Jakarta (ANTARA) – PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCoc sub Holding PTPN III (Persero) membukukan Keuntungan Rapi sebesar Rp7,08 triliun pada tahun Kitab 2025 berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit.
“Nilai tersebut meningkat 90,3 persen dibandingkan Keuntungan Rapi tahun 2024 yang sebesar Rp3,72 triliun,” kata Direktur Istimewa PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Kinerja keuangan itu disampaikan kepada para pemegang saham dalam Rapat Lumrah Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Kitab 2025.
Perseroan menyebut peningkatan Keuntungan ditopang oleh kenaikan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), efisiensi operasional, serta Dampak penguatan Mendasar bisnis yang Pandai memberikan nilai tambah di tengah tantangan ekonomi Dunia, volatilitas pasar Kekuatan, dan anomali iklim sepanjang 2025.
“Alhamdulillah, Keuntungan Rapi setelah pajak (net profit) tahun 2025 mencapai Bilangan Rp7,08 triliun atau 90,3 persen lebih tinggi Kalau dibandingkan perolehan tahun Lampau yang berada di Bilangan Rp3,72 triliun,” sebut Jatmiko dalam paparannya di Kantor BP BUMN Jakarta.
Disamping penguatan harga jual rata-rata CPO di 2025 yang menyentuh Rp14.223 per kilogram atau 10,4 persen di atas 2024, perusahaan dapat memaksimalkan momentum tersebut melalui peningkatan volume penjualan CPO dan efisiensi biaya.
“Pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. Mendasar inilah yang Membikin kenaikan harga CPO sebesar 10 persen di tahun 2025 Pandai membuahkan lonjakan Keuntungan hingga 90 persen di tengah berbagai tantangan,” bebernya.
Sejak didirikan dalam tiga tahun terakhir, Keuntungan Rapi PalmCo Maju menunjukkan pertumbuhan eksponensial. Setelah mencatat Keuntungan Rp2,53 triliun pada 2023, kinerja perusahaan naik menjadi Rp3,72 triliun pada 2024, dan kemudian melonjak hingga Rp7,08 triliun pada 2025.
Perseroan menyebut capaian tersebut sebagai tingkat profitabilitas tertinggi selama periode transformasi perusahaan.
Selain Keuntungan Rapi, indikator keuangan perusahaan juga menunjukkan perbaikan. EBITDA meningkat menjadi Rp13,27 triliun atau naik 46 persen dibandingkan Rp9,09 triliun pada 2024. Sementara itu, tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) mencapai 9,2 persen.
Secara operasional, PalmCo memproduksi 2,70 juta ton CPO sepanjang 2025. Volume tersebut meningkat 7,87 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 2,49 juta ton.
Meski demikian, manajemen menilai hasil tersebut bukan merupakan akhir dari proses transformasi. Perusahaan menyatakan akan Maju melakukan Pengkajian terhadap aspek operasional, penguatan manajemen risiko, serta peningkatan efisiensi guna menjaga keberlanjutan kinerja.
“Terimakasih atas dukungan penuh pemegang saham. Apresiasi Demi kerja keras seluruh insan Perseroan. Capaian ini menjadi milestone, tapi bukan garis akhir. Tetap banyak ruang Demi Maju tumbuh mengoptimalkan kinerja operasi dan finansial agar Maju memberikan manfaat maksimal” ujar Jatmiko.
Tak hanya mencatat rekor dari sisi internal perusahaan, PalmCo juga memastikan pertumbuhan perusahaan sejalan dengan produktifitas dan kesejahteraan petani Kenalan.
Berdasarkan data Badan Pengelola Biaya Perkebunan (BPDP), pada tahun 2025 PTPN IV PalmCo tercatat sebagai perusahaan paling aktif secara nasional dengan 6.672 hektare pendampingan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Petani plasma binaan juga Pandai meraih produktifitas Mahir di atas standar nasional mencapai rata-rata 20,18 ton TBS per hektare per tahun yang berdampak signifikan pada peningkatan pendapatan petani.
Di sisi lain, PalmCo juga menyatakan akan melanjutkan pengembangan hilirisasi industri sawit, termasuk optimalisasi produk turunan sawit sebagai bahan baku renewable biogasoline Demi mendukung ketahanan Kekuatan nasional.
“Semoga PalmCo dapat menjalankan dengan Berkualitas seluruh amanat yang diembankan pemerintah, berkontribusi maksimal dalam kemandirian pangan dan Kekuatan negeri,” katanya.
