BPOM-USFDA teken komitmen pastikan mutu-kelanjutan ekspor rempah ke AS

BPOM-USFDA teken komitmen pastikan mutu-kelanjutan ekspor rempah ke AS

Penunjukan BPOM sebagai CE mencerminkan meningkatnya kepercayaan USFDA terhadap sistem pengawasan Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan United States Food and Drug Administration (USFDA) Formal menandatangani Confidentiality Commitment (CC) sebagai langkah strategis Demi menjaga keberlanjutan ekspor rempah asal Indonesia ke Amerika Perkumpulan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Rabu, mengatakan tercatat nilai impor rempah Amerika Perkumpulan (AS) dari Indonesia mencapai 45,9 juta dolar atau Sekeliling Rp800 miliar pada tahun 2024. Tingginya nilai ekspor RI ini menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan dan kelancaran akses pasar melalui sistem pengawasan yang kredibel.

Melalui penandatanganan CC pada 15 April 2026, BPOM dan USFDA memperkuat kerja sama dalam pertukaran informasi non-publik. Hal ini sekaligus Demi mendukung peran BPOM sebagai Certifying Entity (CE) dalam penerbitan Shipment-Specific Certificate (SSC) bagi komoditas rempah. Kerja sama ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai Kenalan terpercaya dalam rantai pasok Mendunia.

“Penunjukan BPOM sebagai CE mencerminkan meningkatnya kepercayaan USFDA terhadap sistem pengawasan Indonesia. Ditambah Kembali Begitu ini BPOM dan USFDA juga sama-sama berstatus WHO-Listed Authority (WLA). Kita mengacu pada standar Mendunia yang sama,” kata Taruna Ikrar.

Sejak implementasi skema SSC pada Oktober 2025 hingga akhir April 2026, BPOM telah memproses lebih dari 2.000 pengajuan dan menerbitkan 304 sertifikat Demi 20 perusahaan, dengan nilai ekonomi mencapai Sekeliling 2,8–3 miliar dolar AS atau Sekeliling Rp45 triliun.

SSC menjadi instrumen Krusial dalam memastikan keamanan produk, sekaligus menjaga kelancaran ekspor Indonesia ke pasar Mendunia.

Bagi pelaku usaha, khususnya eksportir rempah, pangan olahan, dan suplemen kesehatan, kerja sama ini memberikan manfaat strategis berupa kepastian regulasi, kemudahan akses pasar ke AS, serta terbukanya Kesempatan ekspor yang lebih luas dan berkelanjutan. Selain itu penguatan sistem sertifikasi dan pengawasan ini turut meningkatkan kepercayaan terhadap produk Indonesia di pasar Mendunia.

Sementara itu bagi masyarakat, lanjutnya, komitmen ini memberikan manfaat Konkret berupa peningkatan jaminan keamanan produk, perlindungan konsumen, serta keberlanjutan ekspor yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Kebutuhan penguatan pengawasan ini muncul setelah ditemukannya cemaran radioaktif Cesium-137 pada produk cengkeh Indonesia pada Agustus 2025 Lewat. Intervensi itu mendorong USFDA menetapkan Import Alert 99-51 dan Import Alert 99-52, serta mekanisme Detention Without Physical Examination (DWPE). Kondisi ini menuntut adanya jaminan keamanan produk yang lebih ketat sebelum memasuki pasar AS.

Sebagai tindak lanjut penandatanganan CC, BPOM menerima kunjungan delegasi USFDA yang berlangsung pada 4–8 Mei 2026 dalam rangka Penyelenggaraan Validasi. Hal tersebut dilakukan Demi menilai secara menyeluruh efektivitas sistem sertifikasi yang dijalankan BPOM, termasuk peninjauan terhadap fasilitas produksi, proses scanning dan sampling, pengujian sampel di laboratorium serta mekanisme Pengkajian dan penerbitan SSC.

Associate Commissioner, Office of Mendunia Policy and Strategy US FDA Mark Abdoo berharap pertukaran informasi antara BPOM dan USFDA semakin diperkuat setelah disepakatinya CC ini.

Senada, perwakilan US FDA Maria Knirk mengapresiasi peran BPOM dalam mendukung kelancaran perdagangan sekaligus menjaga keamanan produk.

“Indonesia merupakan Kenalan dagang yang Krusial, dan peran sebagai certifying entity menjadi kunci dalam mendukung perdagangan serta menjamin keamanan produk,” ujarnya.