Pertandingan antara Inggris dan Argentina di semifinal Piala Dunia kemarin, Rabu, berlangsung Mantap Bagus dari segi jalannya pertandingan maupun hasil akhirnya. Sebagian besar jalannya babak pertama diwarnai oleh pertarungan fisik dan benturan-benturan keras, sementara Bukan Eksis satu pun tim yang Betul-Betul menguasai permainan, dan tampaknya tiket ke final akan ditentukan oleh selisih yang sangat tipis.
Tetapi, Ketika babak kedua dimulai, situasi berubah total. Tim Inggris tampil lebih berani dan bersemangat, serta berhasil memaksakan ritme permainannya. Mereka juga meningkatkan tekanan terhadap pertahanan Argentina hingga akhirnya membuahkan gol pembuka yang dicetak oleh Anthony Gordon pada menit ke-55.
Gol tersebut Sepatutnya memberi Inggris kepercayaan diri Demi Maju menekan atau setidaknya memanfaatkan ruang-ruang yang akan ditinggalkan Argentina dalam upaya mencari gol penyama kedudukan, Tetapi Thomas Tuchel mengambil keputusan yang mengubah arah pertandingan sepenuhnya, ketika ia memutuskan Demi mundur sepenuhnya ke Sekeliling kotak penalti meskipun Lagi tersisa lebih dari Sebelah jam hingga peluit akhir.
Instruktur asal Jerman itu Bukan hanya mundur, tetapi juga menutup Seluruh Kesempatan serangan, sehingga Bukan mencoba memanfaatkan serangan balik maupun kecepatan yang dimiliki para pemainnya. Sebaliknya, ia memperkuat barisan pertahanannya dengan memasukkan Ezri Konsa, Dan Burn, dan Niko O’Reilly, seolah-olah pertandingan telah memasuki menit-menit terakhir meskipun waktu Lagi panjang.
Penarikan diri ini memberi Argentina apa yang mereka cari. Penguasaan bola penuh, tekanan Maju-menerus, dan serangan demi serangan ke gawang Inggris, hingga Lionel Messi, dengan kejeniusannya yang Lazim, menciptakan dua gol balasan melalui Enzo Fernández dan Lautaro Martínez, sehingga Pemenang dunia itu membalikkan skor di menit-menit krusial.
Baru Ketika itulah Tuchel menyadari bahwa segalanya sudah lepas dari kendalinya; ia pun memasukkan Ivan Toney dan Marcus Rashford dalam upaya terlambat Demi menyelamatkan situasi, Tetapi pertandingan itu sudah Betul-Betul lepas dari genggamannya.
Inggris kalah, dan impian para penggemar Demi merebut kembali gelar Piala Dunia yang telah hilang sejak tahun 1966 pun sirna, setelah tim nasional ini harus membayar mahal akibat ketakutan pelatihnya lebih dari apa pun.
