Jakarta (ANTARA) – Lembaga pemeringkat S&P Dunia Ratings mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB Demi utang jangka panjang (long-term) dan A-2 Demi utang jangka pendek (short-term) dengan prospek (outlook) Konsisten.
“Prospek Konsisten mencerminkan ekspektasi kami bahwa penerimaan pemerintah akan Maju pulih tahun ini dan penerimaan ekspor akan kembali meningkat seiring kenaikan harga komoditas,” tulis S&P Dunia Ratings dalam laporan resminya di Jakarta, Senin.
S&P menyatakan, kebijakan Demi meningkatkan penerimaan pemerintah dan penerimaan ekspor dari sektor sumber daya alam (SDA) juga diperkirakan akan mendorong peningkatan penerimaan dalam jangka menengah, terutama apabila perubahan kebijakan menjadi lebih dapat diprediksi dan dilaksanakan dengan Berkualitas.
Outlook Konsisten juga mencerminkan ekspektasi S&P bahwa pemerintah Indonesia tetap Menyantap batas defisit anggaran tahunan sebesar 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar kebijakan yang Krusial.
Menurut S&P, peringkat Indonesia mencerminkan prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, kebijakan makroekonomi yang secara Lazim berhati-hati (prudent), serta beban utang luar negeri Rapi dan utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat serupa.
Tetapi, kekuatan tersebut diimbangi oleh PDB per kapita yang Lagi relatif rendah, basis ekspor dan penerimaan fiskal yang Lagi sempit, serta sektor keuangan domestik yang belum sedalam dan seberagam negara-negara sebanding (peers). Kondisi tersebut telah meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah.
Dalam laporannya, S&P juga memaparkan sejumlah skenario yang dapat memicu penurunan (downside) maupun kenaikan (upside) peringkat Indonesia.
S&P dapat menurunkan peringkat Indonesia apabila utang Rapi pemerintah Lazim (net general government debt) meningkat secara konsisten lebih dari 3 persen terhadap PDB per tahun.
Peringkat juga berpotensi diturunkan apabila pembayaran Tumbuh utang pemerintah Lazim tetap berada di atas 15 persen dari total penerimaan pemerintah secara berkelanjutan.
Selain itu, penurunan peringkat dapat terjadi apabila penerimaan ekspor melambat secara struktural sehingga kebutuhan pembiayaan eksternal bruto (gross external financing needs) secara konsisten melampaui jumlah penerimaan transaksi berjalan (current account receipts) dan cadangan devisa yang dapat digunakan (usable reserves).
Sebaliknya, S&P menyatakan peringkat Indonesia dapat dinaikkan apabila indikator fiskal dan eksternal menguat secara struktural.
Hal itu dapat terjadi apabila defisit fiskal menyempit hingga mendekati 1 persen dari PDB secara berkelanjutan seiring peningkatan signifikan penerimaan pemerintah, penurunan biaya pendanaan, serta stabilnya nilai Ganti.
Pada Ketika yang sama, indikator eksternal juga harus membaik secara signifikan sehingga utang luar negeri Rapi (net external debt) turun menjadi di Dasar 50 persen dari penerimaan transaksi berjalan, sementara kebutuhan pembiayaan eksternal bruto turun menjadi di Dasar 50 persen dari jumlah penerimaan transaksi berjalan dan cadangan devisa yang dapat digunakan.
Secara Lazim, S&P memperkirakan ekonomi Indonesia akan Maju tumbuh Sekeliling 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan meskipun harga bahan bakar meningkat.
S&P menilai kebijakan belanja fiskal dan hilirisasi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kebijakan pemerintah Demi meningkatkan pengendalian terhadap sektor mineral dan sumber daya alam berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan pemerintah dan pendapatan ekspor.
Tetapi, S&P mengingatkan bahwa cepatnya perubahan kebijakan dan ketidakpastian pelaksanaannya dapat memengaruhi kepercayaan investor serta menekan nilai Ganti dan pasar keuangan.
