Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan Ampun Formal atas perlakuan Kagak baik yang dialami 12.500 tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) asal Maluku dan keluarga mereka, yang dipindahkan ke Belanda pada 1951.
Tetapi, permintaan Ampun itu disebut menjadi tak bermakna Kalau tak diikuti rencana dan langkah konkret Kepada memulihkan kehidupan keturunan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) Maluku di Belanda.
Pasalnya, perlakuan Kagak baik, trauma dan diskriminasi yang dialami mereka disebut Lagi membekas, melintasi empat generasi. Mulai dari kehidupan di kamp yang Kagak layak, janji-janji Imitasi pemerintah Belanda, hingga perlakuan diskriminatif yang dialami keturunan serdadu KNIL Maluku itu.
Lewat, apa saja penderitaan yang dialami puluhan ribu orang Maluku itu di Belanda? Mengapa mereka dipindah paksa dari akar Kelahiran mereka dan bagaimana mereka kini Menyantap Belanda, Indonesia, dan Maluku?
Apakah permintaan Ampun saja cukup?
Minggu, 21 Juni 2026, banyak orang Maluku berkumpul menghadiri peresmian Monumen Ulu Kora yang berbentuk haluan kapal tradisional, di Rotterdam, Belanda.
Monumen itu dibuat Kepada mengenang orang-orang Maluku pertama yang tiba di Belanda 75 tahun silam.
Dalam acara itu hadir Perdana Menteri Belanda Rob Jetten dan dia menyampaikan permintaan Ampun Formal atas perlakukan Kagak baik yang dialami tentara KNIL Maluku dan keturunan mereka.
“Atas pemecatan mereka yang Kagak berperasaan dan Kagak terhormat sebagai tentara [KNIL] , atas penerimaan dan tempat tinggal mereka yang Kagak layak, atas ketidakpedulian dan pengabaian terhadap mereka, atas kerinduan akan kampung halaman yang tak terpenuhi, atas kesedihan dan penderitaan di banyak keluarga Maluku.”
“Kepada Segala ini, saya menyampaikan permintaan Ampun hari ini atas nama pemerintah Belanda,” kata Jetten.
Selain permintaan Ampun, Jetten menekankan pentingnya penyelidikan parlemen mendatang, yang melibatkan komunitas Maluku di Belanda Begitu ini.
Generasi kedua keturunan mantan tentara KNIL Maluku di Belanda, Minggus Pattiradjawane, menyambut Bagus permintaan Ampun itu. Tetapi, ucapan itu harus diikuti dengan aksi Konkret.
“Kagak cukup kata Ampun Kepada penderitaan yang dialami generasi pertama. Hak mereka seperti gaji dan pensiun Begitu dipecat sepihak dari KNIL harus dipenuhi. Lewat dilakukan reparasi melalui restitusi, kompensasi, maupun rehabilitasi bagi mereka dan keturunannya yang menderita di Belanda,” kata Minggus.
Hal senada diungkapkan oleh generasi ketiga, Yopi Abraham.
Dia bilang Semestinya Jetten menyampaikan permintaan Ampun di acara Formal parlemen, bukan malah mengambil Mimbar acara orang Maluku.
Selain itu, Yopi juga menegaskan, permintaan Ampun tak lantas Membikin trauma masa Lewat selesai.
“Kaum Maluku harus dilibatkan dalam meja perundingan Kepada menyamakan perspektif tentang sejarah masa Lewat dan merumuskan langkah serta kebijakan tentang kami. Karena Kalau Kagak, maka sejarah akan terulang kembali. Ini akan menjadi jalan satu arah,” ujar Yopi.
Langkah konkret itu, menurut sejarawan dari Vrije Universiteit Amsterdam Wim Manuhutu, di antaranya seperti menguatkan edukasi yang mendalam dalam sistem pendidikan Belanda tentang sejarah orang Maluku—yang Kagak hanya dimulai dari tahun 1951 Tetapi jauh hingga abad ke-17, ketika perdagangan rempah-rempah membawa bangsa Belanda ke Kepulauan Maluku.
Selain itu, kata Wim, adalah perawatan lansia Maluku dan jaminan permukiman bagi Kaum Maluku di Belanda.
Dipecat sepihak dan ditampung di kamp bekas Nazi
Mengapa Minggus, Yopi, dan juga sekelompok keturunan Maluku lain merasa permintaan Ampun tak cukup?
Hal itu terjadi karena adanya rangkaian janji Imitasi, pengabaian dan perlakuan diskriminatif yang hadapi orang Maluku di Belanda.
Minggus Pattiradjawane lahir pada 1954 di Belanda. Kedua kakaknya lahir di Sumatra dan Kalimantan.
Bapak Minggus adalah prajurit KNIL Maluku di Hindia Belanda.
Pada 1951, Bapak Minggus memboyong istri dan kedua anaknya, Serempak dengan ribuan tentara KNIL Maluku, berlayar ke Belanda.
Dari 12.500 orang keluarga Maluku itu Nyaris setengahnya dilaporkan berusia di Dasar 15 tahun.
‘Suatu malam kami diberitahu bahwa kami akan pergi ke Belanda selama enam bulan…Saya Kagak ingat apapun tentang perjalanan itu sendiri. Saya sakit dan satu-satunya yang saya lakukan adalah tidur. Kapal kami bernama Roma.”
“Saya memikirkan Bapak saya di Bone, Sulawesi. Bilaman saya akan Berjumpa dengannya Kembali? Ketika saya tiba di Belanda, saya langsung merasa rindu rumah. Saya Mau pulang. Di sana dingin, saya merasa orang-orangnya aneh, dan rasanya mengerikan diperiksa [kesehatan] di Amersfoort.”
Setibanya di Belanda, rombongan Kaum Maluku itu disambut dengan sebuah pesan dari Ratu Juliana, yang berharap “agar waktu yang dihabiskan di sini” akan menjadi “kenangan yang Bagus.”
Mereka kemudian menjalani pemeriksaan kesehatan di Amersfoort. Di kota ini juga, mereka menerima formulir pemberhentian dari militer.
Mendengar pemecatan itu, prajurit A.A. Ohoioeloen yang tiba dengan kapal Roma, mengatakan, “Kami marah, sangat marah, situasi yang sangat emosional. Tetapi, apa yang Bisa kami lakukan?”
Kemarahan yang sama juga dirasakan tentara Maluku lainnya.
“Dunia saya runtuh. Saya merasa sangat dikhianati. Kesetiaan saya kepada otoritas Belanda berubah menjadi kebencian, Invasi, dan kekecewaan,” kata tentara KNIL Maluku.
Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan pemecatan dari militer, mereka Lewat dikumpulkan ke tempat penampungan yang tersebar di lebih dari 50 Posisi kamp.
Puluhan kamp itu terletak jauh dari kota dan menciptakan komunitas Maluku yang terisolasi secara fisik dan sosial.
Bahkan, dua titik adalah bekas kamp konsentrasi Nazi, Yakni Kamp Westerbork dan Kamp Vught.
Keluarga Minggus Serempak ratusan keluarga KNIL Maluku tinggal di Kamp Singel, Woerden, Utrecht.
Selama enam tahun tinggal di kamp, Minggus Mengucapkan, keluarganya dan juga keluarga eks KNIL Maluku lainnya mendapatkan Donasi makan, kupon Pakaian, dan Fulus saku dari pemerintah.
“Di kamp, kami punya Bilik, bukan rumah ya. Hanya [ukuran] 3×4 meter. Saya dengan adik-adik, Abang-Abang, papa dan mama, 10 orang tinggal dalam itu Bilik,” kenang Minggus yang fasih berbahasa Melayu Maluku dan Belanda.
“Saya bilang, [kondisi] Penyimpanan sekarang lebih bagus dari Bilik kami.”
Selain berukuran kecil, Minggus yang kini tinggal di Ambon Mengucapkan, Bilik itu hanya dilapisi kayu dengan bangunan semi permanen.
Akibatnya, keluarganya mengalami kedinginan Begitu musim salju, yang suhunya Bisa mencapai minus 15 derajat.
Di dalam Bilik, keluarga Minggus tidur di atas tumpukan karung yang berisi jerami dan ditemani selimut pemberian pemerintah.
“Betul-Betul menyedihkan Kalau membayangkannya kembali. Tapi orang Sepuh saya Lalu bertahan karena di kepala mereka hanya tinggal enam bulan saja, Lewat kembali ke Maluku,” ujar Minggus.
Selama tinggal di kamp, Minggus bilang, anak-anak Kagak Bisa keluar dari kamp yang dikelilingi oleh pagar duri dan mereka pun terisolasi dari dunia luar.
Gambaran serupa juga diungkapkan Tete Siahaya, yang besar di Lunetten dan terlibat dalam aksi pendudukan rumah dinas duta besar Indonesia, pada 1970.
“Ruang seluas 20 meter persegi dimanfaatkan sepenuhnya. Mama berhasil menyulap ruangan itu menjadi ruang duduk dan ruang tidur dengan menggunakan sehelai gorden. Kepada tempat tidur susun besi, kasur dari goni jerami, dan selimut wol Arang-Arang.”
Selain Bilik yang sempit, Minggus Mengucapkan makanan yang disediakan pun tak layak.
“Orang bilang anjing sendiri tak mau makan dan kami [diberi] Fulus Sekeliling enam golden per minggu,” katanya.
Istri dari Sersan E.P Noya, yang tinggal di Kamp Kazerne, Woerden, bercerita salah satu kesedihan yang mereka hadapi di kamp Begitu putrinya Noor berulang tahun.
“Suami saya Mengucapkan kepadanya [Noor], ‘Papa Kagak Bisa memberikan pesta ulang tahun untukmu, seperti yang pernah didapatkan oleh Thom [anak laki-lakinya]’… Hari itu kami hanya makan nasi dengan bayam dan sebutir telur rebus.”
“Suami saya duduk Sembari memeluk Noor. Itu pertama kalinya saya Menyantap suami saya menangis. Dia tak Bisa memberikan apapun Begitu ulang tahun putrinya.”
Selama di kamp, mayoritas Kaum Maluku Lagi berpikir akan dipulangkan ke kampung halaman. Bahkan, Eksis yang mempersiapkan radio agar Bisa menyala dengan aki dan merajut jaring ikan Kepada digunakan di Maluku.
Sejarawan Wim Manuhutu Mengucapkan generasi pertama Maluku merasa diperlakukan Kagak adil.
“Perasaan diperlakukan Kagak adil sangatlah kuat, begitu pula dengan keinginan Kepada pulang. Karena mayoritas dari mereka hanya Mau kembali ke negara Maluku yang merdeka, hal tersebut Kagak dapat terwujud,” kata Wim.
Wim bilang mantan tentara KNIL Maluku itu tak Bisa berbahasa Belanda, kehilangan pekerjaan sebagai tentara, ditempatkan dalam kamp terisolasi, iklim dan makanan berbeda, serta Rekanan dengan kerabat di Maluku tak mungkin dilakukan.
Tahun berganti tahun dan mereka Lagi di Belanda.
Di luar Adonan tangan pemerintah, Wim Mengucapkan, sekelompok eks tentara KNIL itu mulai bekerja secara informal di Belanda, seperti menjadi buruh pabrik, pemetik buah musiman dan pekerja bangunan.
Pada 1956, pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan swadaya, Yakni menghentikan segala Donasi Kepada Kaum Maluku itu.
Imbasnya, mereka harus mencari pekerjaan, membeli makanan dan memasak sendiri. Kalau Kagak dapat pekerjaan, mereka Bisa mengajukan tunjangan sosial.
Seperti yang dilakukan Bapak Minggus yang menjadi petani serabutan dan buruh di pabrik kaca.
Kemudian, pemerintah membangun lebih dari 60 kampung atau permukiman Spesifik (wijk) Maluku pada 1960.
Salah satu alasannya adalah karena kamp sudah tak layak huni dan jauh dari Posisi tempat kerja.
Minggus Mengucapkan, awalnya rumah itu disewa dengan harga murah. Tetapi setelah pemerintah menyerahkan pengelolaan ke koperasi, “Biaya sewa jadi sangat besar.”
Perlahan, kehidupan keluarga Minggus membaik. Ayahnya dan beberapa Personil keluarganya sudah bekerja.
Setelah lulus SMP, Minggus bekerja di pabrik kaca.
Mereka pun pindah ke rumah yang lebih besar di Leerdam, dekat Utrecht pada 1975.
Puluhan tahun berlalu, orang Sepuh Minggus memutuskan pulang dan menetap di kampung halaman mereka, di Ambon pada 1998.
“Tiba mereka meninggal, segala janji tak pernah ditepati. Kadang mereka bilang Belanda itu parlente [tukang bohong]. Sebagai tentara Belanda, di satu sisi, mereka merasa sudah berkhianat ke Indonesia. Tapi di Belanda, mereka diabaikan dan hidup menderita,” ujar Minggus.
Langkah yang sama juga diambil Minggus. Kini dirinya menghabiskan hari Sepuh Serempak sang istri di Kota Ambon.
Kehidupan generasi ketiga di Belanda
Kisah yang serupa juga disampaikan Yopi Abraham, generasi ketiga keturunan Maluku di Belanda.
Kakek dan nenek Yopi berasal dari Maluku Tengah, Yakni Pulau Seram dan Pulau Nusa Laut.
Yopi yang lahir pada 1974 di Belanda bilang, neneknya meninggal akibat asma. Sakitnya disebabkan oleh fasilitas perumahan yang Kagak baik.
Selain itu, dia juga mendengar dari orang tuanya tentang makanan hingga layanan kesehatan yang tak memadai.
Pada periode awal 1951, Nomor Kematian bayi dan anak Maluku di kamp cukup tinggi. Contohnya di kamp Schattenberg, sebanyak 9,5% dari 146 bayi yang lahir meninggal dunia. Nomor itu lebih tinggi daripada rata-rata nasional Belanda.
Perlakuan diskriminasi juga dialami Yopi. Contohnya Begitu dia mendaftar menjadi militer Belanda.
Yopi mendapat formulir yang berisi pernyataan diskriminatif, seperti “Apakah orang Sepuh Anda terlibat dalam aksi politik RMS? Apakah orang Sepuh Anda menentang kebijakan pemerintah Belanda?”
Sedangkan rekan Belanda-nya hanya ditanya, “Apakah Anda alergi terhadap jenis makanan tertentu? Apakah Anda Mempunyai penyakit?”
“Saya keberatan. Saya Kagak mau mengisi formulir itu, saya tak jadi daftar,” ujarnya yang kini berprofesi sebagai seniman yang membawa identitas budaya Maluku.
Selain itu, Yopi juga pernah mengalami diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Di jalan, diteriaki monyet, kacang [pinda dalam bahasa Belanda, yang adalah ucapan rasis merujuk Corak kulit coklat], kembali ke negaramu, dan hal semacam itu.”
“Lewat Begitu keluar dari toko, saya selalu meminta struk belanja. Karena sering kali saya dihentikan di pintu keluar toko Kepada menunjukkan isi tas saya, dan hal-hal seperti itu,” ujarnya.
Dan hal itu, kata Yopi, Lagi terjadi Tiba sekarang, khususnya di Kawasan perbatasan Belanda dengan Jerman yang Kagak banyak mengenal dan berinteraksi dengan orang Maluku.
Mengapa tentara KNIL Maluku dipindah ke Belanda?
Peristiwa itu setidaknya dapat dilihat ketika Jepang mengalahkan Belanda Kepada menduduki Indonesia pada 1942.
Kekalahan itu menyebabkan tentara KNIL menjadi tahanan. Tetapi dalam perkembangannya, tentara KNIL dari Jawa, Melayu, dan lainnya dibebaskan, sementara Laskar KNIL Maluku tetap dijadikan tahanan perang oleh Jepang.
Situasi politik kembali berubah ketika Jepang kalah dari Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Belanda mencoba masuk ke Indonesia lewat Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Dan, KNIL menjadi tangan Belanda Kepada melakukan Invasi Militer Belanda I dan Invasi Militer Belanda II.
Tetapi, Invasi itu gagal. Indonesia dan Belanda Lewat berunding dalam Konferensi Meja Bundar pada 1949.
Hasilnya, Belanda mengakui keberadaan Republik Indonesia Perkumpulan (RIS) sebagai negara merdeka.
Selain itu, kedua pihak menyepakati pembubaran dan peleburan KNIL ke dalam satuan Angkatan Perang Republik Indonesia Perkumpulan (APRIS).
Keputusan itu kemudian dilaporkan menimbulkan ancaman bagi Laskar KNIL Maluku yang tersebar di seantero Indonesia.
Ditambah Kembali, munculnya pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950 yang dipimpin oleh Dr Soumokil dan mantan prajurit KNIL Maluku. RMS menolak integrasi Kawasan Maluku ke dalam RIS.
Padahal, sejarawan Wim Manuhutu Mengucapkan, para tentara Maluku sempat mempertimbangkan Kepada bergabung dengan tentara Indonesia ketika statusnya Lagi sebagai tentara RIS. Tetapi, mereka menolak perubahan Begitu bentuknya ke negara kesatuan.
Presiden Soekarno merespon dengan memerintahkan Operasi Pasupati dan menginvasi Kota Ambon.
Di tengah situasi perang itu, rencana pemulangan prajurit KNIL yang tersebar di berbagai titik Kawasan Indonesia ke Maluku tak jadi dilakukan. Hal itu dikhawatirkan akan memperkuat perlawanan RMS.
Dalam situasi itu kemudian muncul delegasi Aponno, seorang mantan prajurit KNIL, yang menggugat negara Belanda ke pengadilan Tinggi Den Haag.
Mereka menentang pemindahan paksa Laskar KNIL Maluku ke Kawasan RIS.
Upaya Aponno pun berhasil. Pemerintah Belanda sepakat memindahkan Laskar KNIL Maluku ke Belanda Kepada sementara waktu dan kemudian dipulangkan kembali.
Mereka diberangkatkan secara bertahap dari Surabaya, dan Kawasan pelabuhan lainnya ke Rotterdam, Belanda.
Setibanya di Belanda, peneliti berdarah Maluku dari International Institute of Social Studies (ISS) – Erasmus University Rotterdam, Tamara Soukotta Mengucapkan, para tentara itu langsung dipecat dari militer Belanda.
Pemberhentian itu, kata Nur Aisyah Kotarumalos, menjadi “titik awal kebencian mereka terhadap pemerintah kolonial Belanda yang Kagak Paham balas budi Jika mereka telah mengabdi dengan sebaik-baiknya.”
Tetapi tak Segala Laskar KNIL Maluku pindah ke Belanda. Eksis juga yang tetap tinggal di kota-kota Indonesia, seperti Jakarta.
Mengapa orang Maluku bergabung KNIL?
Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) dibentuk setelah berakhirnya Perang Diponegoro, pada abad ke-18. Selama lebih dari satu abad, KNIL bertugas menjaga keamanan kolonial di Kawasan Hindia Belanda.
Jumlah mereka diperkirakan mencapai puluhan ribu personel, dan Laskar KNIL Maluku Sekeliling 4.000 orang pada 1930. Nomor itu lebih kecil dari Laskar KNIL asal Jawa.
Rekanan antara Maluku dan Belanda mulai terjadi sejak abad ke-16, Begitu organisasi perdagangan Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) memonopoli rempah seperti cengkeh dan pala dari Maluku.
“Maluku dijajah Betul-Betul 350 tahun. Sebelum Belanda sudah Eksis Portugis, sudah Eksis Spanyol, Inggris sempat masuk juga. Jadi Maluku boleh dibilang mengalami Segala penjajahan Eropa,” kata Tamara.
Selama berabad-abad, ujar Tamara, orang Maluku mengalami penderitaan, seperti penghancuran empat kesultanan di Maluku melalui politik adu domba, genosida Banda oleh VOC pada 1621, dan penjajahan Hindia Belanda.
“Kagak hanya penghancuran alam dan Insan lewat operasi militer, tapi juga penghancuran sistem hidup lewat pemaksaan Keyakinan Kepada Membikin mereka Taat ke penjajah,” kata Tamara.
Rekanan yang terbentuk ratusan tahun itu kemudian digunakan Belanda Kepada merekrut orang Maluku sebagai tentara KNIL.
“Narasi yang dibangun mereka Mempunyai tingkat kesetiaan dan loyalitas yang solid karena kesamaan Keyakinan, Lewat ikatan historis penjajahan ratusan tahun, yang Membikin orang Maluku dianggap lebih gampang Taat sebagai tentara,” tambah Tamara.
Di antaranya seperti pendidikan anak yang Bagus, gaji dan tunjangan yang lebih tinggi, makanan layak dan bergizi, hingga kebebasan berpenampilan yang menunjukkan kedekatan dengan budaya Eropa.
Bahkan, Mantan Duta Besar Indonesia, Johannes Dirk de Fretes bilang sistem penjajahan Belanda membentuk struktur pendidikan, terutama Kitab-Kitab bacaan sekolah rakyat di Ambon, yang di dalamnya ditanamkan prasangka atas Spesies Jawa dan lain-lain.
“Tiba-Tiba pemuda-pemuda di Ambon hanya bersekolah dengan cita-cita kelak Bisa menjadi Personil tentara KNIL dan marine,” ujar Johannes.
Keistimewaan yang bagian dari politik adu domba itu menciptakan kesenjangan antara Laskar KNIL Maluku dengan dari Spesies lain, ujarTamara.
Laskar KNIL Maluku mendapatkan stigma negatif, seperti pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, dengan cap ‘pengkhianat bangsa’, ‘anjing Belanda’, dan lainnya.
Implikasinya muncul kekerasan dan aksi diskriminatif terhadap komunitas Maluku di Surabaya, Jakarta dan Makassar pada periode itu.
Padahal, banyak Laskar KNIL juga berasal dari Spesies lain. Contohnya adalah Oerip Soemohardjo, Gatot Soebroto, Soeharto, dan Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Abdul Haris Nasution. Mereka dididik di sekolah militer KNIL.
Terdapat juga sejumlah tokoh intelektual Maluku dengan tegas menolak penjajahan Belanda. Pendiri Sarekat Ambon, Alexander Jacob Patty. Lewat Jeremias Kayadoe dan Johanes Leimena, yang mendirikan Jong Ambon dan terlibat dalam Kongres Pemuda.
Kemudian Johannes Latuharhary, Personil BPUPKI dan gubernur pertama Maluku. Salah satu perlawanannya terangkum dalam pidatonya berjudul ‘Azab Sengsara Kepoelauan Maloekoe’.
Transformasi lintas generasi tentang Belanda, Indonesia dan Maluku
Peneliti Tamara Soukotta, Mengucapkan rangkaian kekerasan itu bertransformasi dalam lintas generasi orang Maluku di Belanda.
Generasi pertama, Yakni prajurit KNIL Maluku. Mereka melewati kesulitan hidup, janji-janji Imitasi, di tengah bayang-bayang Cita-cita pulang. Mayoritas dari mereka kini telah meninggal dunia.
Generasi kedua adalah anak dari prajurit KNIL Maluku yang lahir dan besar di Belanda.
Mereka kehilangan kesempatan Kepada hidup dengan normal, di tengah ketidakpastian apakah akan tinggal di Belanda atau pulang ke Maluku.
“Mereka lahir dan dibesarkan di Belanda, Tetapi terisolasi dari masyarakat Belanda. Banyak dari mereka Menyantap RMS sebagai simbol identitas dan tanah air mereka, serta Kagak menerima Langkah orang Sepuh mereka diperlakukan,” ujar Tamara.
Generasi kedua itu kemudian melakukan perlawanan, yang salah satu tujuannya agar mereka dipulangkan oleh pemerintah Belanda ke Maluku.
Perlawanan itu disebut pemerintah Belanda sebagai aksi teror. Di antaranya adalah pembajakan kereta api Groningen menuju Amsterdam, pendudukan konsulat Indonesia di Amsterdam, dan gedung pemerintahan di dekat Assen.
Rangkaian aksi perlawanan itu membentuk Ciri generasi ketiga dan keempat, Yakni bertransformasi dari orang buangan menjadi migran.
Generasi ini mulai menerima diri mereka tinggal dan menjadi Kaum negara Belanda. Tetapi, mereka tetap mencari akar leluhur mereka melalui partisipasi komunitas budaya, kesenian dan sosial Maluku.
Generasi ini perlahan mulai berintegrasi dan berorientasi di Belanda.
“Generasi ini dengan upaya mereka sendiri bertahan dan sukses, misalnya sebagai Selebriti, musisi, pekerja kreatif, maupun peneliti,” kata Tamara.
“Mereka Eksis dan menjadi seperti sekarang karena kerja keras dan resistensi, semangat melawan dan semangat Kepada tetap Eksis, terlepas dari Segala kekerasan yang mereka alami. Dan itu yang menurut saya perlu dilihat, lebih daripada soal permintaan Ampun dari perdana menteri,” tambahnya.
Walaupun demikian, Tamara Mengucapkan empat generasi itu hidup di antara dua negara yang sama-sama Kagak mereka pilih.
“Mereka berada di antara Kagak pernah diakui Indonesia, Kagak juga diakui Belanda. Oleh Indonesia dianggap gangguan dan oleh Belanda juga dianggap beban,” kata Tamara.
Ketika Lagi kecil, Yopi sebagai generasi ketiga, dibesarkan di era di mana Belanda dilihat sebagai penindas dan Indonesia sebagai musuh.
Tetapi usai dirinya melakukan perjalanan ke Maluku dan berinteraksi dengan Variasi orang di Indonesia, kebencian yang awalnya Eksis Lewat bertransformasi menjadi kepedulian dan Konsentrasi pada soal persaudaraan, kelestarian budaya dan penolakan deforestasi di Maluku.
“Walaupun Eksis banyak perbedaan posisi, saya secara pribadi Kagak Kembali merasa dibatasi tembok-tembok perbedaan ketika kita Betul-Betul mencoba Kepada saling terhubung. Dari kerja-kerja Serempak Grup-Grup lain di Maluku, di Indonesia, saya Menyantap bahwa kita sedang melakukan banyak hal Krusial,” kata Yopi.
“Belajar dari masa Lewat dan juga dari perbedaan-perbedaan yang Eksis, kita sedang Serempak-sama mencoba menciptakan masa depan yang lebih Bagus, lebih indah, salah satunya dengan menemukan titik-titik temu di tengah perbedaan yang Eksis,” tutupnya.
