Chatib Basri. Foto: Liputanindo.id/Adrian Bachtiar.
Jakarta: Ekonom senior Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri, menilai keberlangsungan sebuah perang Enggak semata ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh besarnya biaya ekonomi yang harus ditanggung negara-negara yang terlibat.
Chatib mengatakan konflik dapat berhenti ketika biaya yang harus dikeluarkan sudah terlalu besar Demi dipertahankan.
“Saya bukan Spesialis militer, tetapi yang saya Dapat coba lakukan adalah memperkirakan kemahalan biaya perang,” ucap Chatib, dalam Perhimpunan Grab Business Perhimpunan 2026 di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut pria yang akrab disapa Dede ini, strategi yang digunakan Iran Ketika ini adalah meningkatkan biaya perang bagi Rival-lawannya, terutama Israel dan Amerika Perkumpulan (AS).
Dengan meningkatnya tekanan terhadap pasar Kekuatan Mendunia, harga minyak berpotensi naik dan mendorong inflasi di AS. Chatib memperkirakan inflasi AS dapat terdorong hingga Sekeliling 3,8 persen apabila konflik berkepanjangan dan mengganggu pasokan Kekuatan Mendunia.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan politik domestik bagi pemerintahan AS, terutama menjelang dinamika politik berikutnya.
“Kalau itu terjadi, Partai Republik itu Dapat kalah. Sehingga opsi Amerika Merukapan mencegah supaya Israel berhenti menyerang,” ungkap Chatib.

Ekonom senior Indonesia sekaligus mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri. Foto: Liputanindo.id.
Tiga Pengaruh perang ke Indonesia
Chatib menilai Indonesia berpotensi menghadapi tiga konsekuensi Primer apabila konflik Timur Tengah Maju berlanjut.
- Perdagangan dan inflasi. Inflasi yang meningkat, pertumbuhan slow down, serta adanya risiko stagflasi.
- Keuangan. Bangsa Tumbuh Mendunia yang ketat, rupiah tertekan, hingga investasi melemah.
- Defisit minyak yang meningkat secara signifikan.
“Dari segi trade, Niscaya harga indonesia akan mahal, inflasi akan naik, growth-nya akan melambat, risiko Terdapat stagflasi,” kata dia.
Chatib memperkirakan setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar USD1 per barel dapat menambah tekanan terhadap anggaran negara Sekeliling Rp6,8 triliun.
“Secara fiskal, kalau USD1 itu oil price-nya naik, itu defisitnya Rp6,8 triliun additional,” ujar dia. (Adrian Bachtiar)
