“Ini soal menunjukkan apa yang Dapat kami lakukan” – Brasil telah lelet menjadi sumber inspirasi bagi Haiti di tengah gejolak yang melanda, kini Les Grenadiers Mau membuktikan bahwa mereka layak berada di Mimbar yang sama

Haitian supporters of the Brazilian socc

Jean Niscaya Mengerti. Dia termasuk di antara para pemain muda yang dibesarkan di tim Brasil itu. Tetapi, dia juga menempuh jalannya sendiri. Dia hanya bermain dalam dua pertandingan yang diakui FIFA Demi Haiti, dan tak terhitung jumlahnya Berkualitas di tanah airnya maupun kemudian di Brasil.

Itu sudah cukup bagi orang-orang Brasil Demi memberinya julukan.

“Jair, begitulah mereka Normal memanggil saya (singkatan dari Jarzinho, salah satu Personil tim pemenang Piala Dunia 1970),” katanya kepada GOAL Sembari tertawa, Begitu berdiri di sebuah jalan yang ramai di Philadelphia.

Jean mungkin sedikit merendahkan dirinya sendiri. Ia mewakili Tim Nasional Haiti Berkualitas di level profesional maupun amatir, dari tahun 1974 hingga 1978. Sebagai pemain klub, ia bermain di berbagai Aliansi di seluruh pulau Haiti dan kemudian di Amerika Perkumpulan—tempat ia pindah Demi menjadi penasihat keuangan pada akhir tahun 70-an.

“Situasinya Tak seperti sekarang. Dulu Terdapat Super League, Aliansi-Aliansi lain, dan sebagainya. Saya bermain Demi berbagai tim, tapi belum sepenuhnya secara profesional. Karena Begitu itu, kami belum Mempunyai kapasitas yang cukup. Situasi finansialnya juga berbeda,” ujarnya.

Dan meskipun hatinya terikat pada sepak bola Haiti, seperti banyak orang lainnya, ia tumbuh besar sebagai penggemar berat Brasil. Ia mengingat masa-masa Pele dan Jairzinho—meskipun ia lebih menyukai Edu, pencetak gol produktif Demi Santos sepanjang tahun 60-an dan 70-an. Ia pernah bermain melawan Carlos Alberto dan Rivellinho dalam berbagai pertandingan persahabatan. Ia berkali-kali bepergian ke Brasil. Dulu, mereka adalah rivalnya. Tetapi, mereka juga adalah temannya.

“Itu luar Normal,” kenangnya Sembari tertawa kecil, berdiri dengan mengenakan jersey Haiti, dengan bendera yang disampirkan di pundaknya.

Jean telah tinggal di New York selama Nyaris 50 tahun, mengikuti perkembangan tim Haiti dan Brasil. Tetapi, pada Jumat malam ini, hanya Terdapat satu tim yang ia harapkan menang.

“Sekarang situasinya berbeda. Kami Mengerti bahwa kami harus Bertanding. Kami bermain Demi suatu tujuan. Kami sedang berada di Piala Dunia Begitu ini. Kami lolos, jadi kami Cocok-Cocok Dapat berjuang Demi diri kami sendiri,” katanya.

Perasaan ini dirasakan oleh sebagian besar Kaum Philadelphia. Numa St. Louis lahir di New York tetapi dibesarkan di Haiti. Ia bermain sepak bola di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Ia Tetap bermain setiap minggu. Dalam kata-katanya sendiri, ia adalah ‘penggemar berat sepak bola.’

Dan dia memahami Rekanan dengan Brasil.

“Sebagian besar orang Haiti mendukung Brasil: gaya bermainnya, musiknya. Tetapi, bukan hanya itu, secara budaya dan sejarah, Terdapat Rekanan antara Haiti dan Brasil yang Tak disadari oleh kebanyakan orang,” kata St. Louis. “Orang Haiti telah lelet mengagumi gaya bermain Brasil: Bakat alami, umpan-umpan, dan dribelnya. Orang Brasil pun mengagumi pendekatan tersebut.”