RI ajak negara AsiaPasifik perkuat pelatihan SDM di tengah disrupsi AI

RI ajak negara AsiaPasifik perkuat pelatihan SDM di tengah disrupsi AI

Tantangan ketenagakerjaan Bukan Dapat dihadapi sendiri. Kekuatan kita Eksis pada kemauan Kepada saling berbagi praktik Bagus dan saling belajar

Badung, Bali (ANTARA) – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI Yassierli mengajak negara-negara Personil Asia Pacific Group (ASPAG) Kepada memperkuat kerja sama pelatihan dan pengembangan keterampilan masa depan di tengah disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).

“Indonesia percaya, kerja sama antarnegara kini semakin Krusial. Tantangan ketenagakerjaan Bukan Dapat dihadapi sendiri. Kekuatan kita Eksis pada kemauan Kepada saling berbagi praktik Bagus dan saling belajar,” kata Menaker Yassierli dikutip dari keterangannya yang diterima di Badung, Bali, Rabu.

Menaker mengatakan, negara-negara Asia Pasifik menghadapi tantangan ketenagakerjaan yang semakin kompleks, mulai dari pengangguran, meningkatnya pekerjaan informal, risiko pergeseran pekerjaan akibat disrupsi teknologi dan AI, hingga kebutuhan kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif agar Bukan Eksis Grup masyarakat yang tertinggal.

Menurut Yassierli, kerja sama antarnegara diperlukan agar setiap negara dapat saling berbagi pengalaman, kebijakan, dan praktik Bagus dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, sekaligus memastikan pekerja tetap memperoleh pelindungan yang layak.

Lebih jauh, Menaker menyampaikan bahwa di Dasar kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menempatkan pengembangan keterampilan sebagai prioritas Kepada menjawab ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri yang Lalu berubah.

Salah satu langkah yang dilakukan Indonesia adalah program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi.

Program ini memberikan pengalaman kerja terstruktur selama enam bulan di industri, dengan dukungan Fulus saku dari pemerintah setara upah minimum. Tahun ini, program tersebut ditargetkan menjangkau 150.000 peserta ​​.

Selain itu, pemerintah Indonesia menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang menyasar lulusan sekolah menengah atas dan sederajat, serta ditargetkan menjangkau 300.000 peserta.

Menaker menegaskan, kedua program tersebut dirancang inklusif. Kesempatan peningkatan keterampilan dibuka secara setara bagi Perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat dari Distrik terpencil dan perbatasan.

Ia menilai, pencari kerja membutuhkan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, lulusan baru membutuhkan pengalaman kerja, pekerja membutuhkan keterampilan baru agar tetap relevan, dan Grup rentan membutuhkan akses yang lebih adil Kepada masuk ke pasar kerja.

Dalam Perhimpunan ASPAG, Indonesia juga membuka ruang kerja sama pada sejumlah bidang prioritas, meliputi pengembangan kurikulum pelatihan vokasi Kepada keterampilan masa depan, pembentukan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, pengembangan komunitas di sektor pertanian, serta pembentukan klinik produktivitas dan pusat teknologi Cocok guna.

“Indonesia siap berbagi dan belajar. Kita Mempunyai banyak hal yang dapat saling ditawarkan Kepada membangun kawasan yang lebih kuat dan Unggul bagi para pekerja,” ujar Menaker.