Rusia Gelar Latihan Nuklir Strategis Skala Besar Melibatkan Triade

Kementerian Pertahanan Rusia memulai latihan kekuatan nuklir strategis berskala besar bersandi Guntur pada 19 Mei Demi bersiap menghadapi ancaman agresif, dilansir dari Detikcom.

Manuver militer ini menjadi pengecualian dari pola yang biasanya diadakan setiap Oktober, serta melibatkan seluruh triade nuklir mulai dari rudal balistik antarbenua, kapal selam, hingga pembom strategis.

Sehari sebelum latihan strategis dimulai, militer Rusia juga telah melakukan simulasi pergerakan senjata nuklir taktis di Area Belarus.

“Latihan ini melibatkan lebih dari 64.000 personel dan lebih dari 7.800 unit persenjataan, peralatan militer dan peralatan Tertentu. Ini mencakup lebih dari 200 peluncur rudal, lebih dari 140 pesawat, 73 kapal, dan 13 kapal selam, di antaranya delapan kapal selam rudal strategis,” kata Kementerian Pertahanan Rusia.

Pihak kementerian mengerahkan kekuatan yang mencakup Dekat seluruh armada kapal selam strategis siap tempur karena sebagian kapal lainnya sedang dalam masa perawatan rutin di pangkalan.

Peningkatan aktivitas militer ini berlangsung Akurat dua hari setelah Moskow dihantam serangan pesawat tanpa awak terbesar dari Ukraina yang menimbulkan korban jiwa.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyebut serangan itu “respons yang adil” terhadap serangan Rusia baru-baru ini di Ukraina, termasuk Kyiv. Ketika itu, sebuah rudal menghantam bangunan sembilan Alas pada 14 Mei, menewaskan 24 orang.

Meskipun Terdapat ketegangan akibat serangan drone, otoritas Formal Rusia Kagak memberikan pernyataan mengenai kaitan langsung antara serangan di Moskow dan Penyelenggaraan latihan nuklir.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Belarus menyatakan latihan nuklir taktis di wilayahnya bertujuan menguji kesiapan unit peluncur rudal di area yang Kagak dipersiapkan.

Latihan di Belarus tersebut memicu kekhawatiran dari negara-negara NATO yang sebelumnya telah menganalisis skenario perang dengan potensi serangan awal dari Area Belarus.

Selain latihan mobilisasi, Rusia juga Lanjut memperbarui sistem persenjataannya dengan menguji coba rudal balistik antarbenua baru jenis Sarmat pada 12 Mei Demi menggantikan teknologi Pelan.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan jangkauan Sarmat Mengungguli 35.000 kilometer, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Voevoda.

Menurut pemimpin Rusia tersebut, spesifikasi jangkauan itu Membikin rudal baru tersebut Mempunyai lintasan yang sangat bervariasi sehingga sangat sulit Demi dicegat oleh sistem pertahanan musuh.