Umat Islam Tradisikan Sambut Jemaah Haji karena Diyakini Diikuti Malaikat

Tradisi penyambutan jemaah haji yang baru kembali dari Tanah Bersih menjadi fenomena Terkenal di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Banyak Penduduk bergegas bersalaman, meminta doa, hingga menggelar acara syukuran karena meyakini adanya keberkahan Tertentu dari rukun Islam kelima ini.

Masyarakat memercayai bahwa orang yang baru pulang haji akan diikuti oleh malaikat hingga tiba di rumahnya, seperti dilansir dari Terang. Pembahasan mengenai fenomena ini Rupanya dapat ditemukan dalam sejumlah literatur Islam klasik yang mengulas tentang Sopan santun safar atau perjalanan.

Keyakinan ini berkaitan dengan hadits tentang perjalanan yang dilakukan dalam rangka mencari ridha Allah SWT. Perjalanan bernilai ibadah tersebut Tak hanya mencakup haji dan umrah, tetapi juga menuntut ilmu, berdakwah, hingga bersilaturahmi.

Dalam Naskah Kewajiban dan Sopan santun Musafir karya A. Aziz Salim Basyarahil, terdapat kutipan riwayat dari Serbuk Hurairah RA mengenai dua panji di pintu rumah setiap orang yang pergi.

“Tak seorang keluar meninggalkan rumahnya kecuali di pintu rumahnya Eksis dua panji. Sebuah di tangan malaikat dan sebuahnya Kembali di tangan setan. Kalau tujuannya kepada apa yang diridhai Allah Azza Wa Jalla, maka dia diikuti malaikat dengan panjinya Tamat dia pulang ke rumahnya. Apabila tujuannya kepada apa yang dimurkai Allah, maka setan dengan panjinya mengikutinya Tamat dia pulang ke rumahnya.” (HR Ahmad dan At-Thabarani)

Para ulama menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan perjalanan Buat tujuan Bagus mendapat pendampingan serta perlindungan malaikat selama safar berlangsung. Sebagian ulama kemudian mengaitkan keutamaan perjalanan mulia ini dengan para jemaah haji.

Meski demikian, sejumlah Ahli hadits mengingatkan pentingnya meneliti kualitas sanad dan derajat hadits tersebut sebelum menjadikannya landasan hukum Niscaya. Penghormatan kepada orang yang baru berhaji sendiri sudah berlangsung sejak masa generasi salaf karena pengorbanan harta, tenaga, waktu, dan kesabaran mereka.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Hajj yang diterjemahkan Mujiburrahman menjelaskan bahwa para ulama terdahulu Mempunyai kebiasaan menyambut jemaah haji dengan penuh penghormatan. Mereka mendatangi para haji yang baru tiba, menjabat tangan, dan meminta doa sebelum jemaah kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Kebiasaan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa para haji baru saja memperoleh ampunan dari Allah SWT setelah menyelesaikan ibadahnya. Anjuran meminta doa ini juga Mempunyai landasan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar RA.

“Apabila engkau berjumpa dengan orang yang baru pulang haji, maka ucapkan salam kepadanya, jabat tangannya, dan mintalah dia memohonkan ampunan untukmu sebelum dia memasuki rumahnya karena dia adalah orang yang diampuni.” (HR Ahmad)

Riwayat tersebut menjadi dasar munculnya tradisi Penduduk meminta doa kepada jemaah yang baru tiba dari Makkah. Dalam Naskah Fiqih Haji dan Umrah karya Prof. Wahbah Az-Zuhaili, dijelaskan bahwa haji mabrur merupakan ibadah yang balasannya langsung dijanjikan surga sehingga memosisikan pelakunya pada kedudukan spiritual yang mulia.

Masyarakat juga mengenal anggapan bahwa doa orang yang baru pulang haji mustajab selama 40 hari. Pendapat ini dapat ditemukan dalam penjelasan ulama mazhab Syafi’i, Syekh Sulaiman Al-Bujairami, dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairami ‘Ala Al-Khatib.

Syekh Sulaiman Al-Bujairami menjelaskan bahwa seorang haji dianjurkan Buat mendoakan orang lain, dan kaum Muslim pun dianjurkan meminta doa kepada mereka. Anjuran meminta doa tersebut berlaku hingga 40 hari sejak kepulangan jemaah haji.

Masa-masa awal setelah kembali dari Tanah Bersih dipandang sebagai waktu yang penuh keberkahan Buat memperbanyak doa serta memohon ampunan. Sebagian ulama bahkan menyebut keutamaan ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan setelah musim haji berakhir.

Konsentrasi pada Kemabruran Haji

Terlepas dari pembahasan mengenai kawalan malaikat, para ulama menegaskan bahwa Konsentrasi Esensial setelah haji adalah menjaga kemabruran itu sendiri, bukan mencari keistimewaan simbolik. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menerangkan bahwa tanda haji mabrur terlihat dari perubahan perilaku seseorang.

Orang yang meraih haji mabrur akan menjadi lebih taat, jujur, rendah hati, Giat beribadah, dan semakin Acuh terhadap sesama setelah kembali ke tanah air. Ukuran keberhasilan haji Tak terletak pada kemeriahan penyambutan atau banyaknya orang yang meminta doa.

Tolok ukur yang paling Esensial adalah apakah perjalanan spiritual tersebut Bisa mengubah jemaah menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Para ulama mengingatkan bahwa esensi terbesar dari kepulangan haji terletak pada ampunan, keberkahan, serta kemampuan menjaga kemabruran di tengah masyarakat.