Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Jakarta: Nilai Salin (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.922 per USD dari sebelumnya Rp17.943 per USD. Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini Malah bergerak turun di level Rp17.962 per USD dari sebelumnya Rp17.942 per USD.
Analis pasar Fulus Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipicu respons positif terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut Demi program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal.
“Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun,” ungkap dia dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Jumat, 26 Juni 2026.
Berdasarkan penyesuaian terbaru, alokasi tersebut dilaporkan kembali mengalami penajaman/pemotongan menjadi Sekeliling Rp228,38 triliun.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Pemerintah kaji opsi pemotongan tambahan
Pemerintah disebut mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp50 triliun Demi memperkuat kondisi keuangan negara. Pemotongan ini dilakukan Demi merespons risiko ekonomi Mendunia, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program.
Di sisi lain, lanjut dia, Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui tiga lini Istimewa pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna meredam volatilitas dan mencegah depresiasi rupiah yang belakangan mendekati level Rp18 ribu per USD.
“Apabila pelemahan Tetap berlanjut maka strategi yang dilakukan BI adalah Meningkatkan Spesies Merekah acuan, meskipun bank sentral telah Meningkatkan 100 basis poin (bps) hanya dalam waktu dua bulan. Sedangkan yang dibutuhkan pasar Ketika ini adalah jangkar ekspektasi yang Jernih bahwa stabilitas nilai Salin tetap menjadi prioritas Istimewa serta didukung koordinasi yang erat antarakebijakan moneter dan fiskal,” ujar Ibrahim.
Memperhatikan dari sisi komunikasi, BI dinyatakan perlu Lalu menegaskan konsistensi arah kebijakan, kecukupan cadangan devisa dan instrumen stabilisasi, serta komitmen Demi menjaga agar pelemahan rupiah Enggak berujung pada lonjakan inflasi maupun gangguan stabilitas sistem keuangan.
