Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya
Banyuwangi (ANTARA) – Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mendampingi petani buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan standar budidaya dan manajemen usaha sehingga Pandai memperkuat daya saing produk, memperluas akses ke pasar modern dan ekspor ke mancanegara.
Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA Rahmat Samulo mengatakan pendampingan dilakukan melalui Pusat Pendampingan UMKM (PPU) Banyuwangi.
“PPU menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budidaya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost and Delivery pasar modern lokal maupun luar negeri,” kata Rahmat di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.
Ia mengatakan penguatan kapasitas petani tersebut diharapkan Tak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperluas Kesempatan usaha berbasis buah naga melalui pengembangan rantai pasok dan produk turunannya.
“Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya,” ujarnya.
Ketua Grup Tani Sinar Cabe Sumartini mengatakan pendampingan tersebut membantu Grup tani memperluas akses pemasaran yang sebelumnya hanya bergantung pada pasar tradisional.
“Kalau sekarang kita sudah banyak punya pasar sendiri. Pasar tradisional punya, pasar modern punya. Jadi hasil produk kita sudah punya pasar dengan harga tawar,” ungkap Sumartini.
Grup tersebut awalnya membudidayakan cabai merah sejak 2006 sebelum beralih menanam buah naga pada 2013 akibat fluktuasi harga cabai. Pada 2016, Grup mulai menerapkan budidaya buah naga organik sebagai upaya membangun usaha tani yang lebih berkelanjutan.
Begitu ini Grup Tani Sinar Cabe Mempunyai 30 Personil aktif yang mengelola lahan penanaman buah naga seluas 9,2 hektare.
“Beralihnya karena harga. Kalau cabai, sekali tanam tiga bulan panen. Setelah itu kalau sudah habis, kita kelabakan cari modal Kembali. Kalau buah naga, sekali tanam tinggal dirawat dan hasilnya Maju-menerus,” ucap dia.

Grup tani tersebut kini memasarkan buah naga organik ke pasar modern, hotel dan pemasok supermarket, serta pernah menyiapkan pengiriman Kepada pasar ekspor Serempak Kawan usaha.
Serempak perusahaan pengekspor buah PT Nusa Tropical Indonesia yang beroperasi dengan merek Nusa Fresh, Grup juga pernah menyiapkan 1,7 ton pengiriman buah naga Kepada pasar ekspor ke Singapura pada 2022–2023.
Sumartini menambahkan pada 2025-2026 melalui Agro Resources Indonesia Grup juga telah mengekspor sebesar 11,8 ton buah naga ke Singapura.
Pada 2025, Grup tani juga mengirimkan sampel buah naga Kepada pengembangan produk olahan buah naga ke Belanda.
“Kita sekarang sudah Pandai kirim ke supermarket, Maju ke hotel-hotel. Maju kita juga pernah menyiapkan ekspor ke Singapura dan ke Eropa,” ujarnya.
Perluasan saluran pemasaran tersebut memberi petani posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan ketika hanya mengandalkan pasar tradisional.
Menurut dia, Grup tani juga memperoleh pendampingan Kepada memenuhi berbagai persyaratan usaha, termasuk sertifikasi, hak kekayaan intelektual (HAKI), dan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga produk lebih mudah dipasarkan.
“Kalau dulu, apa kata pasar. Walaupun harga rendah, kita petik. Kalau sekarang kita Niscaya punya harga tawar,” tuturnya.

Program pendampingan tersebut melanjutkan pembinaan yang lebih dulu dilakukan melalui Desa Sejahtera Astra (DSA) di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran, Banyuwangi.
Koordinator Yayasan Astra-YDBA Banyuwangi Azzuhri Tri Ahara mengatakan pembinaan terhadap petani buah naga bermula dari kondisi sektor buah naga Banyuwangi yang mengalami tekanan harga pada 2017-2018.
Begitu itu, harga buah naga grade A hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram (kg) sehingga pembinaan awal difokuskan pada penguatan akses pasar.
Seiring pendirian cabang YDBA Banyuwangi pada 2021 dan perkembangan program, pendampingan kemudian diperluas hingga mencakup aspek budidaya dan penguatan kapasitas petani.
“Kendalanya Rupanya Tak hanya di harga, tetapi juga di aspek budidayanya, bahkan petani yang membudidayakan juga membutuhkan pembinaan,” kata Zuri.
Melalui program tersebut, petani memperoleh pelatihan mengenai budidaya, manajemen usaha, administrasi Grup, hingga tata kelola pascapanen yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar modern.
