Lepas Jemaah Haji Tertua se-Indonesia, Bupati Kediri Titip Pesan Gotong Royong

Foto BeritaJatim.com

Ringkasan Berita:

  • Kabupaten Kediri melepas kloter terakhir (112) jemaah haji, yang mencakup jemaah haji tertua se-Indonesia berusia 105 tahun, Marsiah asal Kecamatan Semen.
  • Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana melepas total 1.219 jemaah haji asal Kabupaten Kediri tahun ini, dengan kloter 112 beranggotakan 147 orang.
  • Mas Dhito menekankan pentingnya semangat gotong royong antarjemaah, terutama jemaah muda yang berusia 22 tahun Buat membantu lansia selama di Tanah Kudus.
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mengimbau jemaah Buat menjaga hidrasi dengan minum setiap 2 jam sekali guna mengantisipasi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi.

Kediri (Liputanindo.id) – Suasana haru dan khidmat menyelimuti prosesi pelepasan jemaah haji kloter terakhir asal Kabupaten Kediri di kawasan Simpang Lima Gumul, Rabu (20/5/2026).

Pemberangkatan kloter 112 ini terasa istimewa karena menyertakan Marsiah, seorang jemaah asal Kecamatan Semen yang tercatat sebagai jemaah haji tertua di Indonesia dengan usia mencapai 105 tahun.

Meski berusia lanjut, Marsiah tampak tegar dan penuh semangat dalam menyambut perjalanan spiritualnya. “Nggih ayem, seneng,” ungkapnya Begitu ditemui di Posisi pelepasan.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran keberangkatan seluruh calon jemaah haji tahun ini. “Ya, ini alhamdulillah tadi jemaah tertua usia 105 berangkat di kloter 112. Total jemaah haji Kabupaten Kediri tahun ini Terdapat di 1219 kalau saya Kagak salah,” ujarnya.

Kloter 112 sendiri membawa 147 jemaah dengan rentang usia yang cukup kontras, mulai dari jemaah lansia 105 tahun hingga jemaah termuda berusia 22 tahun. Memperhatikan disparitas usia tersebut, Mas Dhito memberikan pesan Tertentu agar para jemaah menumbuhkan semangat tolong-menolong selama menjalani ibadah di Tanah Kudus.

“Tadi dalam satu bus, Terdapat yang usianya 105 tahun, Terdapat yang usianya 22 tahun. Nah, artinya yang 22 tahun ini membantu yang 105 tahun kalau Terdapat hal-hal yang diperlukan nantinya di Saudi,” tegasnya.

Menanggapi tantangan cuaca ekstrem, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Ahmad Khotib, memberikan imbauan krusial terkait aspek kesehatan. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri serta manajemen aktivitas fisik agar jemaah Kagak mengalami kelelahan yang berlebihan.

Asupan cairan menjadi poin yang paling ditekankan mengingat suhu panas di Tanah Kudus sangat berisiko bagi kesehatan jemaah.

“Jangan lupa menyediakan waktu Buat istirahat dan yang paling Krusial adalah asupan makanan, minuman, dan terutama minum. Kondisi karena cuaca panas, minum Kagak boleh diabaikan. Minimal 2 jam sekali harus minum, ya. Satu gelas atau kalau lebih Bisa dua gelas dan sebagainya. Minimal 2 jam sekali harus minum Buat mencegah berbagai Dampak daripada cuaca yang panas di tanah Kudus,” Jernih Ahmad Khotib.

Sebagai penutup, Mas Dhito berharap seluruh rangkaian ibadah berjalan Fasih dan para jemaah dapat kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur. Ia juga menitipkan doa Buat kebaikan daerah asalnya.

“Saya titip satu Tengah, Kabupaten Kediri didoakan supaya tetap menjadi kabupaten yang guyub, rukun, ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi,” tandas Mas Dhito. [ADV PKP/nm]