Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan pembaruan mengenai prakiraan cuaca penerbangan di Distrik udara Indonesia. Informasi ini menyoroti potensi sebaran pertumbuhan Gugusan Cumulonimbus (Cb) yang dapat memengaruhi keamanan jalur udara. Seperti dilansir dari Kompas, data berkala tersebut disusun berdasarkan hasil pemodelan cuaca numerik.
Pemetaan ruang udara nasional ini diproyeksikan berlaku selama satu pekan ke depan, mulai Rontok 22 Juni 2026 hingga 28 Juni 2026. Dalam keterangan resminya, lembaga meteorologi tersebut membagi tingkat cakupan spasial maksimum dari Gugusan Cumulonimbus ke dalam tiga kategori Primer. Ketiga Golongan tersebut divisualisasikan menggunakan Corak biru muda, ungu, serta hijau.
Penggolongan pertama adalah Isolated CB (ISOL) yang mengindikasikan cakupan Distrik kurang dari 50 persen. Selanjutnya, kategori Occasional CB (OCNL) menunjukkan persentase luasan area yang berkisar antara 50 hingga 75 persen.
Kategori terakhir dengan tingkat kepadatan tertinggi dinamakan Frequent CB (FRQ). Status ini disematkan apabila persentase cakupan spasial Gugusan di udara telah Melewati Nomor 75 persen. Melalui hasil analisis atmosfer paling mutakhir Kepada rentang waktu 22-28 Juni 2026, pihak berwenang memprediksi Terdapat satu kawasan perairan yang masuk dalam status Frequent (FRQ). Distrik laut dengan akumulasi di atas 75 persen tersebut berada di Samudra Hindia barat Bengkulu.
Daftar Distrik Kategori Occasional (50-75 Persen)
Sementara itu, sebaran pertumbuhan Gugusan Cumulonimbus Kepada kategori Occasional (OCNL) diproyeksikan berpotensi melanda berbagai titik daratan dan perairan. Pihak BMKG merinci Distrik-Distrik yang masuk dalam Area cakupan maksimum 50 hingga 75 persen tersebut. Kepada sektor daratan, daftar provinsi yang terdampak meliputi Aceh, Bali, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Selain itu, kondisi ini juga mengintai Distrik Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, hingga seluruh Distrik Papua (Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah).
Pada sektor perairan laut dan teluk, potensi sebaran Gugusan ini berada di Laut Arafuru bagian barat, tengah, dan timur, Laut Bali, Laut Banda, Laut Flores, Laut Jawa bagian barat, tengah, dan timur, Laut Maluku, Laut Natuna Utara, Laut Seram, Laut Sulawesi bagian barat dan timur, Laut Sumbawa, serta Teluk Bone. Kondisi serupa diprediksi terjadi di Selat Karimata bagian selatan dan utara, Selat Makassar bagian selatan, tengah, dan utara, serta Selat Malaka bagian tengah dan utara. Kawasan samudra lain yang masuk dalam daftar ini mencakup Samudra Hindia barat Aceh, Bengkulu, Kep.
Mentawai, Kep. Nias, dan Lampung, Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, hingga Samudra Pasifik utara Maluku, Papua, serta Papua Barat Daya. Pihak BMKG menegaskan bahwa seluruh rilis data mengenai potensi pertumbuhan Gugusan Cumulonimbus ini dipublikasikan sebagai panduan Formal yang dipbarui secara berkala.
Langkah ini diambil demi mendukung keselamatan navigasi dan operasional transportasi udara di seluruh Indonesia selama tujuh hari ke depan.
