Rupiah Dibuka Turun ke Rp17.658/USD

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin


Jakarta: Nilai Salin (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah Lagi tertekan Begitu dolar AS juga tertekan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 21 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.658 per USD. Mata Dana Garuda tersebut turun lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.653 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.680 per USD. Rupiah Lagi bergerak melemah dari Rp17.600 per USD pada pembukaan perdagangan hari ini.


(Ilustrasi. MI/Susanto)

Rupiah fluktuatif ditutup melemah

Analis pasar Dana Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata Dana rupiah fluktuatif Tetapi ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Mata Dana Garuda akan bergerak di rentang Rp17.650 per USD hingga Rp17.700 per USD.

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang kembali menegaskan perang dengan Iran akan berakhir “dengan sangat Segera”, meskipun investor tetap waspada terhadap hasil perundingan perdamaian di tengah gangguan berkelanjutan terhadap pasokan Timur Tengah akibat konflik tersebut.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan AS dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan, dengan kedua pihak Bukan menginginkan dimulainya kembali aksi militer. Meskipun Trump menegaskan kepada Personil parlemen AS tentang berakhirnya konflik dengan Segera, sebelumnya ia mengatakan AS mungkin perlu menyerang Iran Kembali dan ia Dekat memerintahkan serangan sebelum menundanya.

“Pasar tetap waspada terhadap Dampak inflasi dari perang Iran dalam beberapa minggu terakhir, seiring dengan harga minyak mentah yang lebih tinggi telah mendorong inflasi lebih tinggi di seluruh ekonomi Penting, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve AS (Fed), mungkin perlu Memajukan Etnis Kembang,” papar Ibrahim.

Sementara itu, Ibrahim mengakui pasar merespons positif atas pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027. Prabowo mengungkapkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir adalah lima persen.

Kemudian, Bank Indonesia memutuskan Memajukan Etnis Kembang acuan BI Rate sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen. Etnis Kembang Deposit Facility sebesar 4,25 persen dan Lending Facility sebesar 6,25 persen. Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan Etnis Kembang selama delapan bulan beruntun.

Keputusan ini, menurut BI, dilakukan Buat memperkuat stabilitas nilai Salin rupiah dari Dampak memburuknya kondisi Mendunia akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 persen plus minus satu persen.