Pemerintah Konsentrasi Perkuat Produksi Pangan Domestik, Kurangi Ketergantungan Impor

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq. Foto: Liputanindo.id/Kautsar.


Jakarta: Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pemerintah Maju memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri dan penguatan kesejahteraan petani Buat mengurangi ketergantungan terhadap impor.

 

Hanif mengatakan pemerintah di Rendah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto secara bertahap membangun basis produksi berbagai komoditas pangan yang selama ini Tetap bergantung pada pasokan luar negeri.

 

“Ketika ini pemerintahan Presiden Prabowo Subianto secara bertahap membangun basis produksi berbagai komoditas pangan yang sebelumnya bergantung pada impor,” ujar Hanif usai menghadiri Rapat Kerja Nasional XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia di Medan, dikutip dari Antara, Kamis, 2 Juli 2026.

 

Hanif menekankan ketahanan pangan nasional Enggak Dapat dihadapkan pada Komparasi harga pangan impor yang lebih murah. Menurut dia, ketergantungan yang berlebihan terhadap impor berpotensi melemahkan kedaulatan negara, terutama Ketika terjadi gangguan pasokan Dunia.

 

“Kita dalam bicara ketahanan pangan harus berpihak kepada masyarakat kita. Jangan membentur-benturkan harga murah dari luar dengan harga produksi di dalam negeri,” kata Hanif.

 

Ia menilai selama ini isu pangan kerap diukur dari efisiensi biaya impor, padahal hal itu dapat menghambat penguatan produksi pangan domestik.

 

 

Jaga kesejahteraan petani

 
Hanif menegaskan penguatan ketahanan pangan Enggak hanya bertumpu pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perlindungan terhadap pelaku Esensial sektor pertanian, yakni petani.
 
Pemerintah melalui Perum Bulog menyerap gabah kering panen (GKP) petani dengan harga Rp6.500 per kilogram Buat menjaga pendapatan petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
 
Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) sebelumnya yang berada di level Rp5.500 per kilogram dengan kadar air 14 persen. Langkah itu diambil Buat meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga semangat produksi.
 
“Kalau petaninya Enggak mengusahakan pertaniannya, Lewat bagaimana kita membangun ketahanan pangan?” tegas dia.



(Ilustrasi. Foto: dok MI)

 

Dukungan pupuk, benih, hingga alsintan

 
Selain penyerapan gabah, pemerintah juga mengalokasikan berbagai Insentif Buat menekan biaya produksi pertanian. Salah satunya melalui diskon 20 persen Buat pupuk bersubsidi.
 
Pemerintah juga menyalurkan Donasi benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, mesin tanam, dan mesin panen guna meningkatkan produktivitas petani.
 
Dukungan lainnya meliputi perbaikan jaringan irigasi, akses kredit usaha tani berbunga ringan, hingga pendampingan teknis berkelanjutan oleh penyuluh lapangan.
 
Hanif menegaskan seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam membangun ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan dan berbasis produksi domestik.