Direktur Primer Bank Berdikari Taspen Panji Irawan (kiri) didampingi Direktur Transformasi dan Pengembangan Usaha Noer Fajrieansyah (kanan) Begitu berbincang dengan awak media di Bali. Foto: Liputanindo.id/Misbahol Munir
Bali: Direktur Primer Bank Berdikari Taspen Panji Irawan menilai Indonesia perlu segera memperkuat pengembangan silver economy atau ekonomi perak sebagai strategi menghadapi penurunan Bilangan Natalis dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia).
Menurut Panji, Indonesia kini memasuki fase transisi demografi. Narasi bonus demografi yang selama ini menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi mulai bergeser seiring meningkatnya usia Cita-cita hidup dan melambatnya Bilangan Natalis.
“Berkurangnya penduduk usia muda Enggak boleh dipandang sebagai ancaman semata. Golongan lansia Malah harus diposisikan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang produktif,” kata Panji didampingi Direktur Transformasi dan Pengembangan Usaha Noer Fajrieansyah dalam acara Media Gathering di Bali, Jumat, 3 Juli 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) menunjukkan proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen. Bilangan tersebut telah melewati ambang batas 10 persen yang menjadi indikator suatu negara memasuki struktur penduduk menua (ageing society).
Di sisi lain, usia Cita-cita hidup masyarakat Indonesia meningkat menjadi Sekeliling 74,15 tahun, sementara Bilangan Natalis total (Total Fertility Rate/TFR) Maju melandai menjadi 2,13. Kondisi ini menyebabkan rasio ketergantungan lansia Maju meningkat.
Perubahan tersebut kata Panji harus direspons melalui pengembangan ekonomi perak. Menurutnya, Golongan usia di atas 50 tahun Begitu ini Mempunyai Tanda khas berbeda dibanding generasi sebelumnya karena lebih sehat, Mempunyai daya beli, aset keuangan, serta semakin akrab dengan teknologi.
Perkembangan tersebut mendorong tumbuhnya berbagai sektor usaha baru, mulai dari layanan kesehatan berbasis teknologi (health-tech), pariwisata ramah lansia, produk nutrisi Tertentu, hingga hunian terpadu bagi lansia (senior living). Selain membuka Kesempatan investasi, sektor tersebut juga dinilai Bisa menggerakkan UMKM.
Jumlah penduduk lansia sendiri diperkirakan Maju meningkat hingga mencapai Sekeliling 65,82 juta jiwa pada 2045.

Ilustrasi. Foto: Pixabay.
Panji menambahkan konsep ekonomi perak juga mendorong penerapan active ageing, yakni memberikan kesempatan bagi lansia yang Tetap sehat Demi tetap berkontribusi melalui pekerjaan yang Luwes, seperti konsultan, mentor, maupun wirausahawan.
“Pendekatan ini Enggak hanya meningkatkan kesejahteraan pensiunan melalui tambahan pendapatan, tetapi juga menjaga kualitas hidup mereka dengan dukungan layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan komunitas yang memadai,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan ekonomi perak memerlukan dukungan kebijakan pemerintah. Salah satunya melalui Insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja senior, penguatan sistem jaminan sosial dan investasi hari Sepuh, serta pemberian kemudahan fiskal bagi industri yang menyediakan layanan dan infrastruktur ramah lansia.
Menurut Panji, rekomendasi yang telah disampaikan dalam Laporan Kependudukan Indonesia yang disusun Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Berbarengan UNFPA perlu segera diterjemahkan menjadi kebijakan yang konkret.
“Penguatan silver economy bukan hanya bentuk penghargaan kepada lansia, tetapi juga strategi ekonomi Demi menjaga pertumbuhan Indonesia tetap inklusif dan berkelanjutan di tengah perubahan struktur demografi,” kata Panji.
