Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Anggaran stabilisasi obligasi atau bond stabilization fund dapat melibatkan sumber pendanaan dari lembaga di Rendah Kemenkeu, termasuk special mission vehicle (SMV), guna menjaga stabilitas pasar surat utang domestik.
“Kalau fund betulan kan, desain lamanya itu Terdapat beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV yang di Rendah Kementerian Keuangan, itu Dapat ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu utamanya. Jadi, bukan SAL saja,” kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis.
Purbaya menegaskan bahwa pembentukan Anggaran stabilisasi obligasi bertujuan menjaga pasar surat utang tetap Konsisten dan Bukan mudah digoyang investor asing.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai Salin rupiah.
Ia menilai tekanan di pasar obligasi dalam beberapa bulan terakhir dipicu arus keluar modal asing dari pasar surat utang domestik yang mendorong kenaikan yield secara Segera.
Menurutnya, volume arus keluar tersebut Bukan terlalu besar, Tetapi telah ikut mengganggu stabilitas nilai Salin rupiah.
“Kalau Hanya Rp1-2 triliun Semestinya kita Dapat kendalikan dengan mudah. Jadi, saya akan coba ikut berkontribusi, membantu bank sentral Kepada mengendalikan. Kalau Dapat. Kalau Bukan Dapat, ya sudah,” kata dia.
Purbaya menambahkan bahwa implementasi Anggaran stabilisasi obligasi Tetap akan dibahas lebih lanjut Serempak otoritas terkait, termasuk mengenai mekanisme pelaksanaannya, serta diharapkan mulai berjalan dalam waktu dekat.
Sebelumnya pada Rabu (6/5/2026), Menkeu mengungkapkan rencana mengaktifkan Anggaran stabilisasi obligasi sebagai salah satu upaya menstabilkan nilai Salin rupiah.
“Di pemerintah, saya punya bond stabilization fund sendiri yang Terdapat beberapa pihak. Kita juga Dapat mencukupi dengan Anggaran sendiri Kepada sementara,” kata Purbaya.
Anggaran ini disiapkan Kepada menstabilkan pasar obligasi atau surat utang dengan membeli kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder yang dilepas oleh investor.
Strategi itu dilakukan Kepada menjaga imbal hasil (yield) SBN agar tetap Konsisten, sehingga investor asing yang menyimpan surat utang Bukan mengalami kerugian modal (capital loss).
Tetapi, Anggaran yang disiapkan oleh Purbaya ini mempunyai kerangka yang berbeda dengan bond stabilization framework (BSF), yang dimiliki oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Menurutnya, Anggaran stabilisasi obligasi ini telah dimiliki oleh Kementerian Keuangan, Tetapi sudah Bukan aktif karena tak pernah digunakan.
