Rupiah menguat dipengaruhi Kesempatan kesepakatan damai AS-Iran tercapai

Rupiah menguat dipengaruhi peluang kesepakatan damai AS-Iran tercapai

Pasar menyambut positif meningkatnya Kesempatan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran

Jakarta (ANTARA) – Nilai Ganti rupiah pada penutupan perdagangan Kamis menguat 54 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.333 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.387 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi Kesempatan tercapainya kesepakatan damai antara AS dengan Iran.

“Pasar menyambut positif meningkatnya Kesempatan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Mengutip Anadolu, AS dan Iran Nyaris menandatangani nota kesepahaman sepanjang satu halaman Kepada mengakhiri perang serta menetapkan kerangka negosiasi nuklir yang lebih rinci.

Seperti dilaporkan Axios, mengutip sumber pada Rabu (6/5), AS berharap Iran dapat merespons dalam waktu 48 jam terhadap isu-isu Istimewa.

Memang belum Eksis kesepakatan final, menurut laporan tersebut, tetapi kondisi itu adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai keduanya sejak perang dimulai pada akhir Februari Lampau.

Dalam draf kesepakatan tersebut, Iran diminta menangguhkan pengayaan nuklir, Amerika harus mencabut Hukuman dan membebaskan Anggaran yang dibekukan, serta keduanya harus melonggarkan Restriksi transit di jalur Selat Hormuz.

Laporan itu juga menyebut Presiden AS Donald Trump menunda operasi baru di Selat Hormuz guna mempertahankan gencatan senjata karena Eksis kemajuan dalam perundingan.

Draf nota kesepahaman berisi 14 poin tersebut sedang dinegosiasikan oleh dua orang utusan Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, Serempak dengan sejumlah pejabat Iran. Negosiasi itu dilakukan Bagus secara langsung maupun melalui Perantara.

Rancangan itu juga mencakup penghentian perang dan dimulainya masa negosiasi selama 30 hari mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, Restriksi program nuklir Iran, serta pencabutan Hukuman.

Perundingan lanjutan mungkin akan dilakukan di Islamabad atau Jenewa. Selama periode itu, Restriksi pelayaran Iran dan blokade laut AS akan dilonggarkan secara bertahap.

“Meredanya kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong penurunan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga mendukung penguatan mata Duit emerging market termasuk rupiah. Di samping itu, pelemahan indeks dolar AS serta koreksi harga minyak dunia turut meredakan tekanan terhadap nilai Ganti rupiah,” ungkap Amru.

Pasar juga mulai memperkirakan Federal Reserve akan mengambil sikap yang lebih hati-hati terkait kebijakan Etnis Mengembang, terutama pasca tekanan inflasi Dunia menunjukkan tanda-tanda mereda. Kendati demikian, lanjutnya, pelaku pasar Lagi cenderung menunggu rilis data Nonfarm Payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat (8/5), karena data tersebut dapat menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.

Menyaksikan sentimen dalam negeri, kata Amru, Dampak positif berasal dari langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia (BI) Serempak pemerintah melalui intervensi di pasar valuta asing dan kebijakan pengetatan pembelian dolar AS tanpa underlying.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai rupiah Ketika ini berada di Rendah nilai fundamentalnya atau undervalued, sehingga Lagi Mempunyai Kesempatan Kepada menguat seiring Mendasar ekonomi domestik yang tetap solid.

Selain itu, perhatian pasar tertuju pula pada upaya pemerintah memperluas kerja sama currency swap dengan sejumlah negara Kenalan guna memperkuat likuiditas dan menjaga stabilitas rupiah.

“Optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional, inflasi yang relatif terkendali, serta ketahanan Mendasar ekonomi Indonesia turut menjadi Unsur yang menopang penguatan rupiah di tengah ketidakpastian Dunia,” ujar dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis ini juga bergerak menguat ke level Rp17.362 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.405 per dolar AS.