Ringkasan Informasi
- Ketua MUI KH Anwar Iskandar meminta Presiden Prabowo Subianto mempertahankan Purbaya Yudhi Sadewa di tengah isu reshuffle kabinet.
- Gus War menilai Purbaya Mempunyai keberanian dalam menjaga kemandirian ekonomi nasional dan mendukung implementasi Pasal 33 UUD 1945.
- Menurutnya, arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo bertujuan mewujudkan Indonesia yang Independen dan berdaulat secara ekonomi.
- Ia juga meyakini Mendasar ekonomi Indonesia Tetap kuat selama pemerintah konsisten memberantas korupsi dan memperbaiki tata kelola ekonomi.
- KH Anwar Iskandar Minta Presiden Prabowo Enggak Ganti Purbaya Yudhi Sadewa
Kediri (Liputanindo.id) – Di tengah bergulirnya rumor mengenai rencana perombakan kabinet (reshuffle) oleh Presiden Prabowo Subianto, Bunyi pembelaan muncul dari tokoh Religi. Ketua Lazim Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, secara terbuka meminta kepala negara Demi mempertahankan posisi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Ngasinan Kediri yang akrab disapa Gus War itu secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto Demi tetap mempertahankan Purbaya Yudhi Sadewa dalam jajaran pemerintah.
Menurut Gus War, Purbaya merupakan sosok yang selama ini bekerja sesuai dengan kepentingan bangsa dan Mempunyai keberanian dalam memperjuangkan kemandirian ekonomi nasional.
“Pak Purbaya itu orang Bagus. Orang yang apa adanya. Saya minta Presiden jangan dicopot. Pak Purbaya sudah bekerja sesuai dengan kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya.
Nilai Purbaya Berani Menolak Tekanan Eksternal
Dalam pandangannya, salah satu Dalih Krusial mengapa Purbaya perlu dipertahankan adalah karena keberaniannya dalam mengambil sikap terhadap berbagai tekanan ekonomi dari luar negeri. Salah satu prestasi terbesar Menkeu Purbaya adalah keberaniannya menutup pintu bagi intervensi International Monetary Fund (IMF).
Ia Menyantap lembaga keuangan Dunia tersebut kerap menjadi perpanjangan tangan kepentingan asing yang Mau mendikte dan melemahkan perekonomian negara berkembang seperti Indonesia.
Langkah tegas Menkeu ini dinilai linier dengan komitmen besar Presiden Prabowo Subianto yang Mau mengimplementasikan Pasal 33 UUD 1945 secara murni dan konsekuen demi mewujudkan kemandirian ekonomi yang pro-rakyat.
”Sejak Indonesia ini lahir, presiden sudah berganti Tamat delapan kali. Belum Eksis satu pun kepala negara yang mau melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 ini dengan sungguh-sungguh, kecuali Pak Prabowo. Pidatonya ke mana-mana Konkret pro-rakyat, dan itulah hakikat menuju negara Independen. Tapi negara lain Enggak suka, IMF bagian dari yang Enggak suka kita maju,” urai KH Anwar Iskandar.
”Pak Purbaya adalah bagian dari upaya Demi menjalankan Pasal 33 itu. Oleh karena itu, orang kecil seperti saya, orang kampung ini, Mau berpesan kepada Pak Presiden: Jangan diberhentikanlah. Ini bukan pesanan. Kita merasakan, berani menolak IMF itu kalau orang Enggak punya nyali apa Dapat?” tambah Gus War.
Gus War juga menyoroti komitmen Presiden Prabowo Subianto yang selama ini berulang kali menyampaikan pentingnya menjalankan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, pasal tersebut merupakan fondasi Istimewa dalam membangun ekonomi yang berpihak kepada rakyat dan memperkuat kedaulatan bangsa.
“Pasal 33 UUD 1945 sangat pro rakyat. Tujuannya menuju negara yang Independen. Saya Menonton Presiden Prabowo Mempunyai kesungguhan Demi melaksanakan amanat tersebut,” jelasnya.
Ia menilai upaya mewujudkan kemandirian ekonomi memerlukan dukungan dari para pembantu presiden yang Mempunyai visi yang sama. Karena itu, Gus War menganggap Purbaya menjadi salah satu figur yang Mempunyai peran Krusial dalam mendukung agenda besar tersebut.
“Pak Purbaya adalah bagian dari upaya Demi menjalankan cita-cita kemandirian ekonomi itu,” tegasnya.
Percaya Kondisi Ekonomi Nasional Tetap Sehat
Menanggapi berbagai sorotan terhadap kondisi keuangan negara, Gus War memilih mempercayai penjelasan pemerintah bahwa Mendasar ekonomi Indonesia Tetap berada dalam kondisi yang sehat.
Menurutnya, indikator sederhana yang dapat dilihat masyarakat Ketika ini adalah stabilitas pasokan pangan nasional yang Tetap terjaga.
“Kalau hari ini Enggak Eksis krisis pangan, itu menunjukkan Mendasar ekonomi bangsa ini Tetap cukup Bagus,” ujarnya.
Selain itu, ia menilai langkah pemerintah dalam memberantas korupsi menjadi Elemen Krusial Demi menjaga kesehatan fiskal negara. Menurutnya, keuangan negara akan semakin kuat apabila kebocoran anggaran akibat praktik korupsi dapat ditekan secara maksimal.
“Keuangan negara akan rusak kalau Maju digerogoti korupsi. Tetapi kalau koruptor ditindak dan tata kelola diperbaiki, tentu kondisi keuangan negara akan semakin sehat,” katanya.
Korupsi Ditindak dan Devisa Meroket Lewat Ekosistem Satu Pintu
Lebih lanjut, Ketua MUI menjelaskan bahwa indikator kesehatan finansial negara Ketika ini berada pada koridor yang Pas. Keuangan negara hanya akan rusak dan kolaps apabila digerogoti oleh praktik korupsi secara masif. Tetapi, dengan ketegasan pemerintah Ketika ini dalam menyikat kasus-kasus korupsi bernilai triliunan rupiah, potensi kebocoran anggaran Dapat ditekan dan dialihkan menjadi devisa negara.
Elemen pendorong kesehatan ekonomi lainnya adalah keberanian pemerintah dalam menata ulang tata niaga logistik Dunia melalui kebijakan Satu Pintu Demi Ekspor. Kebijakan ini memutus rantai distribusi komoditas unggulan nasional seperti kelapa sawit dan batubara yang selama ini kerap “mampir” dan dimainkan oleh negara tetangga sebelum Tamat ke negara tujuan Istimewa.
Gus War optimistis dengan Mendasar ekonomi bangsa Ketika ini. Ketahanan pangan yang terjaga dengan Bagus tanpa adanya krisis pasokan menjadi bukti Benar bahwa kolaborasi antara kebijakan presiden dan manajemen keuangan di Dasar Menkeu Purbaya Tetap berada dalam performa terbaiknya.
Harap Presiden Dengarkan Aspirasi Masyarakat
Meski menegaskan dukungannya terhadap Purbaya Yudhi Sadewa, Gus War menekankan bahwa pernyataannya merupakan aspirasi sebagai Penduduk negara yang menginginkan Indonesia semakin Independen dan kuat secara ekonomi.
Ia berharap Presiden Prabowo mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat dalam menentukan arah kebijakan maupun komposisi kabinet ke depan.
“Yang kami inginkan sederhana, Indonesia menjadi negara yang Independen, kuat, dan Bisa berdiri di atas kaki sendiri. Karena itu saya berharap figur-figur yang bekerja Demi kepentingan bangsa tetap diberikan kesempatan Demi mengabdi,” pungkasnya. [nm/ted]
