Hari ini, 20 Mei 2026. Kelender Kagak tercetak merah. Tetapi sejarah menoreh titah pengarah. Hari Kebangkitan Nasional. Momentum yang menentukan kesadaran berbangsa. Belum Terdapat survei, berapa persen masyarakat Paham akan urgensi 20 Mei. Tak ditemukan Survei pendapat tentang respon Gen-Z memaknai kebangkitan kini. Kagak nampak baner dipampang di Sudut alun-alun yang merefleksikan kebangkitan menjadi narasi. Sunyi. Jangankan soal 20 Mei, perihal Pesta Babi-pun tak terlihat geliat khalayak menanggapi filem yang konon di ‘haramkan’ penguasa negeri.
Kampus kampus tempat elit non strategis senyap. Mahasiswa dan dosennya seolah kehilangan Kekuatan, bareng-bareng menguap. Loyo hilang semangat. Dinamika Obrolan di Rendah payung gazebo kantin Kagak kelihatan intim. Para aktifis kampus Kagak menunjukkan daya tanggap. Jangan-jangan mereka sudah masuk perangkap. Elit politik di berbagai lini seolah tiarap. Bahkan komunitas cendekiawanpun terkesan miskin tanggungjawab. Ke mana partai politik yang konon katanya menempatkan diri sebagai pilar demokrasi ? Di mana ormas-ormas yang selalu mengumandangkan Indonesia emas ketika merah putih tiba waktu ber-euforia menentukan aktualitas ? Hari Kebangkitan Nasional dipandang tak ubahnya filem Pesta Babi. Sunyi apresiasi. Tanpa aksi dan steril edukasi.
Arti Kebangkitan
Apa sebenarnya esensi Kebangkitan Nasional itu ? Apa sesungguhnya yang terjadi di Republik ini ? Kebangkitan Nasional bukan sejarah sadar perang melawan kolonial, tapi Metode pandang yang mengedepankan rasional. Bukan gambar tangan mengepal di tengah api membakar, tapi Kesadaran dan ajakan aktual Demi Lanjut belajar. Bukan semata pentas NKRI dan Pancasila sebagai harga Tewas, tapi upaya memantapkan jati diri akan konsistensi berkonstitusi. Bukan keindahan flyer dan baner yang bernuansa estetis, tapi pandangan kader dan Kepribadian berbangsa sebagai nasionalis. Bukan panduan kinerja pemerintah menuju puncak fantastik di era otoda, tapi kemauan mendengar tanpa menegasikan kritik sebagai Figur demokrasi di Indonesia. Bukan persuasif literasi menuju Indonesia emas, tapi aksi pemerintah agar rakyat Kagak cemas.
Indonesia tengah dilanda endemi validasi. Pemimpin dan pemujanya terserang virus Narcissistic Personality Disorder (NDP).Tebar pesona di sana sini guna mendulang pujian yang tak berarti. Berbagai Ragam Group WA dipenuhi postingan deklarasi sebagai Informasi sukses yang Kagak konkrit, Tetapi serasa berarti. Kekuasaan selalu menepuk dada ketika Dapat ’memberi’ meskipun Segala itu harus menggusur kanan kiri.
Para pejabat orasi berapi-api menentang pesta babi, Tetapi dibalik layar mereka telah mengkonsumsi dengan masakan bervariasi. Elit birokrasi bernyanyi mendendangkan pentingnya Serasi Tetapi dalam dirinya Malah merawat rasa benci. Paradikma berbangsa dan bernegara telah bergeser dari ranah substansi menjadi imaginasi. Objektifitas menjadi barang langka, tepuk tangan dimobilisasi, algoritma menjadi Kecenderungan.
Lagi mengiang di telinga, belum hilang dalam tatapan mata dari layar kaca ketika juri LCC mengamputasi peserta dengan diksi ‘artikulasi’. OTT KPK Lanjut mengisi hari, sementara MBG jalan Lanjut hilang Acuh. Asmara produk dalam negeri dikampanyekan, sementara impor pikap didatangkan dari negeri Prindavan. Hari Pendidikan Nasional lewat tanpa peringatan karena Mayday lebih diagendakan. Banyak guru bersabar menunggu kepastian status, Tamat sekarang seolah tak terurus. Koperasi merah Putih menjadi primadona padahal menguras Biaya Kagak Lazim. Korupsi disuarakan sebagai musuh Serempak, Tetapi KKN Malah dikelola.
Kritik dianggap guyonan menggelitik. Tukang kritik diberikan stempel Rival. Dikriminalisasi masuk lembaga pemasyarakatan. Siapapun berseberangan, patut dilenyapkan. Emosional lebih mengedepan Demi mengubur rasional. Pujian dibuatkan pesemaian guna menghapus saling silang penilaian. Saran dimaknai perhatian tanpa pesan. Masukan dicatat sebatas Asa kelakar yang tak perlu ditakar. Menurut obrolan sejawat jurnalis, sesungguhnya realitas NKRI kini tak Kembali manis.
Indonesia Bagian dari Papua
Sama halnya dengan orang Papua yang tengah was-was. Merasa terancam karena kelak tak Kembali Dapat menggelar dan menikmati babi. Menu makanan lezat yang mendongkrak Harkat. Papua menempatkan babi sebagai simbol prestis. Ketika Indonesia dalam bingkai Papua, maka babi-babi yang menentukan kelezatan sebuah pesta dan perekat Serasi, kini hanya menunggu waktu. Tuntas dilibas menjadi tinggal cerita. Habitatnya dirusak. Batang-batang pohon yang mensuply oksigen ditumbangkan. Sumber air tak gampang ditemukan. Tak Terdapat tetes embun yang biasanya melekat di alang-alang membersamai pagi menjelang.
Kasuari pergi entah ke mana. Babi-babipun juga tak nampak menyapa. Kalaupun Terdapat menatap tajam curiga. Konon katanya Demi dan atas nama proyek strategis, hijau alam disulap menjadi coklat kerontang. Kagak Terdapat ruang orang-orang Papua Demi melawan. Senjata dan bunyi mesiu dibuat samar tak terdengar dibalut peredam yang namanya HAM. Anak-anak bangsa di Papua tengah mengambil jarak dengan merah putih. Mereka lebih Pasti memagari tanah moyangnya dengan kayu hutan pilihan. Dicat merah dalam bentuk palang sebagai representasi mengatakan ’Kagak’ tanda peringatan. Kata ’Kagak’ Demi menyelamatkan kelestarian warisan moyang.
Merah putih serasa Kagak mengayomi. Bahkan nampak lusuh dan tak putih Kembali. Ibarat pusara. Sebatas penanda Demi tabur Kembang. Setelahnya ditinggal pergi berbalik arah. Merah dan putih tak Kembali kontras. Maknanyapun menjadi bias. Bahkan cenderung buas karena berubah menjadi pemangsa babi dalam komunitas. Babi sebagai simbol puncak spiritualitas.
Babi babi di negeri ini siaga Demi Tewas. Kenikmatan demokrasi yang menganyam Serasi potensi tinggal cerita. Kearifan budaya terkoyak meninggalkan luka. Terhadap realitas budaya, lusuhnya merah putih kian terasing. Kagak bersahabat dengan perubahan. Bahkan cenderung menabur ketakutan. Bak predator. Melibas habis sumber daya alam tanpa memikirkan kelangsungan generasi mendatang.
Pada merah putih itu sudah Kagak Kembali melekat rasa malu, apalagi rasa bersalah. Bar-bar mencakar sejarah yang telah menemukan dan menjahitnya. Merah putih Rupanya tak Kembali sewangi gaharu. Merah putih Lanjut memburu dan melumat babi-babi itu. Karenanya Kagak berlebihan dikatakan, Papua terancam berproses tanpa pesta. Seperti Indonesia yang berjalan tanpa lentera. Pancasila menjadi simbol belaka. Konstitusi sebatas menjadi objek mata kuliah. Kembalikan alam agar babi-babi itu balik pulang. Bersihkan kembali merah putih agar Nikmat dipandang. Merah putih bukan Punya segelintir orang.
Selamatkan babi-babi itu. Kata teolog, filolog dan sejarawan Bambang Noorsena, babi adalah konsumsi raja-raja nusantara. Tertuang dalam kitab Negara Kertagama. Terukir pada dinding candi ternama. Relief Karmawibangga. Babi adalah simbol kenikmatan. Konsumsi yang menyimpan Cerminan objek impian. Diharapkan sebagai puncak pesta Indonesia sebagai bagian dari Papua.
Belum tuntas saya merangkai kalimat menutup opini ini, tiba-tiba seorang Kawan nyletuk, ’……..bukankah babi itu patut dijauhi oleh masyarakat muslim mayoritas di negeri ini…? Satus hukumnya haram. Mengapa anda memanjakan ? Spontan saya jawab, ’…..emang saya bicara soal babi…….? Saya bicara soal keinsyafan bernegara anak-anak negeri. Anak-anak yang tak berdaya melawan oligarki. Lusuhnya kain bendera berubah Corak menjadi proyek industri. Kekuasaan ekonomi politik tanpa hati dan Pemanfaatan SDA yang tak Dapat berhenti. Merah putih telah melumat babi.
Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H.,C.Med,
Akademisi Fakultas Hukum Unej dan Ketua Dewan Ahli ICMI Jember
