Ilustrasi, minyak jelantah. Foto: dok MI.
Jakarta: Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan Daya dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM), limbah dapur pun mulai dilirik sebagai salah satu sumber bahan baku Daya terbarukan.
Salah satu contohnya dilakukan salah satu restoran siap saji, Pizza Hut Indonesia, yang mengelola minyak jelantah dari jaringan restorannya menjadi biofuel melalui kerja sama dengan perusahaan pengumpul dan pengelola minyak goreng bekas (minyak jelantah), TUKR.
Dari Juni 2024 hingga Juni 2026, sebanyak 90 ton minyak jelantah berhasil dikumpulkan dari Sekeliling 300 gerai Pizza Hut Delivery (PHD) dan Pizza Hut Ristorante di berbagai kota. Rata-rata Sekeliling 3,75 ton minyak jelantah dikumpulkan setiap bulan Demi diolah menjadi biofuel sehingga Bukan berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan maupun berpotensi masuk kembali ke rantai konsumsi melalui praktik Siklus ulang ilegal.
“Inisiatif ini sejalan dengan agenda pemerintah Demi memperluas pemanfaatan Daya terbarukan,” ungkap Pizza Hut Indonesia dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin, 27 Juli 2026.
Kementerian Daya dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat implementasi mandatori biodiesel B40 berhasil menekan impor solar dari Sekeliling 8,3 juta ton pada 2024 menjadi Sekeliling 5 juta ton sepanjang 2025. Kebijakan tersebut juga menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp130,21 triliun dan menurunkan emisi Sekeliling 38,88 juta ton CO? ekuivalen pada 2025.
Pemanfaatan minyak jelantah menjadi biofuel menunjukkan limbah dari sektor jasa makanan juga dapat menjadi bagian dari rantai pasok Daya terbarukan. Semakin banyak minyak jelantah yang dikelola secara Betul, kian besar pula manfaat lingkungan dan ekonomi yang dapat dihasilkan.

(Ilustrasi biofuel. Foto: Shutterstock)
Menjaga minyak jelantah balik ke meja makan
Selain berpotensi menjadi sumber Daya alternatif, minyak jelantah juga menyimpan persoalan lain. Di lapangan, limbah ini Lagi kerap disalahgunakan dengan diolah kembali menjadi minyak goreng dan beredar di pasar secara ilegal, praktik yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Head of Brand & Partnership TUKR Adhi Putra Tawakal mengatakan pengelolaan minyak jelantah Semestinya dilakukan oleh pihak yang Mempunyai kompetensi dan memenuhi standar keberlanjutan.
“Pengelolaan limbah minyak jelantah secara Akurat dan berkelanjutan oleh pihak yang kompeten dan Absah sangat Krusial Demi menjaga kualitas kesehatan masyarakat, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus Indonesia,” ujar Adhi.
Menurut Adhi, minyak jelantah yang dikumpulkan TUKR diolah menjadi bahan bakar terbarukan melalui proses yang memenuhi standar keberlanjutan.
Demi ini TUKR telah bermitra dengan lebih dari 9.000 bisnis, organisasi, dan komunitas di berbagai Area Indonesia Barat dan Indonesia Tengah Demi membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah yang lebih tertata.
