Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Liputanindo.id/Richard Alkhalik
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai Ubah rupiah dipengaruhi oleh persepsi atau sentimen negatif terhadap kondisi perekonomian nasional yang Tak sesuai dengan kondisi Esensial ekonomi Indonesia.
Menurut Purbaya kondisi Esensial ekonomi Indonesia Ketika ini Lagi terjaga, terlihat dari kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap kuat, sementara aktivitas ekonomi di berbagai daerah Lagi menunjukkan pertumbuhan yang positif.
“Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu Betul. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Tamat sekarang kalau kita kemana-mana semuanya ekonomi activity meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala Jenis, sebagian orang terpengaruh,” ujar Purbaya di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 6 Juni 2026.

(Ilustrasi. Foto: Dok Liputanindo.id)
Memperkuat kepercayaan investor
Purbaya menegaskan, pemerintah Serempak Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi Kepada menghilangkan persepsi negatif yang berkembang di pasar dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin Tengah,” katanya.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya melaporkan realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari Sasaran APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun.
Realisasi tersebut tumbuh 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Belanja negara tetap tumbuh 34,4 persen. Bagus, artinya sesuai dengan Sasaran ya, kita selalu Mau mempercepat belanja mencapai Rp1.365,4 triliun,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Secara rinci, belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari pagu APBN. Realisasi belanja pemerintah pusat tumbuh 52,6 persen secara tahunan.
