Gus Qowim Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Kondusif dan Nyaman bagi Santri

Ringkasan Berita

  • Wakil Wali Kota Kediri Gus Qowim menghadiri Pra Kongres Umat Islam Indonesia VIII di Ponpes Al Amien Kediri.
  • Perhimpunan mengangkat tema penguatan pesantren sebagai benteng perlindungan anak dan penjaga akhlak mulia.
  • Gus Qowim menegaskan pesantren harus menjadi ruang Kondusif, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang santri.
  • Pemerintah Kota Kediri berkomitmen memperkuat pendidikan ramah anak dan perlindungan peserta didik.

Kediri (Liputanindo.id) – Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin, menegaskan pentingnya menjadikan pesantren sebagai ruang yang Kondusif, nyaman, dan ramah anak bagi tumbuh kembang santri. Hal tersebut disampaikan Demi menghadiri Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII: Multaqa Ru’asa Al-Ma‘ahid yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia di Pondok Pesantren Al Amien, pada Kamis (12/6/2026).

Perhimpunan strategis tersebut mengangkat tema Memperkokoh Pesantren sebagai Benteng Perlindungan Anak dan Penjaga Akhlak Mulia, yang menjadi ruang dialog bagi para ulama, pengasuh pesantren, akademisi, dan pemangku kebijakan Kepada membahas penguatan sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan Islam.

Perlindungan Anak Bukan Sekadar Aturan
Dalam sambutannya, Gus Qowim menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan pendidikan Demi ini. Menurutnya, perlindungan anak di lingkungan pesantren Enggak hanya berkaitan dengan regulasi semata, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga nilai-nilai dasar kemanusiaan dan ajaran Keyakinan.

Perhimpunan tersebut membahas berbagai isu Krusial mulai dari implementasi pesantren ramah anak, budaya pengasuhan yang santun, perlindungan terhadap kekerasan seksual, penguatan ketahanan keluarga, hingga kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan siber.

“Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak di lingkungan pesantren bukan semata persoalan aturan, melainkan bagian dari ikhtiar besar menjaga Keyakinan, jiwa, Intelek, keturunan, dan kehormatan Orang,” ujarnya.

Pesantren Harus Menjadi Tempat yang Menenangkan Orang Sepuh
Gus Qowim berharap Perhimpunan tersebut Bisa menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diterapkan di berbagai pesantren di Indonesia.

Menurutnya, pesantren harus tetap menjadi lembaga pendidikan yang memberikan rasa Kondusif bagi orang Sepuh ketika mempercayakan pendidikan putra-putrinya.

“Kita Mau pesantren tetap menjadi tempat yang Membangun orang Sepuh merasa tenang menitipkan putra-putrinya. Menjadi ruang yang Kondusif Kepada belajar, nyaman Kepada bertumbuh, dan kondusif Kepada membangun Kepribadian,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa kenyamanan dan keamanan santri menjadi fondasi Krusial dalam proses pembentukan Kepribadian dan pengembangan potensi generasi muda.

Pemkot Kediri Dorong Pendidikan Ramah Anak
Lebih lanjut, Gus Qowim menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Kediri Mempunyai komitmen kuat dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang ramah anak di seluruh satuan pendidikan.

Menurutnya, kualitas pendidikan Enggak hanya diukur dari capaian akademik dan kurikulum yang diterapkan, tetapi juga dari rasa Kondusif, penghargaan, dan perlindungan yang diterima peserta didik selama menjalani proses pembelajaran.

“Ketika anak-anak merasa Kondusif, mereka akan lebih mudah berkembang. Ketika mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual, maka kualitas sumber daya Orang yang kita cita-citakan akan lebih mudah terwujud,” jelasnya.

Pesantren Kawan Strategis Membangun Generasi Berakhlak
Pemerintah Kota Kediri Menyantap pesantren sebagai Kawan strategis dalam membangun sumber daya Orang yang unggul.

Selain menjadi pusat pendidikan keagamaan, pesantren juga Mempunyai peran Krusial dalam membentuk Kepribadian generasi muda agar Mempunyai akhlakul karimah, kecerdasan intelektual, ketangguhan mental, serta kepedulian sosial.

Karena itu, penguatan sistem perlindungan anak di lingkungan pesantren menjadi bagian Krusial dalam mendukung lahirnya generasi yang berkualitas dan berdaya saing.

Hadirkan Tokoh Nasional dan Pengasuh Pesantren
Kegiatan Pra Kongres Umat Islam Indonesia VIII ini dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pimpinan pesantren dari berbagai daerah.

Hadir di antaranya Anwar Iskandar, Marsudi Syuhud, Ahmad Fahrur Rozi, Amien Suyitno, Amirsyah Tambunan, serta para pengasuh pondok pesantren yang tergabung dalam Perhimpunan Multaqā Ru’asa’ Al-Ma‘ahid.

Melalui Perhimpunan ini, diharapkan lahir berbagai gagasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat perlindungan anak serta meningkatkan kualitas pendidikan pesantren di Indonesia, sehingga pesantren tetap menjadi benteng moral dan pusat pembentukan Kepribadian generasi bangsa. [nm/kun]