Angkutan didominasi CPO dan produk turunan sawit. Layanan berbasis rel mendukung rantai pasok industri, ekspor dan kesiapan Daya nabati B50
Jakarta (ANTARA) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyebut komoditas minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunan sawit mendominasi angkutan perkebunan selama Semester I 2026, seiring meningkatnya kebutuhan logistik industri, ekspor dan biodiesel B50.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan volume angkutan perkebunan tersebut meningkat 17,83 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat 275.475 ton atau bertambah 49.104 ton.
“Angkutan didominasi CPO dan produk turunan sawit. Layanan berbasis rel mendukung rantai pasok industri, ekspor dan kesiapan Daya nabati B50,” kata Anne dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Menurut Anne, komoditas itu Mempunyai keterkaitan kuat dengan industri pengolahan, perdagangan antardaerah, ekspor, serta kebutuhan bahan baku Daya nabati.
Ia mengatakan peningkatan volume angkutan perkebunan menunjukkan kebutuhan pelaku usaha terhadap layanan logistik yang konsisten, berkapasitas besar, dan terhubung dengan simpul produksi, industri, serta pelabuhan.
“Komoditas perkebunan, terutama sawit, Mempunyai peran Krusial bagi aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Distribusi yang Fasih membantu menjaga pasokan bahan baku industri, mendukung ekspor, dan memperkuat daya saing komoditas Indonesia,” ujar Anne.
Lebih lanjut Anne mengatakan peran distribusi komoditas perkebunan semakin relevan seiring penguatan hilirisasi industri dan arah kebijakan Daya nasional.
Kebutuhan terhadap bahan baku nabati, termasuk Buat mendukung kesiapan pemanfaatan biodiesel B50, membutuhkan rantai pasok yang andal agar pergerakan komoditas dari kawasan produksi menuju titik pengolahan dapat berlangsung lebih terencana.
“Agenda Daya nasional membutuhkan dukungan logistik yang kuat. Ketika kebutuhan bahan baku nabati meningkat, termasuk dalam kesiapan B50, distribusi CPO dan produk turunannya perlu ditopang sistem logistik yang efisien, konsisten dan terhubung,” kata Anne.
Di berbagai Kawasan Sumatra, layanan logistik perkebunan berbasis rel berperan menghubungkan kawasan produksi dengan industri pengolahan dan pelabuhan. Pergerakan komoditas itu turut mendukung aktivitas usaha, menjaga kesinambungan pasokan, serta memberi Dampak bagi ekonomi daerah yang bergantung pada sektor perkebunan.
Dari aspek sustainability, kereta api Mempunyai nilai tambah karena Pandai melayani volume besar dalam satu perjalanan.
Model distribusi itu membantu mengurangi tekanan kendaraan berat di jalan raya, mendukung efisiensi penggunaan Daya per ton barang, serta memperkuat pilihan logistik yang lebih terukur bagi komoditas bervolume tinggi seperti CPO dan produk turunannya.
Anne menambahkan peningkatan layanan angkutan perkebunan menjadi sinyal positif bagi logistik nasional. Konektivitas yang semakin kuat antara kawasan produksi, industri pengolahan, dan pelabuhan akan membantu arus barang berjalan lebih efisien serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok komoditas perkebunan dunia.
“KAI akan Lanjut memperkuat layanan logistik Buat mendukung sektor-sektor produktif nasional,” katanya.
Ia menegaskan melalui kereta api, distribusi komoditas perkebunan dapat berlangsung lebih efisien, mendukung ekonomi daerah, serta memperkuat rantai pasok komoditas strategis Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan kebutuhan Daya nabati nasional.
