Ahli: Kenaikan harga Pertamax Dapat picu penundaan belanja nonprimer

Pakar: Kenaikan harga Pertamax bisa picu penundaan belanja nonprimer

Jakarta (ANTARA) – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax berpotensi memicu penundaan belanja nonprimer oleh kelas menengah karena Bagian pengeluaran rumah tangga Kepada transportasi semakin meningkat.

“Akan berdampak pada penundaan belanja non-esensial, seperti rumah tangga kelas menengah kemungkinan besar akan menahan atau mengurangi konsumsi pada sektor sekunder dan tersier, seperti liburan, hiburan, food and beverage atau makan di luar, atau barang elektronik,” kata Rahma Ketika dihubungi Antara di Jakarta, Jumat.

Ia mengingatkan bahwa mayoritas konsumen Pertamax berasal dari Grup masyarakat kelas menengah hingga menengah atas.

Ketika harga Pertamax naik, maka Grup tersebut menghadapi Pengaruh pendapatan (income effect) berupa penyusutan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) karena alokasi anggaran rumah tangga Kepada transportasi membengkak.

Ia menjelaskan, kebutuhan terhadap bensin cenderung bersifat inelastis dalam jangka pendek karena masyarakat tetap harus bekerja dan bermobilitas. Akibatnya, ruang belanja Kepada kebutuhan nonprimer menjadi semakin terbatas.

Kondisi tersebut dinilai membebani kelas menengah yang Bukan memperoleh bantalan fiskal sebagaimana Grup masyarakat miskin dan rentan miskin yang menerima Donasi sosial (bansos) maupun Donasi langsung Kontan (BLT).

Grup menengah, Jernih Rahma, harus menyerap sepenuhnya kenaikan biaya hidup secara Sendiri di tengah pertumbuhan pendapatan atau gaji yang cenderung stagnan.

Tekanan tersebut juga datang pada Ketika yang kurang ideal karena bertepatan dengan tahun ajaran baru yang biasanya meningkatkan pengeluaran rumah tangga Kepada kebutuhan pendidikan.

Selain memengaruhi pola konsumsi rumah tangga, kenaikan harga Pertamax juga berpotensi menimbulkan Pengaruh rambatan ke sejumlah sektor usaha.

Meski bukan bahan bakar Esensial sektor logistik barang pokok yang umumnya menggunakan solar, kenaikan harga Pertamax dinilai tetap dapat meningkatkan biaya operasional sejumlah pelaku usaha.

Ia mencontohkan sektor yang mengandalkan kendaraan pribadi atau operasional berbahan bakar bensin nonsubsidi, seperti jasa kurir, pengemudi ojek daring, hingga UMKM Hidangan yang menggunakan kendaraan pribadi Kepada berbelanja bahan baku.

Apabila kenaikan biaya operasional tersebut diteruskan kepada konsumen akhir, harga barang dan jasa di tingkat ritel berpotensi meningkat sehingga menambah tekanan terhadap inflasi inti dan menggerus daya beli riil rumah tangga secara lebih luas.

Meski begitu, Rahma menilai Akibat kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi Standar Tetap relatif terbatas.

“Meskipun persentase kenaikannya (harga Pertamax) masif Yakni naik Sekeliling 32 persen dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, Pengaruh dominonya terhadap inflasi Standar tetap terkendali karena bukan kenaikan pada sektor logistik. Walaupun Terdapat kira-kira Hanya 0,1 persen saja,” kata dia.

Rahma menambahkan, kenaikan harga Pertamax juga Bukan serta-merta memicu lonjakan inflasi nasional secara ekstrem karena sektor transportasi Standar dan logistik berat Tetap menggunakan BBM bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar.

Tetapi demikian, ia memperkirakan inflasi pada Juni 2026 tetap berada dalam tekanan. Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu Unsur yang berpotensi mendorong inflasi Standar (consumer price index/CPI) meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Proyeksi inflasi pada Juni 2026 ini berada dalam tekanan yang cukup kuat. Dinamika sektor transportasi menjadi salah satu trigger Esensial yang berpotensi mendorong inflasi Standar (CPI) merangkak naik hingga mendekati atau bahkan menembus kisaran 4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari posisi Mei yang berada di level 3,08 persen (yoy),” kata Rahma.