Celios soroti perlindungan UMKM di lokapasar imbas bea logistik naik

Celios soroti perlindungan UMKM di lokapasar imbas bea logistik naik

Sudah sering saya sampaikan bahwa sebagian besar barang yang dijual di e-commerce itu adalah barang impor. Maka, barang lokal perlu perlindungan, salah satunya dari sisi biaya logistik

Jakarta (ANTARA) – Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mendorong adanya perlindungan Tertentu bagi produk lokal utamanya dari pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di platform lokapasar (marketplace) dan/atau e-commerce.

Hal ini menyusul para pelaku UMKM yang baru-baru ini mengeluhkan tingginya biaya administrasi hingga logistik yang dikenakan oleh platform perdagangan digital yang mereka gunakan.

“Dalam hal Bonus, pemerintah, dalam hal ini Kementerian UMKM, harus memberikan treatment yang berbeda antara produk lokal dan produk impor,” kata Huda Ketika dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, Ketika ini produk UMKM lokal mengalami persaingan yang sulit dengan banyaknya produk impor yang diperjualbelikan di marketplace.

Selain itu, tingginya potongan oleh platform juga semakin menimbulkan tantangan baru Kepada melanjutkan bisnis di platform perdagangan digital tersebut.

“Sudah sering saya sampaikan bahwa sebagian besar barang yang dijual di e-commerce itu adalah barang impor. Maka, barang lokal perlu perlindungan, salah satunya dari sisi biaya logistik,” ujar Huda.

Salah satu hal yang Bisa dimulai oleh pemerintah Kepada memberikan perlindungan produk UMKM di marketplace, lanjut Huda, adalah melakukan tagging barang sesuai dengan tempat produksinya (made in).

“Pemerintah juga harus melakukan tagging barang terlebih dahulu agar Bisa Memperhatikan barang ini made in-nya made in mana. Kebijakan tagging ini juga Enggak pernah dilakukan padahal ini Krusial Kepada dijadikan data rujukan pembuatan kebijakan,” Terang dia.

Terkait Unsur apa saja yang memengaruhi kenaikan biaya layanan marketplace, Huda menilai salah satunya adalah adanya perubahan strategi oleh platform Ketika ini yang lebih berorientasi Kepada mencari keuntungan (profit-oriented).

“Aksi platform ini Enggak lepas dari pergeseran strategi platform yang sekarang sudah mulai mengejar keuntungan. Dahulu platform mungkin Tetap Bisa merugi karena yang dikejar valuasi. Tetapi demikian, sekarang sudah Enggak Bisa Tengah karena harus untung,” kata dia.

“Pendanaan yang seret menjadi salah satu Karena pergeseran strategi dari platform. Pun sudah beberapa yang IPO dimana investor juga butuh kinerja perusahaan yang positif alih-alih negatif,” imbuhnya.

Naiknya biaya layanan platform pun, tambah Huda, berpotensi Kepada memengaruhi keinginan konsumen berbelanja karena harga jual juga meningkat.

“Maka ketika Terdapat kenaikan harga dari platform, Bagus biaya administrasi ataupun biaya logistik, maka akan terjadi penurunan permintaan,” kata Huda.

“Pun dibebankan ke seller, maka seller akan membebankan kembali ke konsumen, jadi tetap pada akhirnya permintaan akan melambat,” tambah dia.