KH Arif Hidayat Jelaskan Urgensi dan Arti Keikhlasan dalam Beramal

Ibadah yang dilakukan seorang Muslim memerlukan ketulusan hati agar diterima di sisi Allah SWT. Dilansir dari Sinar, teks Khutbah Jumat yang disusun berdasarkan khutbah Ketua I MUI Kota Tangerang, KH Arif Hidayat, mengulas secara mendalam mengenai pentingnya sikap ikhlas dalam setiap amal perbuatan.

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ .وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ

أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللَّهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّررَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ:

فَيَآأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ .فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّييْطَانِ الرَّجِيْم: قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمmْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

Dalam terminologi Alquran, kata ikhlas berakar dari kata kho-la-sha. Bentukan kata ini muncul sebanyak 30 kali yang tersebar di 17 surat berbeda dalam kitab Kudus umat Islam. Salah satu rujukan Esensial mengenai perlindungan amal dari godaan setan terdapat dalam surat Al-Hijr ayat 39-40.

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

“Ia (Iblis) Berbicara, “Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh Diriku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh Diriku akan menyesatkan mereka Seluruh, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”

Ayat tersebut menginformasikan bahwa setan berupaya keras mengemas kemaksiatan agar tampak sebagai kebaikan di mata Orang. Tetapi, tipu daya tersebut Kagak akan mempan terhadap hamba-hamba Allah SWT yang dianugerahi keikhlasan. Mereka diberikan kejujuran pandangan Buat Menyaksikan kebatilan sebagai kebatilan.

وَفِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ«الَلّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ Bَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Doa ma’tsur yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir Demi menjelaskan surat Al-Baqarah ayat 213 berbunyi: “Ya Allah! perlihatkanlah kepada kami sebuah kebenaran itu kebenaran dan berikanlah kami Buat mengikutinya. Dan perliahtkanlah kepada kami yang bathil itu bathil, dan berikanlah kami Buat menjauhinya, dan jangan jadikan kesamaran yang Membangun kami tersesat. Dan jadikan kami, Imam buat orang yang bertaqwa”

Alquran juga menggunakan kata kho-li-shan Buat menggambarkan kemurnian air susu hewan ternak. Meskipun air susu tersebut diproduksi di dalam perut hewan yang berisi darah dan kotoran, zat tersebut keluar dengan sangat murni tanpa tercampur sedikit pun, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 66.

وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ

“Sesungguhnya pada hewan ternak itu Betul-Betul terdapat pelajaran bagi Anda. Kami memberi Anda minum dari sebagian apa yang Eksis dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah (berupa) susu murni yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya.”

Para Spesialis hikmah memberikan peringatan tegas mengenai pentingnya ketulusan ini melalui sebuah ungkapan bijak.

هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ اِلاَّ الْعَالِمُوْنَ وَهَلَكَ الْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ اِلاَّ الْعَامِلُوْنَ وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ اِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ وَالْمُخْلِصُوْنَ فِىْ خَطَرٍ عَظِيْمٍ.

“Seluruh Orang akan binasa kecuali orang yang berilmu. Seluruh orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas Lagi dalam kekhawatiran yang besar.”

Niat memegang peranan krusial sebagai fondasi awal setiap perbuatan Orang. Hal ini ditegaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Umar bin Khattab RA.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang tergantung atas apa yang dia niatkan.”

Abdurrahman bin Abdussalam ash-Shafûriy dalam kitab Nuzhatul Majâlis menukil petuah dari Syekh Ma’ruf al-Karkhi yang membagi motivasi beramal menjadi tiga golongan.

وَقَالَ مَعْرُوفْ الْكَرْخِي مَنْ عَمِلَ لِلثَّوَابِ فَهُوَ مِنَ التُّجَّارِ

“Barangsiapa beramal supaya dapat pahala, maka ia bagaikan orang yang sedang berdagang.”

وَمَنْ عَمِلَ خَوْفًا مِنَ النَّارِ فَهو َمِنَ الْعَبِيْدِ

“Barangsiapa melakukan sebuah tindakan karena takut neraka, ia termasuk hamba Allah”

وَمَنْ عَمِلَ لِلَّهِ فَهُوَ مِنَ الْأَحْرَارِ

“Dan barangsiapa yang bertindak karena Allah semata, ia merupakan orang yang merdeka.”

Keikhlasan tingkat tinggi diilustrasikan dalam hadits qudsi seperti tangan kanan yang memberi tanpa diketahui oleh tangan kiri. Esensinya, amal kebaikan sebisa mungkin disembunyikan rapat dari penglihatan orang lain.

Uwais al-Qarni, seorang tabi’in terkemuka, mengemukakan pandangannya mengenai keutamaan mendoakan sesama secara sembunyi-sembunyi. Menurutnya, mendoakan Keluarga tanpa sepengetahuan yang bersangkutan jauh lebih Esensial daripada melakukan kunjungan fisik secara langsung.

Penilaian tersebut didasari karena pertemuan langsung berpotensi memunculkan sifat riya atau pamer di dalam hati. Sebaliknya, doa yang dipanjatkan dalam kesunyian malam Demi sendirian di Ruangan merupakan Figur ketulusan yang murni.

Umat Muslim yang mendoakan saudaranya secara Tenang-Tenang akan mendapatkan balasan serupa dari malaikat. Berdasarkan riwayat hadits, malaikat akan mengaminkan doa tersebut dengan mengucapkan laka bimitsli, yang berarti pemohon akan mendapatkan kebaikan yang sama.

Secara definitif, batasan keikhlasan dirumuskan oleh para ulama sebagai bentuk pembersihan motivasi ibadah.

اَلْإِخْلاَصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ اِلَى اللّٰهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَائِبِ

“Ikhlas adalah memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah Ta’âlâ dari segala hal yang mencampurinya.”

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ االسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ Lِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ