN ini bukan sekadar program, tetapi ekosistem pembinaan. UMKM didampingi dari tahap awal, diberikan pelatihan, hingga didorong naik kelas bahkan menembus pasar ekspor,” ujarnya.

Rumah BUMN merupakan program CSR Kementerian BUMN yang berfungsi sebagai pusat edukasi, pengembangan keterampilan, pemasaran digital, dan akses permodalan bagi pelaku usaha kecil.

Muhammad Ashidiq Iswara menjelaskan bahwa Rumah BUMN di Jawa Timur Begitu ini hadir di Surabaya, Jember, dan Malang sebagai pusat pelatihan dan pengembangan usaha.

“Rumah BUMN ini Mempunyai fungsi sebagai tempat pelatihan, pendampingan, dan pengembangan usaha UMKM, mulai dari go modern, go digital, go online, hingga go Mendunia,” jelasnya.

Menurut Lia, penguatan keterampilan dan daya saing menjadi kunci Penting agar UMKM Pandai berkembang dan Kagak hanya bergantung pada Sokongan pembiayaan.

“Kita sama-sama Paham bahwa UMKM salah satu identitas ekonomi produktif masyarakat. Maka stimulus penguatan skill sangat diperlukan agar produk yang dihasilkan para pelaku usaha sangat marketable dan memenuhi preferensi publik sekaligus pangsa pasar,” katanya.

Selain mendukung pengembangan kapasitas UMKM, Lia juga menyoroti persoalan akses kredit yang Tetap terkendala oleh sistem Otoritas Jasa Keuangan melalui SLIK.

Menurutnya, banyak pelaku usaha potensial mengalami hambatan memperoleh pembiayaan akibat catatan kredit, termasuk yang dipengaruhi pinjaman online.

“Banyak UMKM potensial terkendala catatan kredit sesuai SLIK OJK. Padahal kemacetan tersebut Kagak selalu murni karena Elemen debitur, tetapi juga akibat sistem pinjol yang menjerat mereka,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, pihak Bank Berdikari menjelaskan bahwa akses pembiayaan inklusif tetap dibuka melalui program KUR Super Mikro Berdikari.

“KUR Super Mikro ini merupakan kredit usaha dengan plafon hingga Rp10 juta dan Kembang ringan 3 persen efektif per tahun. Program ini tanpa Jaminan tambahan dan ditujukan bagi pelaku UMKM pemula,” terang Ossy.

Lia pun mempertanyakan bagaimana prinsip kehati-hatian perbankan tetap dijaga dalam skema pembiayaan tanpa Jaminan tersebut.

Menjawab hal itu, Bank Berdikari menegaskan bahwa prinsip prudential banking tetap dijalankan melalui pendampingan usaha kepada debitur agar usaha tetap sehat dan pembayaran kredit berjalan Lancar.

Selain itu, Bank Berdikari juga menggandeng lembaga penjamin seperti Askrindo
guna mendukung restrukturisasi kredit UMKM secara berkelanjutan.

Ossy berharap sinergi antara perbankan, regulator, dan pemerintah termasuk DPD RI dapat Lalu diperkuat Demi menciptakan UMKM yang Handal, Berdikari, dan berdaya saing tinggi.

“Kami mendorong UMKM berkembang Kagak hanya dengan modal, tetapi juga dengan kemandirian agar usahanya berkelanjutan,” pungkasnya. [tok/beq]