Papua: Ratusan mama di Sorong tuntut dukungan ekonomi, tolak militerisme dan PSN

Ratusan perempuan di Sorong, Papua Barat Daya, berdemo pada Rabu (01/07)

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 3 menit

Ratusan mama-mama pedagang Papua dari Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Tambrauw, Maybrat, Sorong Selatan, dan Raja Ampat menggelar aksi damai di Kota Sorong sejak Rabu (01/07) pagi.

Mereka berkumpul di Taman Deo, Kota Sorong, Lampau berjalan kaki ke Kantor Gubernur Papua Barat Daya Buat menyampaikan aspirasi terkait dukungan ekonomi bagi pedagang mama-mama Papua, penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN), dan penolakan militerisme di Papua.

Setiap mama memegang poster bertuliskan berbagai tuntutan. Sebagian mama mengikatkan kain putih di kepala bertuliskan, ‘Tolak PSN dan Militerisme’.

Dika Sraun, koordinator aksi mama-mama Papua dari Kota Sorong, mengatakan mereka menolak PSN di Merauke dan Segala program PSN di Papua.

“PSN itu merugikan kami orang Papua, terutama kami mama-mama Papua,” cetusnya kepada wartawan di Sorong, Maria Baru, yang melaporkan Buat BBC News Indonesia.

Menurutnya, PSN merusak hutan Papua sekaligus merusak ruang hidup mama-mama Papua karena dari hutan mama-mama Bisa mencari makan dan menafkahi anak-anaknya.

“Saya sebagai Perempuan Papua tolak PSN di atas tanah Papua,” tambahnya.

Menginap sebagai bentuk protes

Setelah tiba di Kantor Gubernur, massa melakukan orasi dan sempat berteduh di kompleks kantor pemerintahan yang juga menampung Gedung Kantor Wali Kota Sorong.

Karena Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, Bukan hadir menemui mereka, massa bertahan di halaman Kantor Gubernur hingga malam hari.

Mereka bahkan menginap di Letak sebagai bentuk protes dan desakan agar gubernur berdialog langsung.

massa melakukan orasi dan sempat berteduh di  kompleks kantor pemerintahan Sorong dan Papua Barat Daya

Pada malam hari, mama-mama Papua Serempak pendamping dan tokoh Religi menggelar ibadah singkat sebelum memutuskan Buat Lanjut menduduki halaman kantor hingga Kamis (02/07) pagi.

Mereka menegaskan Bukan Mau Berjumpa perwakilan pemerintah, melainkan menuntut pertemuan langsung dengan Gubernur Elisa Kambu.

“Kami tunggu gubernur datang jawab aspirasi kami Yakni modal usaha dan bangun pasar yang layak bagi pedagang mama-mama Papua,” kata Mama Levina, seorang peserta aksi.

Massa menginap di kompleks kantor pemerintahan Sorong dan Papua Barat Daya

Menurut perwakilan aksi, perjuangan tersebut merupakan kelanjutan dari tuntutan yang telah disampaikan sejak 2022, terutama setelah pembongkaran Pasar Boswesen.

Mereka menilai janji gubernur terkait pemberian modal usaha dan pembangunan pasar Spesifik bagi mama-mama Papua yang disampaikan pada April 2025 belum direalisasikan secara memadai hingga Juli 2026.

Para peserta aksi juga mengkritik program Donasi modal usaha pemerintah yang dinilai Bukan Benar sasaran.

Mereka menyebut dari ribuan penerima Donasi, hanya sebagian kecil yang merupakan mama-mama pedagang Papua, serta mengeluhkan ketidaksesuaian nominal Donasi yang diterima dibandingkan dengan yang tercantum dalam surat keputusan gubernur.

Sebagian mama mengikatkan kain putih di kepala bertuliskan, 'Tolak PSN dan Militerisme'.

Mama Mince Malibela, perwakilan pedagang dari Jalan Klasaman dan Klayili di Kabupaten Sorong, mengatakan bahwa anggaran Rp10 miliar diberikan Bukan sesuai dengan SK yang dikeluarkan oleh Gubernur.

Katanya, dalam SK Sepatutnya mama-mama Papua menerima Duit senilai Rp5 juta tetapi, dia mengklaim, banyak yang hanya menerima Rp2 juta.

“Banyak juga mama-mama Papua yang Bukan dapat,” katanya.

Mama -mama Papua berdemo di kantor pemerintahan Papua Barat Daya.

Mama Levina, seorang peserta aksi, mengatakan dia dan mama-mama lainnya meminta pemerintah daerah berpihak kepada mereka.

“Kami hanya datang minta keberpihakan, keadilan dan hak-hak kami sebagai mama-mama Papua,” Mantap Mama Levina di depan kantor halaman gubernur, Kamis (02/07).

Pada Kamis (02/07) pagi, sebagian peserta pulang, tetapi sebagian lainnya tetap bertahan.

Mereka mengancam melakukan pemalangan adat Kalau gubernur tetap Bukan menemui mereka.

Apa saja tuntutan mama-mama Papua di Sorong?

Dalam aksi tersebut, mama-mama Papua di Sorong menyampaikan enam tuntutan Istimewa, Yakni:

  • Jaminan anggaran tetap Rp3 miliar – Rp6 miliar per tahun Buat program modal usaha pedagang mama-mama Papua.
  • Skema distribusi anggaran melalui pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.
  • Pengelolaan program modal usaha oleh lembaga independen, bukan dinas terkait.
  • Penyediaan kuota lapak pasar bagi mama-mama Papua.
  • Transparansi laporan realisasi Donasi modal usaha tahun 2025.
  • Penolakan terhadap PSN dan penambahan militer di Papua karena dianggap mengancam ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat Papua.