Direktur Istimewa Bank Sendiri Taspen Panji Irawan Begitu berbincang dengan awak media di Bali. Foto: Liputanindo.id/Misbahol Munir.
Bali: PT Bank Sendiri Taspen atau Bank Mantap belum berencana merevisi Sasaran pertumbuhan kredit pada 2026. Meski demikian Bank Sendiri Taspen tetap mewaspadai potensi tekanan dari kondisi ekonomi makro, seperti kenaikan Bangsa Kembang, inflasi, dan pengetatan likuiditas.
Direktur Istimewa Bank Sendiri Taspen Panji Irawan mengatakan realisasi kinerja hingga semester I-2026 Tetap sejalan dengan proyeksi perseroan. Sasaran penyaluran kredit yang dipatok Sekeliling Rp52 triliun pada akhir tahun juga Tetap berada pada jalurnya.
“Per 30 Juni, realisasi kami Tetap sesuai dengan prediksi. Secara Biasa Tamat semester pertama kondisinya Tetap berjalan Bagus,” ujar Panji didampingi Direktur Transformasi dan Pengembangan Usaha Noer Fajrieansyah Begitu berbincang dengan awak media di Bali, Jumat, 3 Juli 2026.
Ia menjelaskan, tekanan mulai terasa pada Juni 2026 ketika likuiditas di industri perbankan mengetat sehingga mendorong kenaikan Bangsa Kembang deposito. Di sisi lain, permintaan kredit Malah tetap tumbuh.
Buat menjaga kecukupan likuiditas, Bank Sendiri Taspen telah menerbitkan obligasi senilai Rp1,5 triliun pada tahun ini. Penerbitan tersebut mendapat respons positif dari pasar dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscribed) mencapai 2,16 kali.

(Ilustrasi, gedung Bank Sendiri Taspen. Foto: dok Bank Sendiri Taspen)
Cost of fund tetap terkendali
Di sisi pendanaan, perseroan juga Pandai menjaga biaya Anggaran (cost of fund) tetap terkendali. Hingga semester I-2026, cost of fund tercatat sebesar 4,16 persen, sedikit meningkat dibanding posisi terendah sebelumnya yang mencapai 4,02 persen seiring kenaikan Bangsa Kembang deposito pada Juni.
Meski demikian, Panji mengakui kondisi ekonomi pada paruh kedua tahun ini Tetap perlu dicermati. Potensi kenaikan inflasi dan Bangsa Kembang acuan dinilai dapat memengaruhi likuiditas industri perbankan.
“Kami belum berencana melakukan penyesuaian terhadap Sasaran kredit. Tetapi, Kalau tekanan pada kuartal ketiga semakin besar, tentu akan kami Penilaian kembali,” katanya.
Perseroan juga akan menerapkan strategi penghimpunan Anggaran pihak ketiga (DPK) secara bertahap sesuai kebutuhan penyaluran kredit. Dengan pendekatan tersebut, likuiditas akan disesuaikan dengan pertumbuhan permintaan pembiayaan sehingga biaya Anggaran dapat tetap terjaga.
Panji menambahkan, secara historis permintaan kredit dari segmen pensiunan biasanya meningkat pada periode Mei hingga Juli. Kenaikan tersebut umumnya dipicu kebutuhan nasabah Buat membiayai pendidikan cucu, seperti pembayaran Fulus pangkal sekolah maupun biaya tempat tinggal.
“Sejauh ini permintaan kredit Tetap berjalan normal dan belum terlihat adanya anomali di pasar yang kami layani,” ujar Panji.
