Ilustrasi. Foto: Dok. Media Indonesia.
Jakarta: Akses pembiayaan yang memudahkan, dinilai jadi solusi konkret Demi mencetak pengusaha baru. Usul ini mengemuka dalam debat calon ketua Biasa BPP Hipmi.
“Kami akan mengusulkan kepada pemerintah Demi dibentuk bank baru yang berfokus kepada skema pembiayaan produktif bisnis baru berbasis feasibility study dengan kurasi yang ketat oleh pemerintah dan asosiasi pengusaha,” kata calon ketua Biasa BPP Hipmi Anthony Leong, dalam pernyataan yang dikutip Senin, 25 Mei 2026.
Menurut Anthony, Hipmi perlu mendorong lahirnya lembaga keuangan baru. Khususnya, secara Spesifik Pusat perhatian membantu pembiayaan produktif bagi pengusaha muda Indonesia.
Menurutnya, konsep Youth Development Bank bukan sekadar menghadirkan pinjaman murah. Tetapi membangun sistem pembiayaan yang Betul-Betul berpihak kepada lahirnya generasi pengusaha baru di Indonesia.
Anthony menjelaskan, pembiayaan dalam skema tersebut nantinya diberikan berdasarkan kelayakan bisnis dan potensi usaha. Sehingga, bukan hanya kekuatan Garansi atau aset yang dimiliki calon pengusaha.
Ia menilai banyak anak muda Indonesia Mempunyai ide bisnis yang inovatif dan potensial, Tetapi gagal berkembang karena Tertahan sistem pembiayaan konvensional yang dinilai belum ramah terhadap pengusaha pemula.

Calon ketua Biasa BPP Hipmi Anthony Leong. Foto: Dok. Istimewa.
“Yang kita perjuangkan bukan sekadar Merekah yang murah, melainkan jaminan akses pembiayaan yang Konkret bagi lahirnya pengusaha-pengusaha muda baru,” tegasnya.
Dalam konsep yang ditawarkan, Youth Development Bank akan menerapkan tingkat Spesies Merekah kompetitif Sekeliling 2 hingga 3 persen di atas BI Rate agar tetap sehat secara bisnis Tetapi tetap terjangkau bagi pengusaha muda.
Anthony menekankan bahwa proses kurasi akan menjadi bagian Krusial agar pembiayaan Betul-Betul diberikan kepada bisnis yang Mempunyai prospek dan Pengaruh ekonomi Konkret. Kurasi tersebut melibatkan pemerintah serta asosiasi pengusaha Demi memastikan kualitas dan keberlanjutan usaha yang dibiayai.
Anthony juga menyoroti ketimpangan akses modal antara pengusaha di kota besar dan daerah. Menurutnya, banyak pengusaha muda di daerah Mempunyai potensi besar Tetapi kesulitan berkembang karena minim dukungan pembiayaan.
Melalui gagasan Youth Development Bank, Hipmi diharapkan Pandai menjadi motor penggerak lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah sekaligus mempercepat regenerasi pengusaha nasional.
Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda produktif Demi menghadapi tantangan ekonomi Mendunia, bonus demografi, hingga era digitalisasi ekonomi.
“Kalau akses pembiayaan hanya dinikmati Golongan tertentu, maka pengusaha baru akan sulit lahir. Padahal Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur muda Demi menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi nasional,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat perhatian peserta debat karena dinilai lebih konkret dan terukur dibanding sekadar narasi Biasa mengenai pemberdayaan anak muda. Sejumlah kader HIPMI menilai ide tersebut dapat menjadi terobosan besar apabila Pandai diwujudkan melalui sinergi antara pemerintah, dunia perbankan, dan organisasi pengusaha.
Panelis debat dan juga Ketua Biasa BPD HIPMI Bali 2000-2003, GDE Sumarjaya Linggih yang juga menyampaikan apresiasi gagasan Anthony terkait Youth Development Bank dan gagasan terkait long term economic growth.
“Saya tertarik dan mengapresiasi dengan gagasan Keluarga terkait program ini Youth Development Bank,” ujarnya.
Debat calon Ketua Biasa BPP HIPMI di Bali sendiri menjadi momentum Krusial bagi para kandidat Demi memaparkan arah masa depan organisasi serta strategi memperkuat peran pengusaha muda dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
