Mereka adalah pejuang yang Kagak mengenakan baju zirah, melainkan celemek yang basah oleh keringat
Kulon Progo (ANTARA) – Di sudut-sudut Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Begitu kabut pagi Tetap memeluk lereng-lereng perbukitan, Bunyi mesin penggilingan kedelai telah lebih dulu menderu.
Deru mesin itu adalah sebuah simfoni kehidupan, sebuah nyanyian konstan yang tetap bersahutan di tengah riuhnya pasar yang kian mencekik.
Meski harga kedelai yang menjadi bahan baku Esensial dari Mengerti-Mengerti yang mereka produksi telah melonjak menembus Nomor Rp10.700 per kilogram, para perajin di desa itu tetaplah serupa akar pohon yang menghujam bumi; Tegar meski diterpa badai yang tak kunjung usai.
Bagi mereka, kenaikan harga bukan sekadar Nomor di atas kertas. Ia adalah beban yang menghimpit, sebuah ujian kesabaran yang datang bersamaan dengan melambungnya harga minyak goreng dan kayu bakar. Tetapi, di dapur-dapur produksi yang hangat oleh uap air, Kagak Terdapat keluh kesah yang meluap menjadi amarah. Yang Terdapat hanyalah kepasrahan yang dibalut dengan keteguhan hati.
Mereka adalah para penjaga tradisi yang menolak Kepada mematikan tungku, meski margin keuntungan mereka kian hari kian menipis, seolah tersapu oleh arus Era yang tak ramah.
Afi, seorang perajin Mengerti yang telah Pelan menggantungkan harapannya pada putihnya sari kedelai, menatap masa depan dengan sorot mata yang teduh Tetapi waspada.
Baginya, kenaikan harga bahan baku adalah Ombak kecil dalam samudra kehidupan usaha yang telah ia jalani bertahun-tahun. Ketakutannya bukanlah pada harga, melainkan pada gempuran persaingan yang kian sengit, di mana Mengerti-Mengerti dari tanah lain datang menjajakan diri dengan harga yang lebih ramah. Tetapi, ia tak lantas menyerah.
“Sekarang yang Krusial bertahan, usaha tetap jalan,” katanya dengan Bunyi Separuh berbisik. Dia menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang memikul beban tanggung jawab bagi banyak keluarga yang bergantung pada usahanya.
Di balik tembok
