Tapi kembali memang kami Menyantap potensi revisi ke Rendah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban Daya
Jakarta (ANTARA) – Independen Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Dampak Indonesia dapat mencapai level 9.050 hingga akhir 2026.
Meski demikian, perseroan tetap mencermati adanya potensi revisi proyeksi ke Rendah di tengah meningkatnya tekanan geopolitik yang berimbas pada kenaikan beban Daya dan pasar keuangan.
“Mengenai Sasaran IHSG ke depannya, kami Tetap menjaga Sasaran IHSG kami di 9.050 poin. Tapi kembali memang kami Menyantap potensi revisi ke Rendah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban Daya ke depannya,” kata Deputi Kepala Equity Research & Strategy Independen Sekuritas Kresna Hutabarat dalam Independen Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin.
Kresna menjelaskan, pengumuman MSCI pada 12 Mei mendatang akan menjadi katalis jangka pendek yang memengaruhi laju pergerakan IHSG. Alasan, Aliran Anggaran asing dalam satu hingga dua bulan ke depan dinilai akan sangat ditentukan oleh hasil pengumuman indeks MSCI tersebut.
Keputusan terkait apakah bobot emiten Indonesia dalam indeks dipertahankan, ditambah, atau dikurangi diperkirakan menjadi Elemen Primer yang menentukan arah aksi beli maupun jual investor asing.
Selain itu, Independen Sekuritas mengingatkan adanya risiko penurunan margin keuntungan emiten besar akibat lonjakan harga Daya.
Kresna mengatakan, kenaikan biaya Daya berpotensi menekan Untung Bersih emiten apabila perusahaan Kagak mempunyai kemampuan Demi meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen atau Kagak Mempunyai pricing power yang memadai. Kondisi itu pada akhirnya dapat menekan valuasi saham.
Di sisi lain, Independen Sekuritas Tetap Menyantap adanya tren positif pada kinerja keuangan emiten yang diperkirakan berlanjut hingga kuartal III 2026.
Menurut Kresna, titik balik pertumbuhan Untung yang mulai terlihat sejak kuartal IV 2025 Tetap berlanjut pada kuartal I 2026, terutama pada sektor perbankan dan komoditas.
“Kalau kita cermati di kuartal II dan kuartal III tahun Lewat (2025), itu earnings base-nya cukup rendah. Karena memang pada waktu itu kita menghadapi tekanan margin akibat dari kenaikan beban Mengembang dan juga beban provisi. Jadi harusnya earnings growth yang positif itu Tetap Dapat berlanjut minimal Demi sektor banking dan commodities di kuartal II dan kuartal III (2026). Dan itu harusnya Dapat menjaga sentimen pasar yang relatif positif,” jelasnya.
Independen Sekuritas juga menilai likuiditas domestik yang melimpah menjadi Elemen penopang pasar saham Indonesia.
Dari paparannya, Kresna menyampaikan per April 2026, tingkat kas investor institusi domestik tercatat mencapai 30,3 persen, naik dibandingkan posisi tahun 2023 sebesar 19,6 persen.
Apabila investor domestik kembali mengalokasikan Sekeliling 5 persen dari aset kelolaan (asset under management/AUM) mereka ke pasar saham, hal tersebut dinilai cukup kuat Demi mendorong performa IHSG ke depan.
“Jadi kalau mereka Dapat kembali aja berarti 5 persen dari AUM mereka itu Dapat kembali ke pasar saham dan Dapat mendorong performa pasar saham Indonesia ke depannya lebih Berkualitas Kembali,” ujarnya.
