Madiun (Liputanindo.id) – Bukan hanya berfokus pada bagian daging, pemeriksaan hewan kurban di Kabupaten Madiun, juga menyasar bagian organ dalam sapi.
Demi proses penyembelihan Idul Adha 2026, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Madiun meningkatkan pengawasan terhadap hati, paru-paru, limpa hingga jantung sapi. Guna mencegah Intervensi penyakit berbahaya seperti cacing hati.
Pemeriksaan postmortem dilakukan petugas DKPP di sejumlah titik penyembelihan hewan kurban, salah satunya di rumah pemotongan hewan Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Rabu (27/5/2026).
Petugas memeriksa organ dalam sapi sesaat setelah penyembelihan. Bagian hati menjadi Pusat perhatian Primer lantaran paling rentan terserang parasit cacing hati yang dapat memengaruhi kualitas dan keamanan pangan.
Petugas DKPP Kabupaten Madiun, drh Denny Irawan, mengatakan pemeriksaan dilakukan secara detail Buat memastikan seluruh bagian hewan kurban layak dikonsumsi masyarakat.
“Pemeriksaan kami Pusat perhatian pada organ dalam seperti hati, paru-paru, jantung, dan limpa. Kalau ditemukan perubahan yang mengarah pada penyakit, terutama di bagian hati, organ tersebut langsung kami afkir,” ujarnya.
Menurutnya, hati sapi yang sehat Mempunyai Rona merah cerah, permukaan halus, dan bagian tepi yang runcing. Sementara hati yang terindikasi cacing biasanya tampak pucat, membengkak, hingga mengeluarkan cairan kekuningan Demi dibelah.
“Biasanya Terdapat nodul atau bercak seperti keju di hati, pinggirannya tumpul, Lewat muncul cairan kuning dan terlihat cacing kecil berbentuk pipih seperti daun,” jelasnya.
Meski pengawasan dilakukan ketat, hingga pemeriksaan di Posisi penyembelihan Desa Sidorejo, petugas belum menemukan adanya kasus cacing hati maupun kelainan organ lainnya.
“Dari belasan sapi yang diperiksa pagi ini, kondisinya Lagi Kondusif dan belum Terdapat Intervensi cacing hati,” katanya.
DKPP Kabupaten Madiun juga menerjunkan tim pemeriksa ke berbagai kecamatan selama Idul Adha berlangsung, terutama di Posisi penyembelihan dengan jumlah hewan kurban yang tinggi.
Apabila ditemukan organ yang terinfeksi, petugas meminta jeroan tersebut Bukan dikonsumsi dan segera dimusnahkan. Tetapi daging sapi tetap dapat dikonsumsi selama Bukan ditemukan gangguan kesehatan lain pada hewan.
“Kalau hanya organ tertentu yang bermasalah, cukup bagian itu yang dibuang. Dagingnya Lagi Kondusif dikonsumsi,” terang drh Denny.
Sementara itu, pengelola penyembelihan di Desa Sidorejo, Samirin, mengatakan pada hari pertama Idul Adha pihaknya menyembelih 16 ekor sapi. Jumlah tersebut diperkirakan Lalu bertambah hingga mencapai Sekeliling 40 ekor selama tiga hari Penyelenggaraan kurban.
“Mayoritas Kaum Sekeliling memilih menyembelih di sini karena fasilitasnya lebih memadai dibanding memotong sendiri di rumah,” ujar Samirin.
Selain digunakan Demi Idul Adha, tempat penyembelihan tersebut juga kerap dimanfaatkan Kaum Buat kebutuhan hajatan maupun akikah dalam skala kecil. (rbr/ted)
