Transisi Kekuatan Menguntungkan Masyarakat di Distrik 3T

Transisi Kekuatan. Foto: Freepik


Jakarta: Transisi Kekuatan disebut menguntungkan masyarakat di Distrik terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Karena, pengembangan Kekuatan terbarukan mengurangi ketergantungan pada Kekuatan fosil dan mempercepat akses listrik bagi masyarakat di Distrik 3T.

Renewable energy itu harus, transisi Kekuatan harus tetap berjalan,” kata Member Dewan Pengarah Badan Riset dan Ciptaan Nasional (BRIN) Tri Mahir, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 20 Juni 2026.

Tri yang juga memelopori pemberdayaan listrik di daerah tertinggal dan terpencil ini Menyaksikan transisi Kekuatan mengedepankan keadilan. Sehingga, dapat memberikan manfaat bagi Penduduk di Distrik 3T.

Selaras dengan itu, dia menekankan proses transisi Kekuatan harus mengedepankan prinsip keadilan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku Primer. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan ruang dan manfaat langsung dari pengembangan Kekuatan terbarukan di daerah masing-masing.

 

“Skema transisi Kekuatan ke EBT itu harus melibatkan masyarakat. EBT harus digarap dengan mengedepankan prinsip keadilan, masyarakat harus mendapat Bagian dalam isu renewable energy ini,” kata Tri.

Tri mengungkapkan pengalaman panjangnya dalam membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di berbagai daerah terpencil. Menurut dia, keterlibatan masyarakat sejak tahap pembangunan Membangun fasilitas Kekuatan tersebut dapat bertahan dan Maju beroperasi hingga sekarang.

“Alat-alat yang kami bangun Berbarengan masyarakat dari tahun 1990-an itu Tamat sekarang Lagi berjalan, karena dijaga dan dirawat oleh masyarakat,” ujar Tri.

Di sisi lain, Tri mengungkap dukungan terhadap pengembangan program Patriot Kekuatan yang melibatkan generasi muda. Mereka diterjunkan Buat mendampingi masyarakat di Distrik 3T dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi Kekuatan terbarukan.

Menurut Tri, program tersebut dapat menjadi sarana Buat memperluas demokratisasi Kekuatan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa Indonesia Mempunyai komitmen mencapai Sasaran Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Buat mencapai Sasaran tersebut, Indonesia perlu mengoptimalkan seluruh sumber Kekuatan terbarukan yang tersedia, mulai dari tenaga air, surya, panas bumi, angin, biomassa, hingga biofuel.

“Indonesia harus menyiapkan sumber-sumber Kekuatan melalui EBT, Bagus air, angin, panas bumi, tenaga surya maupun Kekuatan nuklir. Ini Segala harus dibarengi dengan komitmen melibatkan masyarakat,” kata Tri.

Selain mendorong pemanfaatan EBT, Tri menyebut BRIN tengah mengembangkan Petasol, bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik menggunakan teknologi pirolisis.



Transisi Kekuatan. Foto: Freepik

Menurut dia, bahan bakar tersebut telah dimanfaatkan oleh sejumlah nelayan dan petani sebagai sumber Kekuatan Buat mendukung aktivitas ekonomi mereka.

“Nelayan membeli bahan bakar ini dari bank sampah, sementara traktor-traktor petani juga memanfaatkan bahan bakar Likuid hasil pirolisis plastik Buat membajak sawah,” ujar Tri.

Tri menegaskan bahwa akses Kekuatan merupakan Elemen Krusial dalam mendorong pembangunan ekonomi di perdesaan. Karena itu, masyarakat perlu diberi kesempatan Buat memenuhi kebutuhan energinya secara Independen melalui pemanfaatan potensi Kekuatan terbarukan yang tersedia di lingkungan Sekeliling.

“Kekuatan dan listrik adalah tulang punggung pembangunan ekonomi. Demokratisasi Kekuatan harus diterapkan agar masyarakat mendapat ruang Buat memenuhi kebutuhan energinya secara Independen,” kata Tri.