HJKS ke-733, Achmad Nurdjayanto Minta Surabaya Perkuat Hasil karya dan Pencegahan Banjir

Foto BeritaJatim.com

Surabaya (Liputanindo.id) – Personil Komisi C DPRD Surabaya, Achmad Nurdjayanto, meminta Pemerintah Kota Surabaya menjadikan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 sebagai momentum memperkuat sistem penanganan banjir yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur pengendali banjir harus dibarengi Hasil karya, SOP perawatan saluran yang Jernih, serta langkah preventif Demi mengantisipasi genangan di berbagai Distrik kota.

“Surabaya harus Lalu berinovasi. Sebagai kota yang humanis, penanganan banjir Kagak hanya Pusat perhatian pada infrastruktur, tetapi juga harus Bisa melindungi Anggota dan petugas di lapangan yang menjalankan tugas pembersihan maupun penanganan saluran,” kata Achmad, Minggu (31/5/2026).

Menurut Achmad, salah satu hal yang perlu diperkuat adalah keberadaan standar operasional Mekanisme (SOP) yang Jernih terkait perawatan saluran lingkungan. Dia menyebut keberhasilan pengendalian banjir Kagak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga konsistensi perawatan saluran di tingkat lingkungan.

“Harus Eksis SOP yang Jernih dan terukur terkait perawatan saluran lingkungan. Mulai dari jadwal pembersihan, pembagian tugas, hingga mekanisme pengawasan agar saluran tetap berfungsi optimal,” ujar politisi Golkar ini.

Selain itu, dia mengungkap penanganan banjir di Surabaya harus mengedepankan konektivitas antarjaringan drainase dan sistem pengendalian air secara menyeluruh. Menurutnya, penyelesaian persoalan banjir Kagak dapat dilakukan secara parsial karena setiap kawasan Mempunyai keterkaitan satu sama lain.

“Yang dibutuhkan adalah konektivitas sistem drainase dari hulu Tamat hilir. Jangan Tamat Eksis saluran yang sudah Berkualitas di satu titik, tetapi tersendat di titik lainnya sehingga menimbulkan genangan baru,” katanya.

Achmad juga mengingatkan pentingnya langkah preventif dibandingkan penanganan yang bersifat insidental. Pemerintah kota, menurut dia, perlu memperkuat pemetaan Distrik rawan genangan, mempercepat normalisasi saluran, serta meningkatkan edukasi masyarakat terkait kebersihan lingkungan.

“Penanganan banjir harus lebih banyak bertumpu pada langkah preventif, bukan hanya tindakan sporadis ketika banjir atau genangan sudah terjadi. Pencegahan jauh lebih efektif dan memberikan manfaat jangka panjang,” tegasnya.

Memasuki usia ke-733 tahun, Achmad berharap Surabaya Bisa menjadi kota yang semakin Unggul menghadapi perubahan iklim dan persoalan perkotaan. Menurut dia, keberhasilan sebuah kota Kagak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya memberikan rasa Terjamin dan nyaman bagi masyarakat.

“Surabaya harus Lalu bergerak menjadi kota yang maju, adaptif, dan Bisa menghadirkan perlindungan bagi seluruh warganya. Itu yang harus menjadi semangat pembangunan di usia ke-733 tahun ini,” pungkasnya. [asg/suf]