Karena imbal hasil SRBI yang terlalu menarik dapat Membangun bank harus Meningkatkan Merekah simpanan Demi mempertahankan Anggaran
Jakarta (ANTARA) – Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengingatkan Bank Indonesia (BI) perlu memastikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang Ketika ini menawarkan imbal hasil (yield) relatif tinggi, Kagak terlalu menyedot likuiditas perbankan.
“Karena imbal hasil SRBI yang terlalu menarik dapat Membangun bank harus Meningkatkan Merekah simpanan Demi mempertahankan Anggaran,” kata Josua Ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Sebagai informasi, BI memperkuat imbal hasil SRBI pada seluruh tenor seiring kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei-Juni 2026. Langkah ini ditempuh bank sentral guna menarik Jenis masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik sehingga turut memperkuat nilai Salin rupiah.
Berdasarkan publikasi BI, rata-rata tertimbang (RRT) imbal hasil SRBI di pasar sekunder pada seluruh tenor cenderung meningkat dan berada di kisaran 7 persen pada Jumat (12/6).
Josua juga Memperhatikan, bank sentral Indonesia perlu menahan kenaikan BI-Rate lanjutan apabila nilai Salin rupiah dan inflasi mulai Kukuh, karena transmisi kenaikan Merekah ke biaya Anggaran (cost fund) dan kredit sudah mulai berjalan.
“OJK dan BI perlu memantau ketat Merekah deposito spesial, rasio alat likuid, pertumbuhan kredit baru, kredit bermasalah, dan perubahan Spesies Merekah kredit baru. Pemerintah juga perlu menjaga timing penempatan dan penarikan kas negara di perbankan agar Kagak menambah tekanan likuiditas secara mendadak,” kata dia.
Josua menilai, kenaikan BI-Rate 100 bps berpotensi membalik arah biaya Anggaran perbankan. Meski begitu, kenaikannya kemungkinan secara bertahap dan Kagak langsung melonjak tajam Demi seluruh industri.
Ia mencatat bahwa tanda awalnya sudah terlihat dari Spesies Merekah Anggaran pihak ketiga (DPK) rupiah yang naik dari 2,65 persen pada April 2026 menjadi 2,70 persen pada Mei 2026.
“Kenaikan ini menunjukkan persaingan penghimpunan Anggaran mulai meningkat, terutama karena sumber Anggaran murah terbatas dan kebutuhan pendanaan kredit Tetap besar,” kata dia.
Tetapi demikian, tekanan biaya Anggaran belum menjadi tekanan sistemik karena likuiditas perbankan Tetap relatif memadai dan BI Tetap menjaga kecukupan likuiditas melalui bauran kebijakan, termasuk lelang repo dan penguatan instrumen likuiditas perbankan.
“Dengan kata lain, tren penurunan biaya Anggaran yang terjadi setelah penurunan BI-Rate 125 bps pada 2025 memang berisiko berbalik arah pada 2026,” ujar dia.
Ia memperkirakan, prospek Merekah simpanan dalam beberapa bulan ke depan cenderung meningkat lebih dulu dibandingkan Merekah kredit.
Kenaikan terutama akan terlihat pada deposito berjangka, Anggaran korporasi besar, dan simpanan bernilai besar yang lebih sensitif terhadap perubahan Spesies Merekah. Sementara tabungan dan giro biasanya lebih Pelan naik karena sifatnya lebih transaksional.
“Kalau BI-Rate bertahan di 5,75 persen hingga akhir 2026, Merekah deposito kemungkinan naik bertahap, bukan melonjak. Tetapi Kalau tekanan rupiah kembali membesar dan BI harus Meningkatkan Spesies Merekah Kembali, persaingan Merekah deposito akan semakin ketat, terutama pada bank kecil-menengah dan bank dengan rasio kredit terhadap Anggaran pihak ketiga yang tinggi,” Terang Josua.
Dari sisi stabilitas, Josua mencatat bahwa kondisi industri perbankan Ketika ini Tetap cukup kuat Demi menyerap tekanan awal.
Kinerja kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh 11,51 persen (yoy), lebih tinggi dari April 9,98 persen (yoy). Sementara DPK tumbuh 13,47 persen (yoy) dan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di 24,74 persen. Di samping itu, permodalan juga Tetap kuat dan risiko kredit agregat tetap terkendali.
“Ini berarti kenaikan Spesies Merekah belum menjadi ancaman langsung bagi stabilitas bank. Tetapi risiko tertundanya tetap besar: Kalau Merekah deposito Lalu naik, biaya Anggaran naik, Merekah kredit naik, permintaan kredit melambat, dan kualitas kredit memburuk, maka bank akan menghadapi tekanan ganda antara menjaga pertumbuhan kredit dan menjaga kualitas aset,” kata Josua.
