Bio Farma Formal meluncurkan Bio-TCV. Foto: dok Bio Farma.
Jakarta: PT Bio Farma (Persero) secara Formal meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang menjadi tonggak Krusial dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional.
Peluncuran ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara industri, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, regulator, pemerintah, serta Kawan strategis Dunia. Kehadiran Bio-TCV juga menunjukkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset, transfer teknologi, uji klinis, persetujuan regulator, produksi, hingga strategi perluasan akses bagi masyarakat.
Direktur Istimewa Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan demam tifoid Tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia sebagai negara endemis. Menurut dia, upaya pencegahan Enggak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga memerlukan perbaikan sanitasi, keamanan pangan, akses air Kudus, serta penerapan perilaku hidup Kudus dan sehat.
“Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional,” ungkap Shadiq seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 16 Juli 2026.
Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan Demi membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia enam bulan hingga dewasa sesuai indikasi yang telah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Indonesia Tetap menjadi negara endemis tifoid. Data World Health Organization (WHO) pada 2024 menunjukkan terdapat Sekeliling 9 juta kasus demam tifoid setiap tahun di dunia dengan Sekeliling 110 ribu Kematian. Di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6 persen dari populasi dengan Bilangan kejadian Sekeliling 148,7 per 100 ribu penduduk.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Strategi Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan penguatan kedaulatan kesehatan menjadi salah satu strategi Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Menurut dia, kedaulatan kesehatan berarti kemampuan bangsa Demi Independen dalam penelitian, pengembangan, dan produksi produk kesehatan strategis, termasuk vaksin.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci Demi mempercepat lahirnya Penemuan yang berdampak bagi masyarakat. Indonesia Tetap menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan melalui sinergi yang kuat, kita Bisa memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional,” ujar Benjamin.
Pengembangan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi jangka panjang Bio Farma Serempak International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 yang diperkuat melalui transfer teknologi pada 2013. Dalam prosesnya, Bio Farma juga bekerja sama dengan FKUI-RSCM Demi melaksanakan uji klinis fase I, II, dan III sesuai standar ilmiah, etik, dan regulasi.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan kemandirian dalam pengembangan vaksin dan obat merupakan bagian Krusial dari ketahanan nasional. Menurutnya, pengalaman pandemi covid-19 menjadi pelajaran bahwa Indonesia harus Mempunyai kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri agar Enggak bergantung pada pasokan Dunia Begitu terjadi krisis kesehatan.
“BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga Penilaian Demi memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses Penilaian regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku. Kehadiran Bio-TCV menjadi bukti Indonesia semakin Bisa menghasilkan vaksin hasil riset dan pengembangan anak bangsa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional,” kata Taruna.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma Maju memperkuat kapasitas riset, Penemuan, dan produksi vaksin nasional. Perusahaan juga tengah meningkatkan kapasitas fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi guna memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka Kesempatan Pengembangan ke pasar Dunia melalui proses WHO Prequalification serta registrasi di berbagai negara.
