Risiko Kredit Sempit Berpotensi Naik, OJK Diminta Perkuat Mitigasi Kredit

Ilustrasi logo OJK. Foto: dok MI.


Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) didorong menyiapkan langkah antisipatif dalam menghadapi potensi peningkatan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di tengah dinamika ekonomi yang Lagi menantang.

Konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana mengatakan sejumlah Elemen seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketidakpastian Mendunia, tekanan daya beli masyarakat, serta fluktuasi di berbagai sektor usaha dapat memengaruhi kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban kredit.

Menurut Elvi, mitigasi risiko perlu dilakukan sejak Pagi Buat menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.

“Peningkatan NPL harus diantisipasi dengan pendekatan yang Akurat dan terukur. OJK Berbarengan industri jasa keuangan perlu memastikan risiko kredit dapat dikelola secara efektif, sehingga Bukan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi sistem keuangan,” ujar Elvi dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu, 14 Juni 2026.

Ia menilai pengawasan terhadap kualitas kredit perlu menjadi perhatian Penting lembaga jasa keuangan. Perbankan dan perusahaan pembiayaan didorong memperkuat pemantauan portofolio kredit, terutama pada sektor-sektor yang dinilai lebih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

 

 

Restrukturisasi kredit mesti selektif dan Akurat sasaran

Selain pengawasan, Elvi menekankan pentingnya pemanfaatan kebijakan restrukturisasi kredit secara selektif dan Akurat sasaran.

Menurut dia, instrumen tersebut dapat membantu debitur yang menghadapi tekanan keuangan agar tetap menjaga kelangsungan usaha maupun stabilitas finansial.

“Restrukturisasi perlu diberikan kepada debitur yang Mempunyai prospek pemulihan dan itikad Bagus Buat memenuhi kewajibannya. Pendekatan ini dapat menjadi solusi yang menguntungkan bagi debitur sekaligus lembaga keuangan,” Jernih Elvi.



(Ilustrasi bank. Foto: Freepik)

 

Manfaatkan teknologi dalam pengelolaan risiko kredit

Elvi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko kredit. Ia mengusulkan penggunaan sistem peringatan Pagi (early warning system) berbasis teknologi dan analisis data Buat mendeteksi potensi gagal bayar lebih Segera.

Menurut dia, kemampuan mendeteksi penurunan kualitas kredit sejak tahap awal memberi ruang lebih besar bagi lembaga keuangan Buat mengambil langkah mitigasi sebelum kredit masuk kategori bermasalah.

Elvi optimistis kombinasi pengawasan kredit yang lebih kuat, restrukturisasi yang Akurat sasaran, serta pemanfaatan teknologi dapat membantu menjaga kesehatan sektor keuangan nasional.

Ia berharap OJK Lalu memperkuat koordinasi dengan industri jasa keuangan agar sistem perbankan dan pembiayaan tetap resilien serta Bisa mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.