Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Jakarta: Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Hilirisasi dan Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Ahmad Faisal Suralaga mengatakan Indonesia membuka Kesempatan investasi Demi mengembangkan ekosistem manufaktur baterai nasional senilai USD121 miliar.
Ahmad mengatakan, Indonesia menawarkan sejumlah sumber daya alam yang melimpah yang menjadi fondasi Istimewa dalam pembuatan baterai dan juga ekosistem manufaktur kendaraan listrik.
“Enam bahan Istimewa Demi Membangun baterai EV, empat dari mereka berada di Indonesia. Kita Mempunyai nikel, bauksit, mangan, dan kita Mempunyai tembaga, yang merupakan material Krusial dalam jaringan supply baterai EV. Kelebihan ini memberikan Indonesia fondasi yang kuat Demi mengembangkan proses mineral dan material baterai ke manufaktur baterai dan kendaraan elektrik,” kata Ahmad dalam acara Korea-Indonesia Economic Partnership Lembaga, di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 24 Juni 2026.
Ahmad mengatakan Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dengan 42 persen dari ketersediaan sumber daya Dunia. Selain nikel, Indonesia juga telah mengembangkan 28 komoditas lainnya yang Mempunyai keuntungan kompetitif melalui strategi hilirisasi.
Dengan Kesempatan investasi ini, ia mengatakan Indonesia bertujuan membangun industri baterai kendaraan listrik yang kuat dengan Konsentrasi pada jaringan rantai pasok hingga pengemasan baterai.
“Pada 2045, Indonesia berniat Demi menjadi salah satu dari lima produser baterai EV di dunia. Ini mungkin karena hilirisasi menciptakan nilai tambahan tertinggi, dan misalnya Demi nikel nilai tambahnya Dapat menjadi 67 kali Kalau kita Dapat mengubah nikel menjadi baterai EV,” tambah dia.

(Ilustrasi. Foto: Dok Liputanindo.id)
Konsentrasi pengembangan smelter lanjutan
Menurut dia, investasi difokuskan pada pembangunan smelter lanjutan Demi menghasilkan produk akhir dengan nilai tambah tinggi, hingga manufaktur sel baterai kendaraan listrik (EV Battery).
Ia mengatakan Indonesia Ketika ini merupakan salah satu dari beberapa negara yang Mempunyai industri terintegrasi di seluruh jaringan rantai pasok, dan banyak pemain besar baterai EV telah masuk di Indonesia.
Ekosistem hilirisasi juga menjadi modal Istimewa Indonesia dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik, yang Dapat mengurangi biaya disebabkan karena jaringan produksi yang hilang, seperti bea ekspor (export duties), pajak dan sumber daya tersedia di satu negara.
Ahmad mengatakan melalui investasi dan pendekatan hilirisasi, nilai investasi negara Dapat mencapai USD618 miliar, meningkatkan nilai ekspor Sekeliling USD857 miliar dan akan menyerap lebih dari tiga juta lapangan pekerjaan.
Ia mengatakan investasi oleh sejumlah negara di Indonesia Tetap didominasi dari sektor mineral Sekeliling Rp98,3 triliun, diikuti sektor perkebunan dan kehutanan Rp29,8 triliun, minyak dan gas Sekeliling Rp17,6 triliun dan juga sektor kelautan Sekeliling Rp1,7 triliun.
