Trump–Xi Jinping: China dan AS bakal jadi ‘Kawan, bukan rival’

Trump, Xi Jinping, China

Waktu membaca: 5 menit

Presiden China, Xi Jinping, menyerukan agar China dan Amerika Perkumpulan menjadi “Kawan, bukan rival”. Hal itu diutarakannya menjelang pembicaraan Krusial dengan Presiden AS, Donald Trump, di Beijing, China, Kamis (14/05).

Menanggapi hal itu, Trump menyebut Xi sebagai “pemimpin besar” dan mengatakan Interaksi kedua negara adidaya tersebut akan menjadi “lebih Bagus dari sebelumnya”.

Sejumlah topik sensitif diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk tarif perdagangan, persaingan teknologi, perang Iran, dan Taiwan.

Menjelang pertemuan, Xi dan Trump berjabat tangan di atas karpet merah di luar Balai Akbar Rakyat di Beijing—keduanya juga disambut anak-anak yang bersorak serta melakukan Pengawasan Laskar.

Trump hadir di Beijing Berbarengan sejumlah petinggi perusahaan teknologi, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Jensen Huang dari Nvidia.

Sebelum kedatangannya, Trump mengatakan akan meminta China Kepada “membuka diri” bagi industri AS.

Trump, yang terakhir kali mengunjungi China pada 2017, kini kembali ke negara yang semakin kuat dan semakin asertif, yang berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan Kukuh.

Kedua pemimpin dijadwalkan menghadiri jamuan kenegaraan pada Kamis (14/05) malam.

Kunjungan ini semula dijadwalkan berlangsung pada Maret, Tetapi ditunda akibat perang Iran.

Apa yang dikatakan Xi Jinping di hadapan Trump?

Dalam pernyataan pembukanya, Xi mengatakan bahwa “seluruh dunia tengah menyaksikan pertemuan kita”.

Begitu ini, lanjut Xi Jinping, perubahan yang belum terlihat dalam satu abad sedang dipercepat di seluruh dunia dan situasi Global bersifat Bergerak serta bergejolak.

“Dunia telah Tamat pada persimpangan baru. Dapatkah China dan AS menghindari jebakan Thukydides dan menciptakan paradigma baru Interaksi? Dapatkah kita Berbarengan menghadapi tantangan Dunia dan memberikan stabilitas lebih bagi dunia? Dapatkah kita, demi kepentingan dunia, kedua bangsa kita, dan masa depan umat Mahluk, membangun masa depan yang lebih cerah bagi Interaksi bilateral kita?” kata Xi Jinping.

Trump dan Xi di Beijing

“Pertanyaan-pertanyaan ini Krusial bagi sejarah, bagi dunia, dan bagi rakyat. Ini adalah pertanyaan Era kita yang harus dijawab oleh Anda dan saya sebagai pemimpin negara-negara besar,” tambahnya.

Xi juga mengucapkan selamat kepada Trump dan AS atas peringatan 250 tahun kemerdekaan negara itu.

Dia Lewat berujar: “Saya selalu percaya bahwa kedua negara kita Mempunyai lebih banyak kepentingan Berbarengan daripada perbedaan. Keberhasilan satu pihak merupakan Kesempatan bagi pihak lain, dan Interaksi bilateral yang Kukuh Bagus bagi dunia”.

Xi kemudian Berbicara: “China dan AS sama-sama akan memperoleh manfaat dari kerja sama dan menderita kerugian dari konfrontasi.”

“Kita Sebaiknya menjadi Kawan, bukan pesaing. Kita harus saling membantu Kepada meraih keberhasilan dan kemakmuran, serta menemukan Metode yang Pas bagi negara-negara besar Kepada hidup berdampingan di era baru.”

Xi mengatakan dia menantikan Obrolan dengan Trump dan “bekerja sama dengan Anda Kepada menetapkan arah serta mengemudikan kapal besar Interaksi China-AS, sehingga menjadikan tahun 2026 sebagai tonggak sejarah yang membuka babak baru.”

‘Merupakan kehormatan menjadi sahabat Anda’, kata Trump

Dalam pernyataan pembukanya, Trump mengatakan merupakan sebuah “kehormatan” dapat Bersua dengan Xi hari ini.

“Merupakan kehormatan menjadi sahabat Anda,” tambahnya.

Presiden AS itu menyebut dirinya membawa “para pemimpin bisnis terbaik di dunia” dalam kunjungan ini.

Trump, Xi Jinping, China

“Hanya orang-orang teratas yang hadir hari ini Kepada memberikan penghormatan kepada Anda,” ujarnya.

Trump juga menambahkan bahwa sejumlah pihak menyebut pertemuan ini sebagai “pertemuan puncak terbesar yang pernah Terdapat”, dan dia mengatakan menantikan pembicaraan tersebut.

Soal Taiwan dan kemungkinan sikap Trump

Para analis memperkirakan Taiwan akan menjadi salah satu topik Penting dalam agenda pertemuan ini.

Xi disebut dapat memanfaatkan kesempatan tersebut Kepada menekan Trump agar menghentikan penjualan senjata ke pulau yang Mempunyai pemerintahan sendiri itu.

“Yang menjadi kekhawatiran adalah Trump Dapat saja mengalah, dalam bentuk tertentu, ketika Xi Jinping menekannya seperti yang selalu ia lakukan terkait isu ini,” kata Julian Gewirtz, mantan direktur senior Kepada Urusan China dan Taiwan di Dewan Keamanan Nasional AS.

China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan pada akhirnya akan berada di Rendah kendali Beijing, serta Kagak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan Kepada mencapai tujuan tersebut.

Taiwan, China, Trump, Xi Jinping

AS menganut kebijakan Satu China, Tetapi tetap mempertahankan Interaksi Kagak Formal yang kuat dengan Taiwan—serta Mempunyai kewajiban hukum Kepada menyediakan sarana bagi pulau tersebut Kepada membela diri.

Meski para presiden AS selama beberapa Dasa warsa berpegang pada pendekatan ini, Gewirtz mengatakan kepada BBC bahwa Trump “Kagak Menonton Taiwan dengan sudut pandang yang sama”.

“Dalam beberapa kesempatan, dia mengeluhkan Kendali Taiwan dalam industri semikonduktor,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa presiden juga menyoroti bahwa secara geografis Taiwan jauh lebih dekat ke pesisir China dibandingkan ke Amerika Perkumpulan.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.