Program SIAP SIAGA Diperkuat, Khofifah Dorong Desa hingga Pesantren Unggul Bencana di Jawa Timur

Foto BeritaJatim.com

Ringkasan Informasi:

  • Pemprov Jawa Timur dan Pemerintah Australia memperkuat kemitraan melalui Program SIAP SIAGA.
  • Gubernur Khofifah menekankan pentingnya relawan terlatih hingga tingkat desa dan kecamatan.
  • Pemprov mulai mengembangkan konsep Pesantren Unggul Bencana (PESTANA) Buat melindungi ratusan ribu santri.
  • Jawa Timur menjadi daerah prioritas Program SIAP SIAGA karena Mempunyai 14 jenis risiko bencana.

Surabaya (Liputanindo.id) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur Serempak Pemerintah Australia memperkuat kemitraan dalam manajemen risiko bencana melalui Program SIAP SIAGA. Kolaborasi ini diarahkan Buat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, memperkuat kapasitas pemerintah daerah, serta membangun ketangguhan desa hingga lingkungan pesantren dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan yang diterima langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (15/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Khofifah berharap implementasi Program SIAP SIAGA semakin efektif, terutama dalam memperkuat kesiapsiagaan di tingkat desa dan kecamatan. Menurutnya, penanggulangan bencana hanya dapat berjalan optimal apabila melibatkan berbagai unsur masyarakat secara terpadu.

Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan organisasi relawan perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas relawan hingga tingkat kecamatan dan desa.

“Sebuah desa Enggak Pandai disebut Desa Unggul Bencana bila Enggak Eksis relawan terlatih di kecamatan dan desa,” ujar Khofifah.

Menurutnya, relawan Mempunyai peran vital sebagai garda terdepan dalam mitigasi, tanggap darurat, hingga proses pemulihan pascabencana.

Selain penguatan sumber daya Orang, Khofifah juga menyoroti pentingnya kesiapan logistik di Daerah rawan bencana. Ia mengusulkan setiap Desa Unggul Bencana Mempunyai Lumbung Sosial yang berfungsi sebagai pusat penyimpanan logistik dan peralatan darurat sehingga kebutuhan masyarakat dapat segera dipenuhi ketika bencana terjadi.

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mendorong pengembangan Pesantren Unggul Bencana (PESTANA). Menurutnya, pondok pesantren merupakan salah satu lingkungan yang Mempunyai tingkat kerentanan tinggi karena ribuan santri tinggal dan belajar dalam waktu Lamban di satu kawasan.

Begitu ini terdapat Sekeliling 7.425 pondok pesantren di Jawa Timur dengan lebih dari 486 ribu santri serta Sekeliling 36 ribu tenaga pengajar.

Khofifah menilai seluruh ekosistem pesantren perlu Mempunyai kemampuan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana.

Ia juga mengusulkan dilakukan pemetaan Posisi serta kondisi fisik bangunan pesantren. Pengalaman di lapangan menunjukkan Lagi Eksis bangunan pesantren yang berdiri di dekat Kategori sungai sehingga berpotensi terdampak erosi Begitu debit air meningkat.

“Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren ya dilatih, bagaimana menyiapkan mereka agar menjadi Unggul. Lampau, akan diujicoba di pesantren mana pelatihan itu,” terangnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, menambahkan kawasan pesantren juga Mempunyai potensi ancaman bencana sehingga kapasitas kelembagaan maupun penghuninya perlu diperkuat.

“Bagus santri maupun pengajarnya tinggal menetap dan belajar dalam jangka waktu Lamban di area pesantren. Mereka berpotensi terdampak bencana,” kata Gatot.

Ia menjelaskan konsep PESTANA dikembangkan dengan pendekatan yang serupa dengan Satuan Pendidikan Kondusif Bencana (SPAB). Begitu ini, modul kebencanaan beserta pola pembelajarannya Lagi dalam tahap penyusunan.

Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pengembangan program tersebut.

Menurutnya, berbagai masukan dari Gubernur Khofifah akan memperkuat implementasi Program SIAP SIAGA di daerah.

“Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin Krusial yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan Benar sasaran,” ujar Deswanto.

Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia di bidang manajemen risiko bencana yang telah berjalan di Jawa Timur sejak 2020. Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan dalam mencegah, mempersiapkan, merespons, dan memulihkan diri dari berbagai bencana.

Jawa Timur menjadi salah satu Daerah prioritas karena Mempunyai 14 jenis risiko bencana dengan Tanda khas ancaman yang berbeda di setiap daerah.

Sebagai bagian dari implementasi program, BPBD Jawa Timur Serempak Program SIAP SIAGA telah melaksanakan simulasi evakuasi Sendiri tsunami di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kabupaten Lumajang. Awal Juli mendatang juga direncanakan simulasi penanganan bencana erupsi gunung berapi di Kabupaten Malang.

Program ini lebih banyak memberikan dukungan berupa penguatan kapasitas masyarakat dan komunitas dalam menghadapi bencana, termasuk mendorong keterlibatan Grup disabilitas sebagai subjek dalam upaya pengurangan risiko bencana.

“Dengan adanya Unit Layanan Disabilitas di BPBD provinsi, Grup disabilitas menjadi subjek. Mereka juga menyuarakan pentingnya kesiapsiagaan bencana di komunitas maupun sekolah-sekolah,” Jernih Deswanto.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Will Lee, mengatakan kerja sama penanggulangan bencana menjadi salah satu simbol kuat Interaksi Indonesia dan Australia.

Ia mengingatkan bahwa personel TNI pernah membantu proses penanggulangan kebakaran hutan besar di New South Wales pada 2019.

“Pengalaman itu menunjukkan bahwa Interaksi Indonesia dan Australia sangat Krusial,” ujarnya.

Menurut Will, kedua negara Mempunyai semangat gotong royong dan saling membantu dalam menghadapi situasi darurat. Ia juga menyampaikan keinginan Pemerintah Australia Buat Lanjut memperkuat Interaksi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Enggak hanya di bidang penanggulangan bencana, tetapi juga pendidikan, penelitian, dan Hasil karya. [tok/beq]