Ketegangan baru menyelimuti diplomasi Timur Tengah setelah Presiden Amerika Perkumpulan Donald Trump melontarkan ancaman militer keras terhadap Iran di Ketika delegasi kedua negara memulai putaran pertama perundingan damai di Swiss. Ancaman tersebut muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menutup kembali jalur pelayaran Selat Hormuz sebagai protes atas tindakan militer Israel di Lebanon, meskipun jalur tersebut baru saja dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan interim kedua negara. Merespons situasi di Selat Hormuz, ketegangan meningkat dalam wawancara telepon dengan Fox News ketika Trump memperingatkan konsekuensi fatal bagi pejabat Teheran Apabila jalur logistik Dunia tersebut Bukan segera dibuka kembali.
“I’ll blow the shit out of them” cetus Donald Trump, Presiden Amerika Perkumpulan.
Ia mengklaim telah memperingatkan pejabat Iran secara langsung mengenai Dampak penutupan jalur maritim Dunia tersebut terhadap eksistensi negara mereka. “You close [the Strait of Hormuz] and you won’t have a country,” ancam Donald Trump, Presiden Amerika Perkumpulan.
Ia menambahkan peringatan keras yang melarang para delegasi Kepada kembali Apabila kepatuhan terhadap kesepakatan Bukan dipenuhi. “You won’t even make it back to your f***ing country.” lanjut Donald Trump, Presiden Amerika Perkumpulan.
Di sisi lain, perundingan tetap berjalan di resor mewah Bürgenstock, Lucerne, yang dihadiri oleh Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, serta Perdana Menteri Pakistan dan Qatar selaku Perantara. Meskipun proses dialog Maju diupayakan Kepada mengubah kesepakatan interim menjadi perdamaian Langgeng, pihak Iran menegaskan posisi diplomasi mereka Bukan akan mundur di Rendah tekanan militer barat. “We will not submit to force, oppression and humiliation,” tegas Masoud Pezeshkian, Presiden Iran dalam siaran televisi negara.
Pezeshkian juga memastikan bahwa program strategis mereka Bukan akan dinegosiasikan ulang dalam Perhimpunan tersebut.
“We will not give up the right to [nuclear] enrichment either. And they have to accept that.” tegas Masoud Pezeshkian, Presiden Iran. Konflik regional yang telah berlangsung selama 114 hari ini kini bergantung pada realisasi gencatan senjata di Lebanon serta penarikan Laskar Israel dari Area selatan demi menjaga keberlangsungan stabilitas jalur pasokan Dunia.
