Selama mutu Maju dijaga, standar Dunia dipenuhi, dan kolaborasi antarlembaga semakin diperkuat, hasil laut Maluku akan Maju mendapat tempat di pasar dunia.
Ambon (ANTARA) – Langit di atas Teluk Ambon Tetap diselimuti gelap ketika La Hamid perlahan mendorong Bahtera kayunya meninggalkan bibir pantai. Sebuah lampu kecil di buritan menjadi satu-satunya penerang yang menemaninya membelah laut yang tenang.
Gulungan tali, jaring, dan kotak penyimpanan ikan telah tersusun rapi di dalam Bahtera, menjadi penanda dimulainya rutinitas yang telah dijalani nelayan berusia 48 tahun itu selama puluhan tahun.
Bagi La Hamid, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut adalah ruang kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap Pagi hari ia berlayar dengan Cita-cita yang selalu sama: cuaca bersahabat, ikan melimpah, dan hasil tangkapan yang cukup Demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Tetapi, La Hamid mungkin tak pernah membayangkan bahwa sebagian ikan yang ia tangkap akan menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi samudra.
Dari Teluk Ambon, hasil tangkapannya diproses di unit pengolahan, diperiksa mutunya, memperoleh sertifikat kesehatan, Lewat dikemas dalam kontainer berpendingin sebelum diberangkatkan menuju Jepang, China, Amerika Perkumpulan, Vietnam, dan berbagai negara lainnya. Perjalanan panjang itu menjadikan hasil tangkapan nelayan tradisional Maluku sebagai bagian dari rantai perdagangan Dunia.
Di balik setiap kontainer yang meninggalkan Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, tersimpan kerja keras banyak tangan, mulai dari nelayan yang melaut sejak Pagi hari, pelaku usaha yang mengolah hasil tangkapan, pemerintah yang membina, hingga petugas karantina yang memastikan setiap produk perikanan Maluku memenuhi standar mutu dan keamanan pangan yang diakui dunia.
Kesempatan pasar Dunia
Sebagai provinsi kepulauan yang Sekeliling 92 persen wilayahnya berupa lautan, Maluku menjadikan laut bukan hanya bentang alam, melainkan juga sumber kehidupan.
Bagi nelayan kecil seperti La Hamid, hamparan laut adalah ruang mencari nafkah sekaligus tempat menggantungkan Cita-cita. Kekayaan sumber daya perikanan berkualitas tinggi menjadi modal Istimewa yang dipertaruhkan setiap kali mereka berlayar.

Tuna sirip kuning, cakalang, tongkol, hingga berbagai jenis ikan pelagis menjadi komoditas unggulan yang selama ini menopang perekonomian nelayan dan masyarakat pesisir. Komoditas-komoditas tersebut juga menjadi tulang punggung ekspor Maluku ke pasar Dunia.
Potensi itu kini mulai menunjukkan hasil yang semakin Konkret. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku mencatat nilai ekspor daerah sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 16,54 juta dolar Amerika Perkumpulan, meningkat 37,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 12,07 juta dolar AS.
Menurut BPS Maluku, peningkatan tersebut sepenuhnya ditopang oleh ekspor komoditas nonmigas, terutama ikan dan udang.
Selama periode itu, Tiongkok menjadi tujuan Istimewa ekspor Maluku dengan nilai mencapai 15,33 juta dolar AS atau Sekeliling 92,69 persen dari total ekspor daerah. Sementara itu, sebagian lainnya dikirim ke Hong Kong melalui Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dan Pelabuhan Tual.
Penguasaan sektor perikanan menegaskan bahwa laut Tetap menjadi penggerak Istimewa perekonomian Maluku. Tetapi, melimpahnya sumber daya laut saja Enggak Mekanis membuka akses ke pasar Dunia. Agar dapat Bertanding di tingkat Dunia, setiap produk perikanan harus Pandai memenuhi standar mutu, keamanan pangan, dan persyaratan karantina yang semakin ketat dari negara tujuan ekspor.
