Indef nilai Insentif infrastruktur EV dan Kekuatan Kudus pacu ekonomi

Indef nilai insentif infrastruktur EV dan energi bersih pacu ekonomi

Jakarta (ANTARA) – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemberian Insentif Buat pengembangan infrastruktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan Kekuatan terbarukan atau Kudus dapat menjadi strategi Buat memperkuat ekonomi Indonesia.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti, Demi dihubungi di Jakarta, Selasa, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di level 5 persen yang kondisi tersebut kental dipengaruhi tantangan struktural hingga Akibat perlambatan ekonomi Dunia.

Meski demikian, stabilitas makroekonomi diperkirakan Tetap terjaga dengan inflasi Sekeliling 3 persen dan nilai Ubah rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Sektor perbankan juga dinilainya tetap menjadi penopang Penting perekonomian melalui fungsi intermediasi dan penyaluran kredit.

Dalam menghadapi tekanan Dunia, dirinya menilai pemerintah perlu memperluas kebijakan Insentif, termasuk Buat sektor Kekuatan terbarukan dan kendaraan listrik.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur kendaraan listrik dapat memperkuat kepercayaan masyarakat Buat beralih ke EV sekaligus mendorong tumbuhnya investasi baru di sektor industri hijau dan Kekuatan Kudus.

“Kalau Mau memberikan Insentif lebih besar Buat generate renewable energy sehingga penyediaan Kekuatan terbarukan lebih banyak di Indonesia. Kemudian beri Insentif Buat pembangunan infrastruktur mobil listrik sehingga orang beli Enggak takut mogok atau Percaya bahwa mobil listrik menggunakan Kekuatan yang murah,” katanya.

Selain itu, sektor perbankan dinilai tetap harus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas tetap terjaga.

Indef juga mengingatkan adanya risiko guncangan ekonomi Dunia yang dapat memengaruhi sektor informal dan UMKM.

Perlambatan ekonomi dunia dinilai berpotensi menekan ekspor Indonesia akibat menurunnya permintaan Dunia dan harga komoditas unggulan seperti batu bara serta crude palm oil (CPO).

Sebelumnya, dirinya meyakini kebijakan Insentif elektrifikasi kendaraan atau EV merupakan investasi fiskal jangka panjang yang Pandai menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Indef menilai kebijakan tersebut Enggak hanya mempercepat transisi Kekuatan, tetapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga memperkuat ketahanan fiskal negara.

Menurut dia, kebijakan Insentif sebelumnya yang diberikan pemerintah berhasil menarik minat produsen Dunia Buat menanamkan modal dan membangun basis produksi di dalam negeri.

Indef mencatat investasi asing di sektor kendaraan listrik di Indonesia mencapai 2,73 miliar dolar AS dalam tiga tahun terakhir.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026 dengan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp3.447,7 triliun, dan atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp6.187,2 triliun.