Antara Algoritma dan Gentong Babi: Paras Ganda Demokrasi 5.0

Foto BeritaJatim.com

Dunia hari ini sedang terobsesi dengan Nomor ‘5.0’. Sebuah visi peradaban di mana teknologi bukan Tengah sekedar alat, melainkan ruh yang menyatu dengan kemanusiaan Demi menyelesaikan masalah sosial.

Dalam politik, kita membayangkan sebuah Demokrasi 5.0 yang transparan, berbasis data, dan bebas dari bias Insan yang korup. Tetapi, di balik kemilau layar sentuh dan integrasi Artificial Intelligence, Terdapat sebuah hantu Sepuh yang menolak pergi dari Mimbar kekuasaan kita Merukapan “Politik Gentong Babi” (Pork Barrel Politics).

Demi memahami mengapa istilah ini terdengar begitu “amis”, kita harus kembali ke Amerika Perkumpulan abad ke-19. Kala itu, daging babi asin disimpan dalam gentong-gentong kayu besar. Di perkebunan-perkebunan, para pemilik budak akan membagikan daging tersebut kepada para budak sebagai bentuk “kebaikan hati”.

Situasinya kompetitif dan brutal: siapa yang Segera, dia yang dapat daging paling banyak. Praktik ini kemudian menjadi metafora politik yang sempurna pada tahun 1870-an.

APBN diibaratkan sebagai gentong daging tersebut. Para politisi berlomba-lomba “mencuwil” atau menyisipkan anggaran negara Demi dibawa pulang ke daerah pemilihannya (dapil) masing-masing guna mengamankan Bunyi. Filosofinya sederhana Tetapi merusak: kepatuhan rakyat dibeli dengan “potongan daging” yang sebenarnya adalah Punya mereka sendiri.

Dalam diskursus politik modern, ‘Politik Gentong Babi’ adalah bentuk evolusi dari ‘money politic’. Apabila politik Duit konvensional bersifat transaksional langsung—”serangan fajar” berupa amplop—maka gentong babi adalah ‘politik Duit yang dilegalkan’.

Politisi Tak Tengah merogoh kocek pribadi; mereka menggunakan tangan negara, berupa ‘Donasi’ dengan pamrih politik simpati, Bagus Donasi sosial, Donasi hibah, Donasi Kontan langsung hingga ‘bingkisan’ Demi kanalisasi kegeraman jadi hiburan. Rekanan kekuasaan di sini bergeser menjadi ‘klientelisme’. Rakyat Tak Tengah Menyaksikan wakilnya sebagai penyambung lidah aspirasi ideologis, melainkan sebagai “Sinterklas” Pemandu proyek dan Donasi Begitu ekonomi sulit. Kekuasaan Tak Tengah dipertahankan dengan adu gagasan, melainkan dengan adu beton. Siapa yang paling kuat “nitip” proyek jalan desa, gapura, atau hibah bansos di menit-menit terakhir menjelang pemilu, dialah yang akan bertahta kembali.

Di sinilah kaitan eratnya dengan korupsi. Politik gentong babi jarang sekali mengikuti rencana induk pembangunan nasional (seperti RPJMN atau RPJMD). Karena sifatnya yang tiba-tiba muncul sebagai “pokok pikiran” atau titipan Member dewan, proses tender dan pengawasannya seringkali prematur.
Program-proyek ini menjadi ladang basah bagi korupsi struktural. Karena tujuannya adalah Gambaran politik instan, kualitas bangunan seringkali nomor sekian; Donasi-Donasi seperti obat gosok pegal linu. Yang Krusial adalah Terdapat peresmian, Terdapat foto, Terdapat onten Demi viral, dan Terdapat plang nama politisi yang menempel.

Akibatnya, anggaran negara bocor Demi proyek-proyek mercusuar yang Tak krusial, sementara kebutuhan Mendasar bangsa seringkali terabaikan karena kalah dalam lobi-lobi “Salin guling” anggaran (logrolling).
Ironisnya, di ambang Demokrasi 5.0, teknologi Bahkan berisiko memperparah praktik purba ini. Dengan ‘big data’, politisi kini Dapat memetakan secara presisi Daerah mana yang suaranya paling “murah” Demi dibeli dengan proyek fisik atau bansos. Algoritma digunakan bukan Demi memeratakan kesejahteraan, melainkan Demi efisiensi penyebaran “daging babi”.

Apabila kita Tak waspada, Demokrasi 5.0 hanya akan menjadi bungkus canggih bagi praktik Klasik yang sudah diingatkan sejak tahun-tahun sebelum masehi: penguasa yang memanipulasi hasil tanah rakyat demi melanggengkan kekuasaan birokratnya.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi hanyalah hiasan Apabila mentalitas politik kita yang Tetap terjebak di dalam gentong. Demokrasi yang sehat menuntut rakyat yang sadar bahwa aspal yang mulus dua bulan sebelum pemilu bukanlah hadiah, melainkan hak yang selama ini disandera. Selama kita Tetap Dapat “disogok halus” dengan proyek titipan, bansos pencitraan maka Nomor 5.0 di belakang kata demokrasi hanyalah sekedar versi pembaruan perangkat lunak, sementara perangkat keras manusianya Tetap menjalankan program koruptif yang sama sejak abad ke-19.

Politik Gentong Babi adalah seni menggunakan Duit rakyat Demi Membangun rakyat merasa berutang budi kepada politisi. Jadi, sebelum berterima kasih pada “Bapak/Ibu Aspirasi”, cek dulu dompet pajak kita—jangan-jangan kita sedang merayakan jembatan baru yang dibangun dari potongan masa depan kita sendiri. [Hadipras]